Trending Topic
Menikmati Macet? Bisa!

23 Jun 2015

Menurut psikolog Monty Satiadarma, ketika kita tidak mampu mengubah situasi lingkungan di sekitar kita, maka satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Kuncinya ada pada kata acceptance, atau sikap menerima. Frustrasi dan rendahnya toleransi yang menimbulkan kemarahan tidak bisa memecahkan kebuntuan kemacetan lalu lintas.

“Kesadaran bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat yang secara bersama harus menghadapi kondisi yang tidak sesuai harapan, merupakan sikap yang harus dimiliki. Selanjutnya, nikmati saja!” ungkap Monty.

Pertanyaannya, mungkinkah menikmati kondisi yang menyebalkan? Selain penerimaan, jawaban lain ada pada kemampuan  tiap orang dalam menyugesti diri, dengan menciptakan ‘surganya’ sendiri.

Ada 1001 cara menikmati kemacetan. Mulai dari yang standar dan tak perlu banyak berpikir, seperti tidur, sampai yang lucu, unik, dan kreatif.  Ada yang memakai waktu kemacetan ini untuk membuat survei lucu-lucuan dengan mengamati hal-hal unik di sekitarnya. Kemudian mengunggah hasil survei ini ke media sosial untuk panen komentar. Dipastikan, ke depannya, kekesalan urusan macet ini langsung teralihkan oleh panen komentar menghibur yang masuk ke akunnya.

Beragam gadget canggih plus teknologi informasi memang berkontribusi dalam membantu orang keluar dari jebakan situasi yang tidak mengenakkan, serupa kemacetan Jakarta.  Sekilas, bermain gadget sebagai pengalih perhatian di tengah kemacetan memang tampak sebagai solusi yang menghibur. Tapi, apabila penggunaannya tidak bijak, hal ini justru dapat merugikan Anda sendiri, bahkan membahayakan orang lain. Sebab, rata-rata permainan justru menuntut fokus Anda dan meningkatkan aliran adrenalin yang membuat Anda makin tegang.

Bersamaan dengan itu, secara tidak Anda sadari, otot mata menegang dan menimbulkan kelelahan atau fatigue. Belum lagi soal radiasi cahaya dan gelombang elektro magnetiknya yang berpengaruh pada fungsi kinerja organ dalam tubuh. Di sisi lain, bermain gadget secara tidak sadar akan mengaktifkan fungsi kerja kognitif kita. Risikonya adalah kecelakaan akibat hilangnya konsentrasi sesaat atau kelelahan.

“Kunci dari sugesti diri yang amat penting adalah rasa tanggung jawab. Jangan sampai dalam rangka memperoleh pengalihan atau hiburan, seseorang membahayakan nyawa orang lain,” tegas psikolog Monty Satiadarma, mengingat tidak sedikit  angka kecelakaan yang disebabkan oleh pengendara yang sibuk dengan gadget-nya.





 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?