Trending Topic
Dorongan dari Dalam dan Luar

9 Apr 2015

Terkadang, sebagai orang tua, kita kerap merasa bersalah ketika tidak memperhatikan perubahan atau depresi yang dialami anak, sehingga menerbitkan keinginan untuk bunuh diri. Menurut psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., banyak faktor yang membuat seorang anak memiliki pemikiran demikian. ”Ini tidak selalu karena masalah orang tua saja, tapi bisa dipicu oleh tumbuh kembang si anak,” ujarnya.

Saat pubertas, seorang anak mengalami berbagai macam perubahan tubuh dan hormonal yang menimbulkan stres. Suaranya berubah, timbul jerawat, kamar yang dulu terasa luas pun jadi terasa lebih sempit, menstruasi pertama, kini jadi ada yang menggoda di jalan, dan sebagainya. Pada kondisi tertentu, ada banyak hal yang kemudian memberi stres tambahan pada anak, misalnya pindah rumah, lingkungan sekolah yang sangat kompetitif, teman yang lebih populer, perceraian orang tua, dan lain sebagainya.

Sebagian anak dapat menerima serta mengatasi perubahan dan stres yang dihadapinya tanpa masalah berarti. Namun, pada sebagian yang lain, terutama jika stres yang dihadapinya lebih berat, seperti mengalami kekerasan fisik dan menghadapi perpisahan orang tua yang disertai konflik,  tentu akan memberi tekanan yang sangat besar hingga mengarah pada kondisi depresi. Bila kondisi depresi pada anak tidak ditangani secara baik dan tuntas, kondisi ini lama-kelamaan bisa membuat seorang anak merasa tidak ada gunanya dia hidup dan memunculkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Kecenderungan anak masa kini yang lebih minim beraktivitas fisik juga ikut memberi pengaruh.

Di lain pihak, secara genetis, ada anak-anak yang memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi yang memicu bunuh diri. ”Misalnya, pada penderita gangguan bipolar atau anak dengan orang tua depresi.” ujar dr. Tjhin Wiguna, SpKJ (K), dari Divisi Psikiater Anak dan Remaja Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, mengacu pada masalah kesehatan jiwa yang disebabkan oleh gangguan mood.

Menurut KPAI, kekerasan yang dialami anak, baik itu berupa kekerasan fisik, seksual, maupun psikis, memang bisa menyebabkan seorang anak mengalami gangguan psikis, yang bisa mengarah pada depresi.

Jauh sebelum seorang anak memutuskan mengambil tindakan fatal itu, sesungguhnya ada proses atau tahapannya. Tahap pertama, saat anak itu memikirkan bunuh diri. Tahap kedua, ia sudah berpikir bunuh dirinya dengan cara apa atau menggunakan alat apa. Tahap ketiga, dia sudah menyiapkan alat untuk melakukan bunuh diri. Tahap selanjutnya, saat ia sudah melakukan percobaan bunuh diri. (f)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?