Pertumbuhan konten negatif di internet sangat tinggi. Tiap menit, ada 30.000 halaman pornografi baru yang muncul! Saat ditanya mengapa mengakses laman pornografi, 80% anak menjawab tidak sengaja mengklik halaman yang terhubung dengan konten pornografi.Sementara itu data Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia mencatat ada 27 kasus penculikan anak yang diawali dengan perkenalan di Facebook. Satu dari 27 korban tersebut ditemukan tewas.
Perkembangan kasus pedofilia online di Surabaya yang terjadi di akhir tahun 2013 lalu cukup mengejutkan. Maret lalu, pelakunya tertangkap. Profilnya membuat masyarakat bergidik. Tersangka yang merupakan pria berusia 37 ini berprofesi sebagai dokter gigi dan dosen!
Anda mungkin bisa bertemu tersangka dalam keseharian yang normal. Namun, siapa mengira, tersangka dengan buas mengincar anak-anak sebagai mangsa seksualnya di dunia maya.
“Tahun 2010, kasus kekerasan seksual online pada anak mulai banyak bermunculan. Ini baru yang ketahuan dan jadi perhatian di media massa. Masih banyak lagi di luar sana korban yang tidak melapor karena merasa malu dan depresi,” papar Donny Budi Utoyo, Direktur Eksekutif ICT Watch dan penggiat Internet Sehat yang turut mendampingi ibu salah satu korban dalam proses penyidikan kasus pedofilia online di Surabaya.
Seolah belum cukup, di waktu berdekatan, masyarakat kembali dikagetkan dengan kasus kekerasan seksual di salah satu sekolah internasional ternama di Jakarta. Menurut Donny, meski ranahnya berbeda, sebetulnya modus operandi pelaku kekerasan seksual ini serupa. Pelaku akan mengiming-imingi korban dengan tawaran menarik, bisa berupa benda atau tawaran konsultasi kesehatan seperti dalam kasus di Surabaya.
Demi menghindari hal ini, orang tua wajib memberi tahu bahwa ada dua hal yang tak bisa ditawar lagi dalam pergaulan anak. “Jangan meladeni orang asing bicara dan tanamkan kesadaran tentang alat reproduksi anak agar mereka bisa segera mencurigai jika ada permintaan yang tidak pantas, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun di dunia maya,” Donny menambahkan.
Rahma Wulandari
Foto:Internet Sehat-www.internetsehat.org


