Payudara adalah simbol kefemininan yang sangat penting bagi sosok wanita. Ia juga simbol kesuburan yang mengalirkan air kehidupan bagi anak-anak yang dilahirkan. Tak terbayangkan betapa hancur hati mereka saat mahkota yang menjadi kebanggaan mereka itu harus dicerabut paksa akibat gerogotan sel kanker.Psikolog Roslina Verauli mengakui bahwa shock setelah vonis ini bisa menjadi hantaman hebat dan menimbulkan gelombang stres bagi wanita penderita kanker payudara. Pertama, karena penyakit kanker dikenal awam sebagai penyakit terminal yang tidak ada obatnya dan hanya berujung pada kematian. Kedua, payudara yang menjadi identitasnya sebagai wanita yang utuh tercerabut oleh opsi mastektomi. Biasanya, fase stres ini diikuti oleh penyangkalan diri berikut berbagai emosi negatif, seperti marah, kekecewaan, dan menyalahkan diri sendiri, sampai mereka tiba di tahapan emosional kesedihan yang mendalam.
Pada saat inilah, kehadiran kelompok dukungan, baik itu dari lingkungan keluarga maupun komunitas luar sangat membantu mereka dalam melalui fase kepedihan yang mendalam ini. “Pada tahapan ini, kehadiran kita hanyalah sebagai pendengar, membantu mereka untuk meluapkan emosi-emosi negatif yang menumpuk di dada,” jelas Verauli. Ketika awan stres gelap itu memudar, otomatis hati mereka menjadi lega, pemikiran atau rasionalitas mereka juga mulai terbuka.
Namun, pada penderita penyakit berat, seperti kanker, serangan stres ini berlanjut sampai ketika mereka menjalani terapi pengobatan yang tidak hanya membutuhkan daya tahan tubuh terhadap rasa sakit, tapi juga mental sekuat baja. Menurut Verauli, dukungan lingkungan ini yang kemudian mampu memunculkan optimisme bagi pasien kanker payudara. Sehingga, mereka tidak melulu fokus pada rasa sakitnya, tapi mampu melihat hal-hal baik lain yang mereka miliki dan ada di sekelilingnya. “Kehadiran komunitas dukungan juga sangat membantu, terutama dalam mendapatkan perspektif berbeda dalam melihat, menilai kondisi diri dan kehidupan,” tambah Verauli.
Utamanya, karena di dalam kelompok ini, mereka juga bertemu dengan sesama penderita. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Melalui sesi sharing, mereka juga tidak lagi merasa sebagai orang yang paling malang sedunia. Bahkan, banyak mendapat inspirasi, atau tip-tip bertahan menghadapi situasi-situasi tak tertahankan, seperti menjalani proses kemoterapi. (f)


