Trending Topic
Komunitas Peduli Fasum

15 Dec 2015

Di tengah kondisi masih rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kepentingan untuk menjaga fasilitas umum, ada komunitas-komunitas yang bergerak untuk kepentingan bersama ini. Meski, hanya diakui, jumlah yang peduli ini masih segelintir.  

Salah satunya adalah komunitas sampah visual di Yogyakarta yang didirikan oleh Sumbo Tinarbuko. Komunitas ini bergerak untuk membersihkan sampah visual yaitu berupa iklan yang dipasang, ditancap, direntang, digantung, atau ditempel di seluruh area ruang publik namun penempatannya tidak sesuai dengan aturan. Komunitas yang berdiri sejak tahun 2012 ini memulai gerakannya setelah Sumbo membuat akun media sosial atas nama Sampah Visual. Visinya adalah mengembalikan ruang publik sebagai milik publik, tidak diprivatisasi menjadi merek dagang, parpol, dan peserta pilkada.

Komunitas lainnya yang juga bergerak demi menjaga fasilitas umum adalah komunitas Culindra. Komunitas yang dipelopori oleh Shitta Natashia ini terbentuk pada tahun 2011 sebagai gerakan untuk mengaktivasi taman Kota Bandung. Awalnya, Shitta bersama dengan 9 orang teman sesama penyuka olahraga bersepeda merasa tergugah saat menemukan kenyataan banyak  taman di Kota Bandung yang tidak terawat, gelap, dan tidak nyaman.

Tergerak oleh kondisi tersebut, komunitas ini mulai mencari cara untuk ’menghidupkan’ taman kota dengan membuat berbagai kegiatan  menarik. ”Taman yang kami garap pertama kali adalah Taman Ganesha. Di tahun 2012, taman itu kotor, gelap, kumuh, dan riskan banjir. Kami sengaja membuat acara di musim hujan supaya orang tahu bahwa banjir bisa diatasi dengan membuat lubang biopori di taman,” cerita Shitta.

Lain halnya dengan Global Peace Foundation Indonesia (GPFI). Global Peace Foundation (GPF) adalah NGO yang memiliki pusat di Maryland, Amerika Serikat. Secara internasional, GPF berdiri pada tahun 2009, tapi di Indonesia baru resmi terdaftar secara badan hukum pada Juli 2010. Salah satu proyek yang baru-baru ini digerakkan oleh GPFI adalah PEACE! yang melibatkan sekitar 100 anak muda lintas agama untuk membersihkan Masjid  Al-Muqarrabiin dan Gereja Protestan Mahanaim di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Tempat ini dipilih karena letak keduanya bersisian dan menjadi simbol toleransi.

”Selain mengusung perdamaian, fokus kegiatan kami adalah pendidikan. Kegiatan bersih-bersih yang kami lakukan bukan sekadar mengajak masyarakat dan volunteer GPFI untuk bersama-sama merawat tempat ibadah, tapi lebih dari itu. Kami sengaja melakukan diskusi sebelum atau setelah kegiatan yang mendorong masyarakat merasa ikut memiliki dan akhirnya memiliki rasa sayang dan mau menjaga fasilitas umum,” jelas Shintya Rahmi Utami, General Manager GPFI

Ia pun berharap, lewat berbagai gerakan merawat fasilitas umum ini akan menjadi sebuah gaya hidup. Dengan begitu, harapannya otomatis masyarakat akan menjaga fasilitas umum yang ada di sekitarnya. (f) 



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?