Trending Topic
Konsekuensi Panjang menjadi Orang Tua

10 Aug 2015


Yuk, bernostalgia sejenak. Ketika memutuskan menikah dan kemudian memiliki anak, terbayangkah ‘keribetan’ yang akan Anda alami sebagai orang tua? Kehadiran anak memang memberi kebahagiaan yang tak terkira sehingga hampir semua pasangan menikah menginginkan hadirnya buah cinta. Namun, hadirnya anak juga akan membawa konsekuensi-konsekuensi lain. Mereka juga mengubah kebiasaan Anda dan suami dalam banyak hal.

Tidak sebatas mempersiapkan dana untuk kebutuhan hidup anak beserta fasilitas yang menyertainya, tetapi juga menyiapkan energi, pikiran, juga emosi untuk asih-asah-asuh anak. “Mengasihi artinya memberi cinta dan perhatian, mengasah anak termasuk memberikan segala bentuk stimulasi untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dan meningkatkan kecerdasannya. Sedangkan mengasuh anak itu mencakup pemenuhan kebutuhan harian, seperti sandang, pangan, dan papan,” ungkap Anna Surti Ariani, psikolog keluarga dan anak Klinik Terpadu UI.  

Berderet ‘tugas’ itu tentu butuh energi besar untuk melaksanakannya. Meski dibilang, kasih orang tua itu sepanjang jalan, toh, energi dan emosi akan terasa kian terkuras ketika anak sakit, rewel tanpa alasan yang jelas, atau menemaninya belajar. 

Dan, ini bagian yang lebih ‘seru’: peran sebagai orang tua ini ternyata berlangsung seumur hidup, bertanggung jawab selama puluhan tahun, tidak hanya 10-20 tahun ke depan. “Bahkan dalam budaya di Indonesia, ketika anak sudah menikah pun, orang tua masih ikut bertanggung jawab, misalnya membiayai sekolah atau mengasuh cucunya karena  anak dan menantunya bekerja. Ini adalah komitmen jangka panjang dan tidak bisa main-main,” tambah Nina.

Dengan segunung komitmen, bukan berarti jadi ada alasan bagi orang tua untuk menyerahkan tugas pengasuhan anak sepenuhnya kepada yang lebih ‘ahli’, seperti ke pengasuh, atau orang tua dan mertua. Tetapi, pada kenyataannya, masih ada orang tua yang tidak cukup telaten menjalani peran mereka sebagai ayah dan ibu. Bahkan, ada orang tua yang secara sadar menelantarkan anak-anaknya begitu saja, entah karena tidak mau, tidak siap, atau tidak merasa sanggup menjalani peran tersebut.  

Tantangan sebagai orang tua  makin bervariasi dan besar, seiring dengan pertumbuhan anak. Dan salah satu yang terbesar adalah bagaimana menangani emosi diri sendiri agar tidak ‘kelepasan’ ketika mengasuh anak, sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak.  Menanggapi hal ini, Nina sepakat bahwa salah satu penyebab berbagai bentuk kekerasan terhadap anak adalah ketidaksiapan orang dewasa menjadi orang tua. “Bagaimanapun ketika menjadi orangtua, maka ia harus mengorbankan beberapa kesenangannya demi anak-anaknya,” tegas Nina.  


Rully Larasati




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?