Trending Topic
Menyasar Anak-Anak?

12 Jan 2015


Potret Aldi, si bocah 2 tahun itu, yang ketika merokok di teras rumahnya  disaksikan oleh ayah dan ibunya, tentu membuat kita prihatin. Begitu juga dengan Dihan, bocah Garut yang merokok di sofanya. Anak sesungguhnya tak mengerti tentang bahaya yang mengancamnya. Tentu kesalahan sepenuhnya ada di tangan orang tuanya. Mengapa bisa membiarkan hal itu terjadi?

Faktanya, masih banyak Aldi atau Dihan-Dihan yang lain di Indonesia. Dalam sehari, setidaknya ada sejumlah 3.000 anak mengisap rokok pertama mereka.  Menurut dr. Triwibowo Ginting dari Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta, problem ini berkaitan dengan cara pandang orang tua terhadap rokok. Ini menjadi penyebab mengapa anak merokok.

Pertama, karena contoh dari orang tuanya. Kedua, mereka mencari panutan. Ketika mereka melihat orang-orang dewasa lain di sekitar mereka banyak yang merokok, maka rokok adalah hal yang familiar. Ketiga, mereka melihat peer group-nya. Mereka tak kuasa menolak ajakan merokok dari temannya. Bukan hal yang aneh lagi melihat pemandangan segerombol anak SMA merokok bareng. Bahkan, sekarang bukan hanya anak SMA, tapi juga usia SMP dan SD! Keempat, mereka biasanya merokok sebagai aksi untuk menentang otoritas. Makin dilarang, mereka makin ingin tahu. Kelima, merokok karena dalam kondisi yang negatif. Misalnya, sedih dan pola hubungan dalam  keluarga tidak harmonis. Kondisi negatif itu membuat mereka mencari pelarian ke rokok. Keenam, bermula dari coba-coba, atau experimental user. “Karena ada efek nikotin sebagai zat adiktif, kebiasaan itu kemudian berulang dan mereka tidak bisa berhenti merokok,” ujar dr. Tri.

Faktor lain yang juga turut menyumbang naiknya jumlah perokok pemula adalah iklan. Begitu masifnya produsen rokok ini beriklan  di televisi, baliho, spanduk, dan juga mensponsori berbagai acara, mulai dari olahraga, pentas seni (pensi) di sekolah, konser musik, film, aktivitas pendidikan, hingga (yang ironis) kegiatan keagamaan. Mereka seolah menutup mata bahwa sasaran yang terpapar dari iklan tersebut bukan hanya mereka yang berusia di atas 18 tahun, tapi juga anak usia sekolah.  

Pada tahun 2013, Komnas Anak melakukan survei untuk mencari tahu pengaruh iklan terhadap ketertarikan anak pada rokok. Survei dilakukan terhadap 10.000 anak (usia 10-14 tahun) dari 10 kota di Indonesia, yaitu Medan, Padang, Lampung, Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Palu, dan Mataram. Hasil survei menunjukkan, anak-anak terpapar iklan rokok antara lain lewat media televisi (92%), diikuti oleh media luar ruang, yaitu spanduk (50%), iklan di warung/ toko (38%), koran dan majalah (25%), konser musik (17%), internet (16%), olahraga (6%), dan radio (5%).

Dari survei ini ditemukan pula, sebanyak 15% responden mengaku tertarik membeli rokok setelah melihat iklan rokok. Sebanyak 9% tertarik mencoba merokok, dan 3% mengaku tertarik membeli rokok setelah mengikuti acara yang disponsori perusahaan rokok.

Ficky Yusrini




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?