Dalam buku Influence: How Women’s Soaring Economic Power Will Transform Our World for Better Future, Maddy Dychtward menyebutkan, abad 21 akan ditandai lahirnya kekuatan dunia baru yang dipimpin wanita. Di abad ini, memang banyak posisi-posisi penting yang untuk pertama kalinya dalam sejarah diduduki wanita, mulai dari pemerintahan, organisasi dunia, hingga perusahaan. Meski sukses mereka tak jarang menuai kontroversi, pencapaian mereka patut jadi inspirasi dan kebanggaan kaum wanita.
Dari Politik Hingga Ekonomi
Park Geun-Hye (61) membuat sejarah baru. Setelah memenangkan 51,6% suara pada pemilihan presiden Korea Selatan pada Desember 2012, Park menjadi presiden wanita pertama dan presiden ke 11 di negeri ginseng ini “Saya bersumpah bahwa saya akan menjalani tugas kepresidenan dengan kesetiaan. Presiden Park, 25 Februari 2013,” sumpahnya pada hari pelantikan.
Reputasinya sebagai politisi paling berpengaruh di Korea sejak era kepemimpinan Young-sam Kim dan Dae-jung Kim membuat masyarakat Korea Selatan menaruh harapan besar padanya. Putri Park Chung-hee, Presiden Korea Selatan ke-3, ini mewarisi sifat tegas ayahnya yang sukses membawa Korea Selatan bangkit dari garis kemiskinan lewat kediktatorannya. Tak heran jika ia mendapat julukan Iron Lady-nya Korea Selatan.
Dalam sambutan pelantikannya, ia memperingatkan Korea Utara, “Saya tidak akan mentolerir setiap tindakan yang mengancam kehidupan rakyat dan keamanan negara kami.” Ia juga bersumpah akan membalas keras setiap aksi provokasi dan mengatakan pada tentara Korea Selatan bahwa negara manapun yang mengabaikan warganya yang kelaparan demi senjata nuklir dan kekuatan militer pasti akan hancur. Meski banyak yang mengkritik sikap keras dan dinginnya ini, mayoritas orang mengaguminya karena lebih berani mengambil sikap tegas dibandingkan para pendahulunya.
Wanita memang telah mendapat kesempatan yang sama dengan pria. Kini, banyak posisi-posisi penting yang untuk pertama kalinya dalam sejarah diduduki oleh wanita. Selain Park, ada Christine Lagarde (57), wanita pertama yang menjadi Managing Director International Monetery Fund (IMF). Mantan Menteri Keuangan Prancis (2007 – 2011) ini juga merupakan wanita pertama yang menjadi Menteri Keuangan dari G8 (forum negara-negara termakmur). Bahkan, harian bisnis Financial Times memberinya predikat menteri keuangan terbaik di zona Eropa.
Terlepas dari segala prestasinya, nyatanya tidak semua kebijakan atau keputusannya dianggap tepat. Dua tahun lalu, ia diinvestagasi karena menyetujui pinjaman sebesar 403 juta euro dari dana publik untuk pengusaha Prancis, Bernard Taipie, pada 2008. Menurut hakim-hakim pengadilan perdata Prancis, Lagarde telah menyalahgunakan dana publik. Namun, dengan tegas Lagarde menyanggah telah melakukan kesalahan.
Menurutnya, keputusan itu harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang sudah berlarut-larut, meski banyak menteri yang menentangnya. Hingga saat ini proses sidang masih berlangsung, dan Lagarde ditempatkan sebagai saksi.
Masih dari organisasi PBB, ada Helen Clark (63), wanita pertama yang memimpin United Nations Development Program (UNDP). Mantan Perdana menteri New Zealand ini pernah berkata, “Sudah jadi prinsip yang mengakar, bahwa mereka yang tak terlihat tidak akan mendapat perhatian. Jadi, jika wanita tidak terlihat dalam pengambilan keputusan, maka dalam pembuatan kebijakan mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk menyuarakan hak-hak wanita, perspektif, serta kebutuhan mereka.” (EKA JANUWATI)




