Hidup seatap dengan orang tua tentu membawa konsekuensi. Di antaranya adalah kemungkinan ikut campurnya pihak orang tua dalam relasi suami-istri, tak adanya kebebasan mengatur hidup, terbatasnya privasi, hingga persoalan keuangan dan konflik dalam mendidik anak.
Menurut Psikolog Sani B. Hermawan, Psi, ‘gesekan’ justru sering terjadi ketika anak yang menumpang pada orang tua, bukan sebaliknya. Ini terjadi karena kebanyakan orang tua masih terlalu ingin mengatur anak dan tak bisa membedakan privasi si anak. “Masalah kurangnya privasi mungkin masih bisa disiasati dengan pergi jalan-jalan ke luar rumah. Yang paling menjengkelkan itu ketika hubungan suami-istri direcoki, dikontrol, diintervensi oleh pihak luar,” kata Sani.
Lebih sering lagi konflik itu terjadi antara orang tua dan menantu. “Ini karena si menantu tidak dibesarkan dengan nilai-nilai dan kebiasaan yang dipegang si orang tua, sehingga rentan terjadi konflik,” jelas Sani lebih lanjut. Lucunya, lebih banyak konflik orang tua dengan menantu perempuan ketimbang pria. “Bisa jadi karena pria lebih jarang di rumah dan bersikap easy going,” imbuhnya.
Agar sama-sama saling merasa nyaman dan tak ada kesalahpahaman, yang penting bisa menjalin komunikasi yang baik antara anak dan orang tua. “Peran anak penting untuk bisa menjembatani antara keinginan orang tua dan istrinya,” kata Sani. Selain itu, menantu perempuan yang tinggal di rumah mertua juga sebaiknya harus bisa mengadopsi kebiasaan dan nilai-nilai yang diterapkan keluarga suaminya.
Kalau memang mau hidup bersama, ya, harus kuat mental, bisa menghargai tradisi di keluarga suami. Misalnya saja kebiasaan makan malam bersama di rumah. Usahakan meneruskan tradisi bersama itu agar hubungan dengan orang tua juga menjadi baik.
Untuk masalah anak, juga harus bisa terbuka dan mengomunikasikan dengan orang tua bagaimana harapan dan keinginan kita agar bisa selaras dalam menerapkan didikan. Sebab, banyak terjadi kakek-nenek yang cenderung tidak tegas dalam menerapkan aturan kepada anak, ini bisa menjadikan anak punya double standard (tak konsisten) dan bersikap manipulatif.
Sedangkan bagi yang masih lajang, Sani menyarankan agar sebaiknya mengikuti aturan di rumah selama masih tinggal di rumah orang tua. Maklum saja, kenyataannya banyak orang tua yang tak sadar bahwa anaknya bukan anak kecil lagi dan bersikap terlalu banyak mengatur dan over protective. Oleh sebab itu, gesekan yang banyak terjadi pada anak-anak lajang adalah kesal karena tak ingin diatur-atur atau terlalu diawasi dan tidak diberi kebebasan yang ia butuhkan.
Hal yang tak kalah penting adalah tanggung jawab untuk berkontribusi memberi uang pada orang tua. “Ini harus dibicarakan kesepakatannya bagaimana. Misalnya saja, si anak menanggung kebutuhan beras, atau 30% biaya listrik dan telepon. Tapi, kalau orang tua merasa masih mampu dan tak ingin dibantu, lebih baik si anak menyisihkannya untuk tabungan kebutuhan yang lain, untuk mencicil down payment pembelian rumah atau mobil, misalnya,” saran Sani.
Meski demikian, hidup bersama orang tua setelah menikah tidak selamanya buruk. Selain orang tua ada yang menemani dan anak ada yang menjaga selama orang tua bekerja, hubungan suami-istri pun sering kali bisa terselamatkan karena ada pihak penengah. “Utamanya pada masa-masa kritis 3 tahun pertama, saat pasangan suami-istri masih dalam proses penyesuaian diri dan budaya, adanya campur tangan orang tua sebagai penengah berperan besar dalam menyelamatkan pernikahan,” ungkap Dr. Erna Karim, M.Si.
Karena itu, hidup dengan orang tua akan menjadi berkah satu sama lain jika kita bisa menyikapinya secara bijaksana dan adanya saling pengertian. Bagaimanapun, orang tua adalah bagian dari hidup kita sehingga wajib bersyukur karena masih diberi kesempatan bisa menikmati kebersamaan dengan mereka. Yang perlu diingat, jangan sampai terlena, sebab ada saatnya kita harus meninggalkan sarang dan mengepakkan sayap untuk bisa hidup di atas kaki sendiri.(Reynette Fausto)


