Dengan adanya skema BPJS, untuk mendapatkan klaim asuransi, berobat harus lewat klinik tingkat pertama terlebih dahulu, sebelum ke rumah sakit. Dalam hal ini, adalah puskesmas. Akan tetapi, banyak orang yang masih enggan untuk datang ke puskesmas. Petugas yang tidak ramah, antrean panjang, dan pemberian obat seadanya adalah sederet kesan yang telanjur terpatri dalam pikiran sebagian masyarakat kita, yang akhirnya menimbulkan kesan bahwa konsumen puskesmas adalah masyarakat berekonomi rendah. Dengan image itu, apakah kalangan kelas menengah mau memercayakan kesehatannya pada puskesmas?
Soal masyarakat kelas menengah yang masih enggan berobat ke puskesmas, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, tidak merasa heran. Menurutnya, ada faktor psikologis yang memengaruhi sikap masyarakat kelas menengah.
Selama ini ada mind set, kalau berobat di puskesmas, paling obat yang diberikan kualitasnya tidak bagus. Masyarakat makin tidak percaya dan tidak nyaman berobat karena jam pelayanan yang sangat terbatas, hanya sampai pukul 13.00 di puskesmas bukan kecamatan. Padahal, kebanyakan masyarakat kelas menengah adalah karyawan dan pekerja yang biasanya baru bisa berobat setelah jam kerja. Tak heran kalau klinik dan rumah sakit yang memiliki jam operasional lebih lama, jadi pilihan.
”Pernah suatu kali, dalam rapat dengan pemerintah daerah selaku pengelola puskesmas, saya bertanya, siapa dari puluhan orang di sana yang kalau sakit berobat ke puskesmas. Nyatanya, di ruangan itu tidak ada. Nah, bagaimana masyarakat mau ke puskesmas kalau pengelolanya saja tidak mau. Bagaimana masyarakat mau yakin kalau kualitas puskesmas itu bagus. Ini tantangan besar bagi Kementerian Kesehatan untuk memperbaiki pelayanan,” ujarnya. (f)
Baca Juga:
Perbaikan Terus Menerus Sistem BPJS
Kelemahan BPJS
Apa yang Kurang di JKN?


