Setahun lalu, keputusan saya bercerai dan melepaskan jilbab mengejutkan publik. Tak dipungkiri, pasti banyak yang menyayangkan dan bahkan mencela keputusan saya ini. Bagaimanapun, saya menilai hal ini adalah sesuatu yang wajar. Tiap orang, tak terkecuali saya, bisa menghadapi badai konflik dalam hidupnya. Hanya, karena saya seorang public figure, ekspektasi orang bisa jadi melampaui apa yang bisa saya berikan.Bisa saja saya membangun image positif tentang diri saya, seperti banyak yang dilakukan public figure lain pada umumnya. Saya tak menyalahkan atau membenarkan hal itu. Namun, saya merasa sikap seperti itu tak jujur pada diri sendiri. Bagi saya, jujur pada diri sendiri itu sangat penting. Itu prinsip hidup saya. Karena, jika tak bisa jujur pada diri sendiri, bagaimana bisa dihargai oleh diri sendiri? Tidak dihargai orang lain saja menyakitkan, apalagi oleh diri sendiri. Saya pernah tak jujur dan ternyata itu amat menyiksa diri.
Saya sadar, banyak orang mungkin kecewa mengetahui bahwa kehidupan saya tak sesempurna bayangan mereka. Saya sudah memikirkan konsekuensinya ketika nekat mengunggah video saya ke Youtube beberapa tahun lalu.
Saya tak menyesal dengan bersikap terbuka, jujur pada diri sendiri, pada orang lain, tentang kesesakan yang saya rasakan saat itu. Mau diterima atau dilecehkan, itu jadi hal terakhir yang saya pikirkan. Mau kita jalani hidup baik-baik saja juga bisa saja kontroversial. Itu sebabnya, saya tak pernah takut kehilangan fans atau mereka yang dulunya mencintai saya berbalik jadi haters. Saya tak memiliki mereka. Mereka punya hak untuk mencintai karya saya ataupun membenci diri saya. Sama seperti saya yang juga punya hak untuk jujur pada diri saya dan pada orang lain.
Lihat saja, sosok Michael Jackson begitu dipuja, hingga ketika ia meninggal, dunia menangis untuknya. Mariah Carey, John Meyer, dan musikus besar lainnya menggelar konser hanya untuk mengenang kebaikan sang superstar.
Tapi, di balik nama besarnya yang luar biasa, Michael juga punya sisi gelap yang banyak ditunjukkan orang di internet lewat film dokumenter yang mereka buat. Jadi, tak ada orang yang benar-benar 100% putih atau 100% hitam. Hidup ini tak ada dan tak akan pernah sempurna. Bagai yin and yang. Ada hal yang baik sekaligus buruk dalam diri seseorang. Itu adalah absolut dan semua orang juga tahu.
Dalam ketidaksempurnaan itu justru saya mengenal diri sendiri. Saya menemukan bahwa diri saya ternyata tangguh dalam menghadapi cobaan berat. Saya bisa mengelola emosi dengan tidak marah-marah di depan banyak orang atau saat sedang di lokasi syuting. Saya bisa menyelesaikan kuliah saya. Saya belajar bahwa untuk bisa bangkit dari keterpurukan adalah dengan cara menjalin komunikasi yang mesra dengan Sang Pencipta dan inner self. Tanpa kekokohan diri sendiri dan kasih Tuhan, tak mungkin bisa saya lewati masa-masa berat dalam hidup saya, meski ada banyak orang di sekeliling yang support dan cinta saya.
Saya merasa bersyukur diberi cobaan dan orang-orang yang mencintai saya. Terutama mama saya yang begitu luar biasa dalam mendukung kecintaan saya menjadi seniman. Sejak kelas 4 SD, saya selalu bilang: “Ma, Caca mau syuting iklan, mau bikin album, mau nyanyi.” Dan, Mama selalu dukung itu! Saya begitu mencintai seluruh proses dari apa yang saya kerjakan di dunia seni. Apa yang saya lakukan bukanlah pekerjaan, tapi sudah jadi napas hidup saya. Itu sebabnya, saya mencamkan untuk selalu bertanggung jawab jadi profesional, meski tengah dilanda persoalan pribadi. (f)


