Di sepanjang tahun 2015, Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia dipenuhi oleh berbagai macam perhelatan berkelas internasional. Sebutlah festival musik, film, dan buku yang meriah dengan tokoh-tokoh populernya yang datang dari seluruh dunia, sampai dengan konferensi-konferensi politik dan ekonomi yang dihadiri oleh para kepala negara. Peminat tidak hanya bisa menghadiri, menonton, atau memantau perkembangan acara-acara ini lewat media sosial, tapi juga bisa mengikutinya dengan berpartisipasi langsung sebagai panitia. Ingin belajar berorganisasi, menambah jejaring, bekerja dengan penyanyi atau penulis favorit, mengisi liburan dengan hal yang bermanfaat, atau sekadar mengisi waktu luang, semuanya menjadi motivasi bagi kaum muda masa kini untuk menyumbangkan waktu dan tenaganya secara sukarela.
Agenda acara Indonesia yang makin bergairah ini memang disambut dengan antusiasme tinggi oleh kalangan urban, sebagai penonton sekaligus partisipan. Motivasi orang untuk menjadi partisipan tentu beragam. Misalnya, menurut Lenni Tedja, Direktur Jakarta Fashion Week (JFW), makin banyak pencinta fashion yang ingin berpartisipasi dalam penyelenggaraan pekan mode tahunan itu karena reputasi dan pamor acara yang makin meningkat. “Bisa terlibat langsung di acara bertaraf internasional, selain terlihat bagus di CV, juga terlihat bergengsi dalam pergaulan,” kata Lenni, yang tiap tahun menerima ratusan pelamar.
Tentunya ada motivasi lain yang lebih signifikan dari sekadar gengsi, yang membuat seseorang mau meluangkan waktu dan tenaganya yang berharga untuk acara tertentu. Misalnya, mencari pengalaman berorganisasi dan membangun jejaring internasional. Rupanya, bagi banyak orang Indonesia yang menjadi volunteer, menjalin jejaring baru adalah motivasi yang penting.
Seperti yang diungkapkan Ochie Chandra DeMeulenaere. Selama 5 tahun menjadi Volunteer Coordinator Ubud Writers & Readers Festival di Bali, ia melihat kesamaan tiap tahunnya. “Volunteer kami yang orang Indonesia kebanyakan ingin mencari teman baru. Begitu acara selesai, kebanyakan dari mereka masih terus berhubungan, bahkan sering reunian atau arisan!” kata Ochie.
Sementara Arief Aziz, yang tahun 2010 menggagas TEDx Jakarta, sebuah platform ide dan kreativitas, melihat beberapa motivasi lain di kalangan para volunteer di Indonesia, termasuk dirinya sendiri. Selain tim inti, acara-acara TEDx Jakarta, seperti acara-acara TEDx di kota dan negara lain, memang kebanyakan mengandalkan tenaga sukarela. Menurut Arief, sebagian besar dari mereka ingin mengisi waktu luangnya di sela-sela kesibukan yang makin menggila dengan kegiatan yang produktif dan berarti.
Motivasi lain berkegiatan sukarela adalah untuk belajar dan berbagi ilmu. Melalui Akademi Berbagi, Ainun Chomsun juga bergerak dengan banyak volunteer Indonesia. Gerakan yang ia gagas 5 tahun lalu ini mencari individu-individu yang bersedia menjadi pengajar untuk topik-topik tertentu. “Saya melihat sendiri, sejak gerakan ini dimulai ada ratusan orang dari seluruh Indonesia yang menyumbangkan waktu dan tenaganya, semata untuk belajar dan berbagi ilmu dengan banyak orang. Ini bisa terjadi di zaman yang katanya materi adalah ukuran segalanya,” ujarnya, optimistis dan kagum. (f)


