“Hak tiap orang untuk memiliki idola, atau sosok yang dijadikan teladan dan panutan dalam hidupnya,” jelas Andrie Wongso, motivator. Adakalanya sosok itu bisa mendorong kita mencapai sesuatu yang tidak terlihat menjadi suatu kekuatan hingga meningkatkan rasa percaya diri kita. Misalnya, sosok seorang wanita muda yang memulai semua dari bawah hingga di puncak, membuat seseorang terpacu untuk menjadi dirinya yang sukses lewat orang itu. “Dia adalah role model,” tambah Andrie.
Merry Riana, seorang motivator muda, membuktikan itu. Kabur dari Indonesia ke negara tetangga karena kerusuhan sosial, tak membuatnya pasrah, tapi justru menjadi motivasinya untuk sukses. Namun, tanpa kita sadari, kita bisa saja mengidolakan sesuatu yang kosong, pencitraan yang dibangun sedemikian rupa yang bisa membuat kita buta. Yang kita lakukan hanya mengikuti arus. Ketika dia jatuh, kita pun frustrasi.
“Sebenarnya yang dialami idola bisa dijadikan benturan di mana bisa kita jadikan pelajaran, serta berkaca apa yang menjadi kelebihan dan kekuatan diri kita,” jelas Andrie. Di saat inilah kita bisa melihat apakah jalan orang yang kita jadikan panutan ini memang cocok untuk hidup kita atau tidak. Jika benturan itu membuat kita kecewa, tidak sesuai harapan dan cita-cita kita, berarti saatnya kita move on, dan memulai langkah yang baru.
“Karena itu, supaya kita tidak kecewa, kita harus ingat bahwa semua orang hanyalah orang biasa. Tidak ada yang segitu hebatnya sampai bisa melakukan semuanya dengan baik. Pasti ada satu dua hal yang ia hebat lakukan, tapi bukan segalanya. Karena, bisa saja itu adalah image yang diciptakan,” psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan.
Mungkin Anda masih ingat mantan pemenang kontes beauty pageant yang dianggap memiliki kehidupan sempurna? Cantik, pandai, bersuamikan aktor tampan di eranya, hingga akhirnya menjadi politikus yang berhasil menjadi wakil rakyat. Kehadirannya di Senayan sempat membuat orang banyak menumpukan harapan kepadanya. Tragis, di balik ‘gemerlap’ itu, ia terjerat kasus korupsi yang membawanya ke bui hingga belasan tahun.
Andrie mengatakan, “Di dunia ini, tidak ada satu pun manusia yang bisa memuaskan semua orang. Jangan mencoba menjadi sempurna di depan orang lain. Menutupi kemunafikan akan membuat Anda dan orang lain kecewa.”
Tidak bisa dipungkiri, memang ada orang yang berjualan image, berhasil mendapat respons baik, namun malah termakan dengan fatamorgananya sendiri. Kepribadiannya yang sejati tertukar dengan kepribadian yang diciptakan. Ia begitu menghayati figur tadi, hingga akhirnya ia menjadi korban, dan muncullah ledakan-ledakan dari dirinya itu. “Tak heran banyak idola kita yang justru tiba-tiba muncul dengan kepribadian yang amat berbeda dengan yang selama ini ditampilkan di media,” tambah Ratih.
Sebetulnya, jika yang bersangkutan berkepribadian matang, Ratih meyakini bahwa ia tidak akan mengalami kebingungan dan termakan oleh figur imajiner yang ia ciptakan tadi. “Seseorang yang memiliki strong personality akan bisa membumikan dirinya karena ia tahu itu hanya baju, sehingga unsur jaim-nya bisa ia hilangkan,” Ratih menambahkan. (f)


