Hunian yang dibangun di atas lahan seluas 180 m² ini terlihat simpel, praktis, dan tampak fungsional. Luas bangunan menjadi hampir tiga kali lipatnya, yaitu 410 m² dengan membuatnya rumah bertingkat empat. Tim arsitek dari Willis Kusuma Architect (WKA) membagi bangunan menjadi empat lantai, masing-masing terdiri dari dining room dan service room di lantai dasar, living room di lantai 1, bedroom di lantai 2, dan roof garden di lantai 3.
Mari, kita jelajahi satu per satu. Willis dan tim arsitek merancang tangga masuk di samping yang langsung menuju ke setiap lantai. Bahan dasar konstruksinya dari beton pracetak, baik cetak setempat maupun pracetak yang berdiri tegak menyelubungi tangga. Beton yang sudah dipoles merupakan bahan penutup yang mendominasi seluruh bangunan.

Lantai Dasar: Ruang Makan, Ruang Servis, dan Garasi
Ruangan lantai dasar dimanfaatkan sebagai ruang makan yang cukup privat karena terpisah dari ruangan lain. Ia hanya terhubung ke ruang-ruang servis dan garasi mobil. Dari lantai dasar ini kita bisa naik ke lantai 1 melalui dua pintu: satu melalui tangga dari arah pintu pagar depan, satu lagi dari tangga yang mirip amphitheatre. Meskipun cukup curam, area ini lumayan bisa memanfaatkan elemen struktur lahan menjadi area terbuka alami.

Lantai 1: Dua Ruang Keluarga
Tim arsitek merancang tiap lantai dengan kondisi khusus. Aspek paling menarik adalah cara mengolah lantai 1 dengan menciptakan elemen penyekat ruang dan pembagian dua ruangan dengan innercourtyard di tengahnya. Bukannya membuat ruang keluarga (living room) selebar satu lantai, arsitek malah memotong ruang keluarga tersebut menjadi dua secara sejajar. Lalu, innercourtyard beralas papan kayu yang berada di antaranya membentuk semacam teras terbuka. Ada satu batang pohon ditanam di sudut, supaya ruang terbuka ini terasa sebagai elemen yang secara alamiah menjadi penghubung ke langit biru. Inilah yang dinamakan definisi arsitektur modern yang harmonis dengan bentang alam (langit).
Innercourtyard itu sebetulnya dilengkapi penyekat yang bisa dibuka-tutup. Dalam keadaan tanpa aktivitas khusus atau ingin tercapainya privasi, penyekat yang dilengkapi rel di atas dan bawahnya dapat digeser dan akan menutup satu sama lain membentuk dinding partisi pemisah ruangan. Maka, jadilah dua ruang dalam berbeda fungsi. Yang lebih lebar merupakan living room utama dilengkapi dengan sofa, dua lounge chair molded plywood, serta satu coffee table koleksi Herman Miller. Ruang satunya lebih diarahkan menjadi semacam teras tertutup dengan jendela kaca yang dapat dibuka lebar sehingga pemandangan lingkungan perumahan bisa dinikmati.
Bila ingin menggabungkan dua ruangan menjadi satu open space, pintu penyekat dibuka dan dua ruangan yang dipisahkan innercourtyard akan menjadi satu ruangan lebar dan panjang. Cara tersebut merupakan solusi yang efektif bila kita punya ruangan yang tidak begitu besar, namun ingin disekat dengan partisi movable format buka-tutup.

Lantai 2: Kamar Tidur
Kamar-kamar tidur yang ada di lantai 2 dihubungkan dengan koridor satu sama lain. Kamar tidur utama itu tidak semewah yang dibayangkan. Malah cenderung apa adanya. Dinding semen lebar menjadi lokasi tempat tidur menghadap dinding di seberangnya. Satu sudut ruang kecil difungsikan untuk meja kerja praktis. Hanya kayu ambalan digunakan untuk wadah buku dan pernak-pernik lainnya. Selebihnya hanya ada meja rendah untuk wadah televisi dan sound system. Kamar mandinya pun cukup praktis untuk ukuran kamar tidur utama.

Lantai 3: Taman di Atap
Di lantai 2, dipasang juga tangga samping menuju lantai 3, tempat taman di atap (roof garden) berada. Tampilannya sederhana, namun efektif untuk menyerap air hujan dan mendinginkan bangunan. Pandangan ke luar menampilkan suasana hening berupa rumput-rumput dan tanaman rambat. Kontak visual dengan alam ini mampu mengurangi kekerasan bentuk ruang arsitektur yang tercipta dari berbagai sudut ruangan. Dengan demikian, pemisahan antara bagian luar dan dalam tidak terlalu kentara melalui perbedaan tinggi lantai.(f)


