Rotan bukan material yang baru ataupun asing di Indonesia. Dari
bangunan, furnitur, hingga perkakas rumah tangga, rotan sudah menjadi
bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Bahkan, rotan pernah
mencapai puncak kejayaannya di era 70an hingga hampir di tiap rumah
bisa ditemukan setidaknya satu barang berbahan rotan. Sayangnya, minat pasar yang besar akan material eksotis ini justru dijawab dengan cara yang salah, yakni produksi furnitur rotan besar-besaran dengan harga semurah mungkin yang mengesampingkan kualitas dan desain. Imbasnya, citra yang tertinggal dari furnitur rotan adalah kuno, murahan, dan ketinggalan zaman.
Ini menjadi senjata makan tuan, karena bagaimanapun juga rotan adalah salah satu penanda budaya Indonesia. Belum lagi penggunaan rotan sintetis yang masif dan tidak sesuai peruntukannya, sehingga perlahan menggeser keberadaan rotan alami. Menyikapi hal ini, desainer produk dan furnitur lokal mulai berlomba-lomba untuk mengembangkan potensi rotan dan mengembalikan citranya.
Salah satunya adalah Irvan A.Noeman, yang sempat membagi pandangan dan harapannya akan perkembangan furnitur rotan Indonesia sebelum kepergiannya pada Minggu, 19 April 2015. Kepada femina, desainer yang dihormati atas jasanya di industri kreatif Indonesia ini menjelaskan bagaimana kemewahan masa kini justru berasal dari hal-hal sederhana, contohnya rotan.
Keindahan dari Ketidaksempurnaan
Pesatnya perkembangan zaman membentuk pola hidup manusia yang serba cepat dan instan. Pola hidup demikian lantas menciptakan gagasan ‘lebih cepat, lebih baik’ yang salah. Ini yang menjadi dasar utama munculnya slow movement yang mengusung konsep bahwa segala sesuatu harus dilakukan pada kecepatan dan proses yang tepat. Slow movement pun berkembang ke banyak aspek, seperti slow food, slow fashion, bahkan slow design.
Desainer produk Irvan A. Noeman melihat hal ini sebagai satu perubahan pola pikir yang memberi dampak positif bagi masyarakat Indonesia. “Dengan adanya gerakan slow design, masyarakat mulai sadar bahwa mewah tak selalu yang instan dan mengilap. Semua yang dari alam dan disuguhkan lewat proses tepat serta apa adanya, justru menjadi kemewahan yang baru,” jelas Irvan, menceritakan latar belakangnya menggeluti material rotan.
Lewat koleksi Matala yang merupakan hasil kolaborasinya dengan brand Vivere, Irvan berusaha menampik anggapan bahwa furnitur rotan adalah produk lawas yang tak cocok untuk hunian modern. Koleksi yang terdiri dari 7 jenis single chair ini didesain dengan konsep slim dan ringan untuk menjawab keterbatasan ruang pada sebagian besar hunian saat ini.
Ditujukan untuk hunian modern, tak lantas membuat Irvan lupa untuk tetap mempertahankan ciri khas rotan. Warna dan tekstur alami rotan justru ditonjolkan sebagai daya tarik utamanya. Daya tarik ini yang menjadi kunci Irvan untuk ‘menceritakan’ keaslian furnitur rotan tersebut dan keindahan proses pembuatannya.
Ini menjadi jawaban bagi masyarakat yang mulai sadar bahwa sumber daya yang disajikan apa adanya justru memperlihatkan kecantikan yang maksimal. “Dulu masyarakat begitu terobsesi dengan tampilan rotan sintetis yang rapi dan presisi, tapi lama-kelamaan pasti akan terlihat kepalsuannya. Baru kemudian masyarakat sadar bahwa kecantikan yang asli ada pada rotan alami dengan segala ketidaksempurnaannya, imperfection is the new perfection,” tegas Irvan dengan slogan andalannya.(NATHANIA HAPSARI)


