Jakarta macet bukan menjadi fenomena baru. Apalagi di jam rush hour, seperti berangkat dan pulang kerja, sehari menjelang akhir pekan atau liburan long weekend, dan saat hujan. Bisa dipastikan jalan raya akan menjadi padat di semua ruasnya hingga tak ada lagi ruang tersisa. Bersamaan dengan itu, waktu yang tak mau kompromi menciptakan berbagai desakan kegelisahan lain yang membuat kepala dan hati makin panas, hingga ingin berteriak rasanya. Kalau tidak pintar-pintar mengelola emosi, bukan hanya fisik Anda yang akan terkuras, tapi keseimbangan jiwa Anda juga bisa diserang!
“Jakarta sedang menuju pada kondisi ‘gridlocked.’ Artinya, prediksi bahwa tahun 2014 - 2016 akan menjadi periode kemacetan terhebat akan terjadi,” ungkap Danang Parikesit, pimpinan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Kajian terkini dari MTI mengungkap bahwa kecepatan laju kendaraan di ibu kota saat ini hanya 5-10 km/jam, dengan hampir 60 persen di antaranya adalah waktu hambatan.
Parahnya lagi, kemacetan lalu lintas di perkotaan ini bisa menimbulkan dampak psikofisik yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang dipaparkan oleh Monty Satiadarma, dosen di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara. Hal ini terutama disebabkan oleh polusi yang dihasilkan dari gas buangan kendaraan bermotor di jalan raya.
“Gas bakar, karbondioksida, memiliki dampak negatif bagi kesehatan terutama fungsi pernapasan, dan mengganggu fungsi kognitif atau nalar. Jika napas terganggu, metabolisme tubuh pun terganggu, kandungan racun di dalam darah meningkat dan memengaruhi seluruh fungsi psikofisik,” jelasnya.
Tidak hanya itu, menurutnya, polusi suara yang dihasilkan dari deru kendaraan bermotor serta klakson dapat mengganggu konsentrasi pengendara. Apabila hal ini berlangsung dalam jangka waktu relatif panjang, maka akan menimbulkan gangguan konsentrasi dan menimbulkan kelelahan.
Bayangkan saja, dalam kondisi macet seorang pengendara harus berkonsentrasi penuh memperhatikan jarak kendaraan satu dengan lain, menggunakan fungsi pandang ruang (spatial), serta respons antisipatif yang secara simultan harus berfungsi ganda dengan indra pendengar. Belum lagi fungsi kerja motorik, seperti memegang kemudi dan mengendalikan persneling. Menurutnya, seorang individu dapat mempertahankan konsentrasi dalam waktu panjang jika lingkungan tidak menimbulkan stres. Tapi, kelelahan akan menurunkan derajat toleransi dan menggugah rasa frustrasi dan selanjutnya kemarahan.
“Ketika fungsi kognitif atau nalar tidak berfungsi optimal, solusi kemarahan dapat terarah ke hal-hal yang bersifat destruktif,” lanjut mantan Rektor Universitas Tarumanagara ini. Meskipun ruang kendaraan dilengkapi dengan AC untuk mengalirkan udara sejuk, tidak berarti membuat Anda relaks. Sebaliknya, berada dalam ruang ber-AC dalam waktu lama akan menimbulkan stres terhadap fungsi kognitif, serta ketegangan otot yang menambah beban psikofisik.
“Selanjutnya, kondisi ini akan menghasilkan dampak sama, yaitu stres, frustrasi, marah, dan besar kemudian munculnya sensitivitas yang berlebihan sehingga membangkitkan tindakan destruktif,” jelas Monty lagi. Jadi, jangan heran jika gesekan-gesekan kecil di jalan dapat membuat orang adu mulut dan adu pukul! (f)


