“Kalau tidak mengalami benturan, kita bisa saja salah dan mengikuti terus. Hidup ini kan bergerak, tumbuh, dan aktif. Begitu juga kita. Dalam hidup ini kita akan bertemu dengan banyak orang. Bermula dari orang tua, pasangan, hingga teman-teman,” Andrie memaparkan.
Yang jelas, kita jangan mudah berasumsi terhadap orang-orang yang kita temui dalam hidup tersebut. Tiap orang menjalani hidup sesuai dengan karakter pribadi atau pengalamannya. Cara tiap orang mengolah hal yang sama juga berbeda. Jadi, belum tentu yang kita anggap benar adalah benar untuk orang lain.
Psikolog Ratih Ibrahim memahami, tidak mudah memang mengatur diri agar tidak mudah berasumsi terhadap orang lain. Dibutuhkan sikap yang logis, realistis, dan objektif. Ini adalah tantangan. Menjadi logis itu melelahkan, karena semua yang dipikirkan harus logis.
Sedangkan untuk bersikap objektif, informasi yang kita dapat tidak bisa hanya dari satu sumber. Pertemanan yang luas adalah salah satu hal yang bisa membantu kita membentuk preferensi-preferensi. Makin homogen pertemanan, kita akan makin sulit keluar dari lingkaran. Tapi, jika teman kita beragam, kita akan banyak mendapat distraction yang membuat kita bisa objektif. Bukan berarti harus berada di tengah-tengah, melainkan bisa memilah dan memilih informasi mana yang masuk akal.
Tak dipungkiri, kita terkadang melihat seseorang yang sukses dan ngetop bukan karena prestasinya saja. Timbul asumsi saat melihat artis A. “Sempurna sekali hidupnya. Sudah cantik, pandai, anak pengusaha kaya pula. Pasti ia tak pernah bekerja keras, karena semua datang dengan mudah,” begitu mungkin kita berpikir. “Tidak bisa begitu. Bisa saja ia anak orang kaya, pendidikannya tinggi, wajahnya tampan, tapi ternyata pola asuh yang ia terima sejak kecil di keluarganya salah. Akhirnya, ya, enggak muncul juga, ‘kan,” kata Andrie.
Persoalannya, harus diakui, saat melihat orang yang sangat sukses, populer atau sedang di puncak karier, diam-diam banyak orang menunggu, kapan dia akan jatuh. “Ketika ia jatuh, memang banyak yang bilang kasihan, tapi tak sedikit yang nyukurin. Padahal, tak ada yang tahu pasti mengapa ia sampai tersandung,” kata Andrie, prihatin.
Selain itu, tidak semua orang yang memiliki ekstra bonus (baca: kekayaan orang tua, wajah menawan, atau kepintaran) akan menjadi excellent. Semua itu tergantung kapasitas kemampuan mereka memahami konten dan konteksnya. Jika ia tidak paham akan sumber dayanya, pada saat ia tak mampu mengelola sesuai konteksnya, maka ia akan gagal lagi.
Sebagai manusia ciptaan Tuhan, kita memiliki kelebihan yang berbeda-beda. “Jangan cepat menghakimi orang hanya karena penampilannya,” tegas Ratih. Lagi pula, tak ada orang yang sempurna sejak lahir. Semua memiliki benturan-benturan sendiri. Hanya, sekarang tergantung bagaimana ia menjalaninya. Ada yang pandai memanfaatkan kelebihannya, ada juga yang hanya pasrah dengan apa yang sudah ia miliki dan tidak berusaha mengembangkannya.
“Cobalah mencintai diri kita sendiri. Tak perlu takut berbeda, karena memang tiap manusia mempunyai pola pikir yang berbeda. Poleslah diri semaksimal mungkin di bidang yang kita pilih, tak perlu menggantungkan diri pada orang lain,” pungkas Andrie. (f)


