History is a ‘his story’, not ‘her story’. Sejarah, termasuk sejarah keagamaan, kerap didominasi nama kaum pria. Hal ini menimbulkan kesan seolah peran wanita ‘dihilangkan’. Padahal, barangkali sejarah akan tertulis jauh berbeda jika wanita-wanita ini tak ada. Sedikit orang mengingat, sebelum hidup berpoligami, Nabi Muhammad SAW pernah hidup monogami selama 25 tahun bersama seorang wanita: Khadijah. Khadijah, putri Khuwaylid, melampaui hampir semua hal yang bahkan masih jarang dilakukan wanita pada zaman ini.
Setelah kematian suaminya yang kedua, ia dikenal sebagai wanita saudagar terhormat dan mandiri di Mekah. Namun, meski berstatus sosial tinggi, janda dengan 3 anak dan berusia 15 tahun lebih tua dari Nabi ini tak segan berinisiatif melamar Muhammad yang saat itu belum menjadi seseorang.
Hal itu sama sekali bukan keputusan yang lazim bagi wanita Arab di masa itu. Apalagi, sebelumnya telah datang banyak pinangan dari pria-pria kaum Quraisy yang lebih mapan.
Setelah menikah, Khadijah segera menjadi sahabat terdekat dan penasihat Muhammad. Mereka berbagi berbagai peristiwa, sekaligus bersama-sama melewati duka akibat kehilangan dua empat anak mereka yang meninggal saat masih kecil.
Menjadi muslim pertama dan pendukung utama Muhammad setelah menerima wahyu bukanlah keputusan mudah. Khadijah yang digelari ‘wanita suci’ ini setia mendampingi Nabi Muhammad dalam masa-masa terburuknya mempertaruhkan nyawa demi amanah menyiarkan agama Islam. Maka, sepertinya tidak berlebihan jika penulis buku ini menyebut Khadijah sebagai cinta sejati Muhammad.
Kata-kata Nabi Muhammad setelah Khadijah wafat di usia 65 tahun merangkum perannya yang besar dalam penyebaran Islam: " Aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua ingkar. Ia yang memercayaiku tatkala semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua orang enggan memberi...." Bahkan Aisyah, pernah berkata, “Sepertinya (bagi Muhammad), tidak pernah ada wanita lain di dunia ini, kecuali Khadijah.”
LUCIA PRIANDARINI (KONTRIBUTOR - Jakarta)
FOTO: DOK. FEMINA GROUP


