Career
Mengapa Harus Takut

1 Jul 2013


Sebelum sempat sampai ke puncak, faktanya, satu per satu wanita berguguran di dunia kerja. Hal inilah yang disadari oleh COO Facebook, Sheryl Sandberg. Lewat bukunya, Lean In: Women Work and The Will to Lead, ia ingin menginspirasi wanita di dunia kerja untuk terus mengejar mimpi mereka. Berikut ini adalah 9 advis karier berharga dari Sheryl, yang disarikan dari buku tersebut.  

Ambisi Itu Perlu

“Andai tak ada yang perlu dicemaskan, apa yang ingin Anda lakukan?”


Bukan rahasia lagi, ada kesenjangan tinggi antara jumlah pria dan wanita yang menduduki posisi puncak karier. Sedikit sekali wanita yang menjadi pucuk pimpinan. Menurut Sheryl, selain faktor hambatan dari luar, seperti diskriminasi, faktor terbesar yang menjadi penyebab kondisi ini adalah adanya hambatan internal, yaitu gap ambisi untuk menjadi pemimpin.

Hal ini sudah dibuktikan dari survei global yang dilakukan Mckinsey Company pada tahun 2012. Dari 4.000 karyawan yang diwawancara, lebih dari 36% pria ingin menjadi pimpinan perusahaan. Wanita? Ternyata, yang bercita-cita menjadi pimpinan hanya 18% saja.  Di antara para profesional, lebih banyak pria yang menggambarkan diri mereka ambisius. Sebaliknya, kata ambisius, justru terkesan negatif untuk wanita.

Sejak lahir, pria dan wanita sudah dibesarkan dengan cara yang berbeda. Ada nilai-nilai tak tertulis yang mengatakan, wanita tidak boleh agresif, tak boleh lebih berkuasa dari pria. Anak perempuan diidentikkan dengan cantik, lemah lembut, dan keibuan, sedangkan anak lelaki dipacu untuk percaya diri dan ambisius. Stereotip yang seharusnya sudah usang ini, ternyata masih ada dan menjadi salah satu penghambat terbesar karier wanita yang justru sumbernya berasal dari dalam dirinya.   
        
“Ketika saya masuk kuliah tahun 1987, masing-masing mahasiswa laki-laki dan  perempuan fokus pada akademis. Kami berkompetisi secara terbuka. Tetapi, 20 tahun kemudian, ketika kami masuk ke dunia kerja, nyatanya kondisinya tidak seperti yang saya bayangkan,” ungkap Sheryl, menyayangkan. Sheryl mendapati kenyataan, banyak teman wanitanya semasa kuliah kini tak lagi berkarier.

Ketakutan menjadi masalah yang dihadapi wanita. Banyak yang dicemaskan, takut tidak disukai, takut salah membuat pilihan, takut mendapat sorotan negatif, takut melampaui batas, takut dihakimi, takut gagal, dan sebagainya. Dan, ketakutan terbesar adalah perasaan tak bisa menjadi ibu, istri, dan anak perempuan yang berbakti. “Wanita harus menghentikan segala ketakutan yang sesungguhnya tidak perlu itu. Tanpa didera ketakutan itu, niscaya wanita akan lebih leluasa meraih sukses profesional dan kepuasan pribadi,” ujar Sheryl. 

Ambil Kesempatan

“Kita harus mengambil kesempatan selagi kesempatan itu datang.”


Tak sedikit wanita enggan mengambil tempat duduk di depan dalam suatu forum atau rapat. Sebaliknya, mereka lebih memilih menjadi penonton dari tepi saja. Fenomena ini disebut juga impostor syndrome, menganggap underestimate dirinya.
Buktinya, jika kita bertanya pada seorang pria tentang rahasia kesuksesannya, dia akan bercerita tentang keunggulan dirinya. Namun, jika hal ini kita tanyakan kepada wanita sukses, maka biasanya dia akan menjawab lebih ke faktor dari luar dirinya, faktor keberuntungan, atau karena dibantu orang yang tepat.
Karena itu, tidak bisa tidak, wanita memang perlu meningkatkan rasa percaya diri. Kepercayaan diri itu penting untuk bisa menangkap kesempatan. Ada kecenderungan, wanita enggan menjawab kesempatan karena mereka lebih berhati-hati dalam mengubah peran dan mencari tantangan baru.

Siap Tidak Disukai

“Ketika seorang pria sukses, disukai oleh pria maupun wanita. Lain halnya ketika wanita yang sukses, tingkat likability-nya lebih rendah daripada pria sukses.”

 
Ketika seorang wanita menonjol di pekerjaannya, yang terdengar justru komentar-komentar bernada sentimen. Semacam, “Dia kan  memang agresif, bukan team player, tidak bisa dipercaya, atau orang yang sulit. Semua itu adalah kata-kata yang pernah disampaikan orang tentang saya,” kenang Sheryl. 
Masalah pembedaan attitude berdasarkan gender ini memang nyata terjadi. Mereka yang ingin sukses, sudah harus siap dengan segala konsekuensinya, dan sadar dengan harga yang harus mereka bayar. Dimulai dari diri kita, dengan menunjukkan standar yang sama, kita bisa mulai mengubah stereotype attitude itu.
Wanita yang mati-matian berkorban untuk tetap disukai, tidak akan bisa maju. “Kalau mau membuat perubahan, kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kalau tujuannya ingin menyenangkan semua orang, itu berarti kamu tidak membuat kemajuan,” tutur Sheryl,   mengutip saran yang didapat dari Mark Zuckerberg. Lebih lanjut ia menambahkan, kemampuan untuk bertahan terhadap kritik penting dimiliki.


Jujur pada Diri Sendiri

“Banyak orang menganggap, kehidupan profesional harus dipisahkan dari kehidupan pribadi karena takut akan memengaruhi performa. Padahal kenyataannya memang demikian.”


Bersikap jujur tentang kehidupan pribadi di dunia kerja sangatlah sulit. Tak semua orang bisa menerima. Begitu pula, tak semua teman kerja atau klien murah hati dan peduli pada kehidupan pribadi kita. Akan tetapi, Sheryl memberi saran bahwa kejujuran itu lebih baik daripada menutupinya hanya demi ‘menjaga image’. 

Dilema ini ia hadapi ketika ia menolak tawaran dosennya, Larry Summers, yang memintanya bergabung dengan Department Treasury, di Washington DC, di awal kariernya. Saat itu, ia mengatakan, tak bisa menerima posisi yang ditawarkan, karena ia baru saja bercerai dan ingin memulai hidup baru di kota yang berbeda dengan domisili mantan suami. Sikap jujurnya ini membuatnya tidak gengsi ketika ia kembali menanyakan kepada Larry apakah tawarannya tersebut masih berlaku.

Menangis di dunia kerja karena masalah pribadi  bukanlah hal memalukan untuk dilakukan. Karena, itu adalah bentuk ekspresi emosi yang manusiawi. Sensitivitas untuk bisa mengenali segala emosi dan kesediaan untuk mendiskusikannya bisa menjadi modal yang akan membuat kita menjadi seorang pemimpin yang baik.

Kejujuran ini juga berlaku dalam hal menerima kritik. Kita harus siap dengan kejujuran orang lain tentang diri kita. Keterbukaan itu membawa konsekuensi, kita harus siap bertanggung jawab pada kesalahan. Mengetahui fakta yang menyakitkan tentang diri kita  akan lebih baik  daripada kita tidak tahu dan memilih untuk mengabaikannya.(Ficky Yusrini)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?