Indonesia Timur lekat dengan papeda, makanan pokok yang terbuat dari karbohidrat pati sagu yang dimasak atau diseduh dengan air panas. Ini yang terkenal di Kedai Nyonya Bintuni, asuhan Paul B. Nio dan istrinya, Winnie Manibuy Ang. Meski baru buka sejak Mei 2014, restoran ini ramai dikunjungi khususnya oleh orang-orang dari Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Seluruh resep dirancang oleh Winnie yang berasal dari Bintuni, kota teluk di bagian leher Pulau Cendrawasih tersebut. Beruntung, femina mendapat kesempatan melihat papeda beku yang dikirim via kargo pesawat dari Papua. “Bila terlalu lama disimpan di suhu ruang, rasa papeda segar bisa menjadi lebih asam!” tekan Paul.
Selain papeda, kita bisa menikmati kue sinosa, yaitu kue sagu yang dicampur parutan kelapa, dibentuk bulat pipih, lalu dibakar dengan api kecil. Sinosa disajikan dengan gula merah cair. Demi papeda, Femina juga bertandang ke Paparisa Ambonia, gerai masakan Ambon yang dikelola Vebby Loupatty. Ia meninggalkan tanah kelahirannya ke Jakarta sejak tahun 1997.
Berbeda dari papeda Papua, papeda yang dibawa dari Kota Ambon sudah dikeringkan,
dan disebut papeda manta. Cara menikmatinya, kuah ikan disiram ke permukaan piring agar papeda tidak melekat di permukaan piring.
Lalu, dengan gata-gata (alat seperti perpaduan sumpit dan garpu terbuat dari bambu), papeda digulung cepat membentuk ‘kepompong’, lalu ditaruh di piring.
Orang Ambon menikmatinya tidak hanya dengan ikan, tetapi juga dengan daun kasbi yang direbus lalu dicincang dengan cakalang asap. Selain papeda, kita juga bisa menikmati roti kenari, yaitu roti panggang bertabur kenari dengan tekstur yang cukup keras. Cocok disantap bersama secangkir kopi. (f)
Kedai Nyonya Bintuni
TIS Plaza, Jln. MT Haryono Kav. 9, Tebet, Jakarta
Telp. 021-83-1353
Paparisa Ambonia
Thamrin City - Food Court Lt. 3
Jakarta


