M. Aan Mansyur/ Gagas Media“Masa lalu, bagiku hanyalah masa depan yang pergi sementara,” ungkap Jiwa. Banyak nama wanita yang datang dalam kehidupan pria berpembawaan tidak tetap hati itu. Tetapi, hanya Nanti yang sanggup membuat Jiwa selalu kembali.
Penantian dan kesetiaan menjadi tema utama dalam fiksi yang tiap kalimatnya bagai puisi ini. Seperti ketika ibu Jiwa yang memilih tidak menikah lagi sejak kepergian ayahnya. Atau neneknya yang lebih suka membiarkan peraduannya separuh kosong daripada mesti menikah lagi. Seperti itu juga Jiwa berjanji untuk setia kepada Nanti. "Jika saja orang-orang mau lebih keras membuat diri mereka nyaman dengan kesendirian, jika orang-orang mau berdamai dengan kesepian mereka, aku percaya dunia ini akan menjadi lebih baik." (f)


