Menurut Listyo Yuwanto, Kepala Laboratorium Psikologi Umum Universitas Surabaya, bermain games tak selamanya berdampak negatif, seperti lupa waktu hingga tak memedulikan sekitar karena kecanduan. Beberapa penelitian pun telah dilakukan untuk mencari manfaat dari bermain games. Salah satunya adalah penelitian berjudul Video Games and Spatial Cognition yang dilakukan Ian Spence dan Jing Feng (2010).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bermain video games memiliki dampak pada kemampuan otak atau kognitif yang berkaitan dengan spatial (daya bayang ruang), koordinasi visual motorik, pencarian berbagai macam objek, perhatian pada objek visual, serta kecepatan dalam pengenalan objek.
Penelitian lainnya yang berjudul The Effects of Prosocial Video Games on Prosocial Behaviors: International Evidence from Correlational, Longitudinal, and Experimental Studies yang dilakukan Dauglas A. Gentile dkk pada tahun 2009 menemukan fakta bahwa games yang dalam permainannya membantu orang lain, akan menstimulasi untuk melakukan perilaku menolong atau membantu orang lain dalam kehidupan nyata.
Penelitian tentang peranan games bagi lansia juga dilakukan oleh Fredric D. Wolinsky pada tahun 2013. Penelitian yang berjudul Randomized Controlled Trial of Cognitive Training Using a Visual Speed of Processing Intervention in Middle Aged and Older Adults ini menunjukkan bahwa bermain games dapat mencegah pengurangan kemampuan memproses objek visual pada lansia.
Sejalan dengan penelitian ini, Listyo menilai bahwa bermain games dalam taraf yang sewajarnya justru bisa memberikan manfaat lebih. Apalagi, games kini makin canggih dan banyak jenisnya.
Misalnya saja, games yang tidak bisa dimainkan sendirian dan harus bersama orang lain, akan melatih keterampilan sosial kita. Bagaimana menjalin relasi, mengikuti aturan, mengenal orang lain, cara berinteraksi, serta memahami orang lain. Selain itu, ada juga games jenis role playing, yaitu games bermain peran. Games ini bisa melatih kontrol diri untuk mengikuti aturan sesuai dengan peran yang dimainkan. Permainan jenis ini juga menambah pengetahuan seseorang tentang peran orang lain.
“Games aksi shooting seperti menembak target, membutuhkan koordinasi mata, tangan, kecepatan, dan timing. Games jenis ini secara tak langsung bisa mengasah kecepatan dan ketepatan kita dalam pengambilan keputusan. Sedangkan games petualangan yang memiliki alur cerita serta games puzzle, jelas-jelas membutuhkan kemampuan berpikir. Di sinilah analisis dan strategi kita dalam menyelesaikan masalah, ditantang. Tentunya, hal ini bisa membuat otak kita tetap aktif bekerja,” ungkap Listyo.
Meski banyak manfaat yang bisa didapat dari bermain games, Listyo tak memungkiri kesenangan yang dirasakan selama bermain games bisa mendorong seseorang untuk kecanduan. Tapi menurutnya, kecanduan atau tidaknya seseorang terhadap games tidak bergantung pada jenis games yang dimainkan, tapi lebih bergantung pada bagaimana individu tersebut mampu mengontrol penggunaan games dalam sisi waktu dan memanfaatkannya. Itu sebabnya, ada orang yang bermain games tapi tidak kecanduan, atau ada orang yang benar-benar kecanduan.
Kecanduan games berarti kecenderungan menggunakan games secara berlebihan, tidak dapat mengontrol penggunaannya, dan berdampak buruk bagi kehidupan seseorang. Salah satu ciri seseorang kecanduan games adalah ketika aktivitas bermain games menjadi aktivitas yang sangat penting sekaligus mendominasi pikiran, perasaan, dan perilakunya. Games juga dijadikan sebagai pelarian ketika timbul masalah. Selain itu, timbul perasaan yang tidak menyenangkan ketika tidak bermain games sehingga waktu bermain games terus ditambah dan pada akhirnya mengganggu konflik interpersonal, berkurangnya produktivitas, relasi sosial, akademis, dan area hidup yang lainnya.
Durasi waktu bermain games memiliki peranan penting dalam hal membuat orang kecanduan games. Durasi bermain games antara 5-6 jam sehari dianggap cukup panjang, namun selama tujuannya untuk menghilangkan stres atau mengisi waktu di perjalanan dan tidak mengganggu kehidupan seseorang, maka masih dapat ditoleransi. Namun, perlu berhati-hati, waktu bermain games yang terus bertambah bisa membawa seseorang menjadi berlebihan dalam bermain games hingga akhirnya kontrol dirinya berkurang.
Bermain games sebagai pelepasan stres, sah-sah saja. Namun, perlu juga mencoba variasi lain dalam pelepasan stres, misalnya menyalurkan hobi, berjalan-jalan, mendengarkan musik, atau menonton film. Selalu perhatikan kapan waktu bermain games, lakukan apabila ada waktu luang yang tidak mengganggu tugas atau relasi sosial.
Seimbangkan bermain games dengan aktivitas yang lain, misalnya menjalin relasi sosial dengan orang lain. Selain itu, pintar-pintarlah memilih games, karena beberapa games yang terlalu pasif, soliter, dan mengandung muatan seksual dan kekerasan tingkat tinggi, lebih mendorong seseorang untuk berperilaku menyimpang.
Faunda Liswijayanti


