Pada sejumlah kasus, citra ‘kota besar’ dan kemewahan Jakarta itu memang menjadi rujukan dan pembicaraan orang-orang daerah. Mereka yang ingin membangun imajinasi gaya hidup modern, akan merujuk ke tren di metropolis. “Tidak bisa dipungkiri, masih banyak orang yang tidak kritis akan perkembangan modernitas yang terjadi besar-besaran di Jakarta. Kadang-kadang hal-hal simbolis, bahkan yang bersifat pragmatis, ditiru begitu saja karena dianggap sebagai simbol kemajuan dan dianggap modern,” jelas Arie Sujito, sosiolog Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Apakah itu? “Yang paling dominan adalah gaya hidup konsumtif,” jawab Arie.
Anastasia Yuni Widyaningrum, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, memiliki contoh menarik, bagaimana sekarang di kota-kota kecil pun menjamur kafe-kafe tempat nongkrong. Kopinya pun tak lagi kopi tubruk, tapi coffee latte atau cappuccino. “Dari mana mereka mencontoh hal itu? Tentu dari apa yang sedang tren di Jakarta,” katanya.
Padahal, belum tentu juga daya beli orang lokal itu sesungguhnya bisa memenuhi keinginan untuk gaul tersebut. “Sebagai contoh, ketika saya makan siang di restoran, semangkuk soto dihargai Rp35.000. Orang tua saya yang tahu langsung bilang, ‘Aduh, semangkuk soto saja mahal amat. Uang segitu sudah bisa buat belanja untuk masak macam-macam,’” kata Anas.
Arie sepakat, gaya hidup Jakarta yang ditandai dengan konsumsi tinggi dan kemewahan, jika dicontoh dengan begitu saja maka akan menciptakan masalah, terutama bila kapasitas daya beli orang daerah yang tidak sebanding. Dampak lain adalah bisa menggerus modal sosial, seperti hilangnya sikap peduli dan kerelawanan sosial.
“Karena, dalam hal apa pun, jika diukur dengan uang, maka manusia hanya diukur dari sisi pencapaian uang. Inilah yang menjadi faktor penyebab dehumanisasi. Intinya, gaya hidup ‘konsumtif dan royal’ di Jakarta, jika ditiru di daerah dengan konteks yang berbeda akan menciptakan kesenjangan sosial. Adanya jarak kelas ekonomi ini secara bertahap akan melahirkan masalah sosial yang lebih luas,” kata Arie.
Karena itu, tidak heran bila di pihak lain, ada orang-orang daerah yang sinis dengan sikap sok pamer kemewahan ala Jakarta yang ditampilkan oleh media. “Dalam beberapa hal, justru dijadikan contoh negatif. Misalnya, ada orang yang pragmatis dan serakah, karena hal itu sering dikaitkan dengan gaya hidup metropolis dan kapitalistis dan kebetulan terjadi di Jakarta,” kata Arie.
Meski begitu, baik Anas maupun Arie mengatakan bahwa tidak semua hal tentang Jakarta itu jelek. Ada hal-hal yang baik untuk ditiru oleh orang daerah. “Budaya Jakarta yang menarik diserap dan sering menjadi perbincangan orang adalah kompetisi. Orang-orang yang baru masuk Jakarta selalu diingatkan bahwa hidup di Jakarta keras, harus berani berkompetisi dan kerja keras karena tekanan hidup,” katanya.
Selain itu, gaya kerja dan semangatnya orang Jakarta juga menarik untuk ditiru, dengan cara menyesuaikan dengan situasi daerah. Misalnya, kerja keras dan watak profesional dalam pelayanan. “Itu hal menarik, terutama sering menjadi inspirasi seseorang dalam kehidupan di daerah agar bisa survive,” pungkas Arie. (f)
Yoseptin Pratiwi


