Sabtu siang, saat aku sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat hidangan Thailand: tom yum, phad thai, fish cake dan green papaya salad kegemaran Mas Gen, sebuah truk berhenti di depan rumah. Truk itu mengantarkan sofa, meja tamu, meja sudut, lampu duduk, dan meja berlaci tiga yang semuanya terbuat dari rotan...
“Rumah Pak Gen Santoso?”
Aku mengangguk ketika pria pengantar itu menyodorkan secarik kertas. Di situ jelas tercantum nama Ir. Gen Santoso, Jl Dulang No.10 dan sudah dibayar lunas tanpa mencantumkan jumlahnya! Mas Gen rupanya ingin memberiku kejutan! Kedua tukang itu pun segera menurunkan barang-barang dari truk.
Terus terang, aku agak kecewa ketika melihat benda-benda itu tidak sesuai untuk rumah kami yang minimalis. Namun, daripada berlarut-larut diliputi kekecewaan dan tanda tanya, saat itu juga aku menelepon Mas Gen. Ternyata hand phone-nya masih off. Ia pasti masih berada di udara.
Kukirim kalimat ini lewat Whatsapp: Kok, enggak bilang-bilang beli furnitur rotan. Sudah sampe, nih, barangnya. Please, telepon kalau sudah mendarat. Kufoto benda-benda tersebut dan kukirim padanya.
Setelah 3 hari menyelesaikan pekerjaan di Papua bersama timnya untuk memastikan besar tidaknya kandungan batu bara di sebuah hutan, pagi tadi Mas Gen mengabarkan akan kembali ke Jakarta dengan transit lebih dulu di Denpasar.
“Kalau penerbangan lancar, aku bisa makan malam bersamamu,” ungkapnya di telepon saat berada di bandara.
“Aku akan membuat makanan Thailand.”
“Enggak usah repot-repot, beli yang matang saja. Kamu tahu, aku tidak suka kamu bau bumbu mentah dan asap dapur ketika aku datang. Seperti halnya kamu tidak suka kalau sepulang kerja aku berbaring di tempat tidur, tanpa cuci tangan dan ganti baju, ha… ha… ha...”
“Janji, ketika kamu datang, aku sudah wangi dan makanan sudah siap!”
Memasak membuatku gembira. Meracik bumbu, mengombinasi aneka bahan makanan dan mengolahnya kulakukan sambil bersenandung. Saat mencoba mengolah masakan baru, apalagi yang serius karena begitu banyak bumbu dan memasaknya dalam waktu yang lama, aku akan memutar musik berirama Kuba yang riang, yang membuatku meletup-letup dan memasak sambil bergoyang.
“Berkeringat, bau asap, tapi kan sehat. Apalagi makanannya enak. Hemat pula!” Aku pernah mengatakan hal itu kepada Mas Gen. Banyak orang yang sudah merasakan masakanku mengacungkan dua jempol.
“Aku penggemar berat makananmu. Gara-gara itu, setelah menikah, berat badanku naik. Tapi, mandi dulu, ya, kalau ingin memelukku.”
Terkadang aku usil, memeluknya dari belakang usai urusan di dapur selesai dan berkeringat. Mas Gen akan pura-pura melepaskan rangkulan tanganku di perutnya sambil menutup hidungnya.
“Bau bumbu dan asapnya nempel, deh. Aku harus mandi lagi, nih,” protesnya, sementara aku tertawa-tawa.
Ia juga tak jarang menggodaku. Sepulang kerja Mas Gen masuk kamar dan pura-pura lupa aturan, siap membaringkan diri di tempat tidur karena ingin mendengarku berteriak, “Tubuhmu itu dihinggapi ratusan kuman, Mas! Seprainya harus diganti, deh. Sana cuci tangan dan ganti baju dulu....”
Sepanjang percakapan di telepon tadi, tak sepatah pun Mas Gen bicara tentang furnitur rotan. Apa karena ia sunguh-sungguh ingin memberi kejutan atau lupa karena kesibukannya? Seingatku, kami pun belum secara serius membicarakan furnitur untuk mengisi rumah yang kami tempati 6 bulan lalu ini. Sambil lalu aku memang pernah usul, kalau tabungan sudah terkumpul, memesan furnitur dari workshop langganan Mama saja. Kualitasnya bagus, meski harganya mahal.
Aku ingin desain dan warna benda-benda di rumah nanti, memiliki benang merah dan masing-masing memiliki kekuatan sesuai fungsinya. Sesuai pula dengan semangat pasangan muda. Aku ingin betah di tiap sudut rumah. Tapi Mas Gen tidak menanggapi serius karena saat itu masih konsentrasi menyelesaikan satu kamar tambahan di lantai atas.
Saat ini, ruangan di rumah yang kami anggap paling istimewa adalah dapur. Letaknya di balik ruang tamu dengan pintunya yang langsung ke carport. Di situ ada kompor listrik 4 tungku dengan oven, toaster, kulkas dua pintu, dispenser, juicer, kuali antilengket, panci, microwave, cangkir, sendok, piring, dan mangkuk-mangkuk cantik yang semuanya ditata harmonis di atas, tengah dan bawah lemari. Mudah dijangkau, modern dan membetahkan dengan sentuhan biru yang menyegarkan.
Semua benda-benda di dapur adalah hadiah perkawinan dari keluarga dekat dan sahabat. Aku berterus terang kepada mereka untuk memberiku hadiah perkawinan berupa perlengkapan dapur. Mereka tahu dapur akan menjadi kerajaanku. Dalam kartu mereka menulis, semoga akan ada olahan istimewa yang muncul dari dapurku.
Ruang tamu justru belum mendapat sentuhan apa-apa. Di situ hanya ada meja kopi dan sofa dua seat warna maroon, pemberian teman Mas Gen yang pindah rumah. Makin hari, aku melihat sofa itu tampak terlalu serius untuk ruang tamu yang mungil. Yang lumayan menghibur adalah televisi 32 inci yang menempel dinding, media hiburan saat aku sendirian di rumah karena jam kerjaku lebih teratur, dibanding Mas Gen.
Tiga langkah ke belakang, kami menempatkan meja kecil yang menempel ke jendela dan membuka pandangan ke halaman belakang kecil, yang separuhnya dilapisi lempengan-lempengan batu alam abu-abu. Halaman terbatas itu kami isi dengan pot berukuran sedang berisi pohon jeruk limau, sawo, dan mangga. Juga pot-pot kecil berisi tanaman bumbu seperti salam, lengkuas, kunyit, dan pandan. Kami membanggakan teras itu sebagai tempat mata leluasa memandang langit dan menikmati daun-daun hijau.
“Di mana kami menempatkan barang-barang ini, Bu?”
“Sebentar, ya, Pak,” jawabku sambil memeriksa barang-barang yang masih berada di teras itu satu per satu. Aku ingin memastikan ukuran dan kepantasan penempatannya di dalam rumah.
Benda-benda tersebut berkualitas baik. Pola jalinan rotannya simpel namun artistik. Sofanya yang terdiri dari satu sofa dengan tiga seat dan tiga sofa lainnya yang memiliki satu seat berwarna cokelat pasir dengan bantalan tempat duduk dan sandaran berwarna biru toska. Nyaman saat kududuki. Permukaan meja terbuat dari kayu yang disangga jalinan rotan berbentuk daun nangka di empat sudutnya. Jika dipaksakan, hanya satu sofa 3 seat yang bisa ditempatkan di ruang tamu. Sofa cantik itu pun akan terlihat ‘kebingungan’ dan ‘terasing’ karena membuat ruang tamu tampak sesak. Tiga kursi sisanya terpaksa harus kufungsikan sebagai kursi makan. Masalahnya, di mana aku akan menempatkan meja sudut, laci dan lampu?
Mas Gen, kok, bisa seceroboh ini. Furnitur rotan, aku masih bisa terima asal ukurannya tidak tembem-tembem seperti ini. Masa ia lupa ukuran ruangan di rumahnya sendiri.
Aku mulai khawatir benda-benda cantik itu akan menjadi pemicu munculnya riak dalam hubunganku dan Mas Gen. Aku pasti akan meminta penjelasannya dengan suara tidak senang, mengapa ia memilih furnitur tersebut tanpa memberitahuku lebih dulu. Kubayangkan Mas Gen akan tersinggung dan berteriak-teriak. Akhirnya, aku mungkin akan mengalah, menerima apa yang sudah terjadi. Lalu, tiap hari aku akan melihat benda menyebalkan itu. Dan terluka karena merasa diremehkan?
Aku mungkin belum sepenuhnya memahami apa alasan dari tiap tindakan Mas Gen. Usia pernikahan kami belum genap satu tahun. Aku juga baru menyadari kalau selera Mas Gen itu pay... uppps, sebaiknya aku menahan diri untuk tidak menilai apa pun sebelum bicara langsung dengan Mas Gen.
Kulihat pesanku di-Whatsapp belum terkirim. Berarti Mas Gen belum transit di Denpasar.
“Bapak yakin tidak salah kirim?” Aku berharap sekali benda-benda ini dikirim ke rumah yang keliru.
“Ini Pak Gen Santoso dosen di Fakultas Tambang, Universitas B kan, Bu?”
Hmmm, untuk membeli furnitur ini Mas Gen memberikan keterangan diri selengkap itu! Jangan-jangan ia membelinya secara kredit. Memaksakan diri sekali!
“Ya sudah, tolong yang ini dan ini letakkan di ruang tamu, yang itu di dekat meja makan....”
Kuputuskan, aku tidak ingin terlihat lagi seperti istri dungu yang tidak tahu urusan suaminya, di depan dua pria yang sejak tadi kebingungan melihat aku yang tidak gembira.
Telepon berbunyi ketika dua pria pengantar barang sedang meletakkan sofa 3 seat di ruang tamu.
“Mas…!” jeritku yang pasti akan membuat gendang telinganya seperti tertimpa bola besi.
“Pengirimnya Rotana & Rotani?” Mas Gen bertanya sebelum aku sempat menyemprotnya dengan beragam pertanyaan.
“Ya. Aku tidak tahu kalau Mas suka rotan….” Aku mencoba menahan diri untuk tidak langsung memberondongnya dengan kalimat-kalimat panas.
“Dengar baik-baik, ya...,” Mas Gen memotong kalimatku dengan suara yang mengandung kemarahan.
“Sialan,” seruku. Kemarahanku pun tersulut mendengar ceritanya.
“Enak saja…!” aku kembali berteriak, membuat kedua pria pengantar yang sedang mengangkat barang itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahku.
“Aku tidak mau barang-barang jelek itu,” teriakku kepada keduanya, setelah Mas Gen menutup telepon.
“Tolong semua benda ini dikembalikan ke Rotana & Rotani….” Aku mengatakan itu dengan bertolak pinggang, yang segera kuturunkan karena sadar bahwa kedua orang itu sama sekali tidak bersalah. Keduanya bekerja dalam diam, meski mungkin hatinya dongkol bukan main melihat kelakuanku.
Tanpa bicara, keduanya mengambil satu demi satu barang dari rumah, membawanya ke truk. Dengan tetap mencoba bersikap ramah, keduanya kemudian pamitan.
Rasanya lega sekali ketika truk dari Rotana & Rotani itu meninggalkan halaman rumahku. Segera aku mengambil segelas air putih dan meneguknya tandas. Sungguh setengah jam yang menegangkan. Pikiranku baru saja disesaki tuduhan dan kemarahan kepada Mas Gen. Nyaris membakar akal sehatku. Saat Mas Gen datang nanti, aku akan memeluknya begitu ia keluar dari taksi. Tak peduli ia penuh kuman, belum mandi, dan belum cuci tangan. Tak peduli ia meronta karena aku bau bumbu dan asap dapur.
Di telepon tadi, Mas Gen bicara penuh kemarahan yang kudengarkan dengan kemarahan yang tak kalah besarnya. Ia bercerita tentang Pak Jamil, pengusaha furnitur Rotana & Rotani yang menemuinya di kampus. Ia meminta kepada Mas Gen, sebagai sekretaris jurusan, untuk membolehkan putranya ikut ujian akhir semester. Sementara persentase kehadiran putranya hanya 25%, jauh dari yang seharusnya, 75%. Mas Gen tentu saja taat pada aturan. Pengusaha yang sayang anak itu ternyata berusaha meluluhkan hati Mas Gen dengan mengirim satu truk furnitur rotan….
********
Ida Ahdiah
Ida Ahdiah




