Siapa yang tak tahu Rumah Makan Seulawah di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta. Tempatnya kecil saja dan sederhana, tapi jangan tanyakan jumlah tamu yang mengalir sepanjang harinya. Salah satu pemasak, Ratna Dwikora, selalu nampak di sini, melayani pelanggan. Tak terhitung berapa kali femina datang dan mendengar jawaban mengecewakan dari mulutnya, bahwa asam udeung (alias sambal ‘ganja’) di hari itu habis! Ya, sebentar saja Anda telat, selalu ada sejumlah lauk yang habis. Ratna --lahir di keluarga penggemar masak-- membuka tempat ini kala mengikuti tugas suami di Jakarta. Ia mengawalinya di bulan Juni 1996. Ia mengakui, menjaga orisinalitas rasa sangatlah berat mengingat saat itu bumbu rempah masakan khas Aceh harus dikirim langsung dari daerah asalnya. “Awalnya hanya orang Aceh yang jadi pelanggan. Namun, ketika media mulai melirik makanan daerah untuk diliput, maka penggemar berkembang dari berbagai kalangan dan asal daerah,” jelasnya. Sutradara Riri Riza, Mira Lesmana, dan seniman Butet Kertarejasa kerap terlihat sedang mengantre.
Yang istimewa dari masakan Aceh? Bumbu yang beragam dalam satu masakan sehingga rasanya begitu ‘padat’. “Dalam satu resep saja bisa menggunakan 24 jenis rempah,” ujarnya. Banyak dari bahan ditunggunya dengan setia dari Aceh. Untuk Kuah Pli’u --sayur serupa lodeh-- misalnya, membutuhkan pli’u, kopra dari sisa pembuatan minyak kelapa yang diperas kemudian dibiarkan menetes hingga kadar minyaknya habis. Proses ini sekitar tiga hari. Produksi minyak kelapa yang menurun tajam di Aceh membuat harga pli’u mahal. Walau demikian, Kuah Pli’u masih dicari-cari meski harga per porsinya tak lagi murah.
Pasokan ikan ‘kayu’ di sini juga dari kampung halaman. Ikan kayu atau keumamah merupakan ikan cakalang yang direbus dengan bumbu, kemudian dijemur di bawah panas matahari selama beberapa hari hingga bertekstur seperti balok kayu. Sesuai yang diajarkan keluarga, Ratna menyuwir ikan ‘kayu’ lalu memasaknya berjam-jam dengan bumbu hingga mengering seperti abon ikan. Taipan media Surya Paloh sering memesannya sebagai taburan roti.
Idealisme memperkenalkan budaya makanan Aceh berbuah manis. Salah satunya dengan diundangnya RM Seulawah untuk berpartisipasi dalam banyak festival kuliner di Jakarta. RM Seulawah juga pernah berkesempatan mengisi kios Waroeng 100 Hari di pujasera Urban Kitchen, Plaza Indonesia, serta memiliki kios permanen di Summarecon Mal Bekasi. (f)
Rumah Makan Seulawah
Jln. Bendungan Hilir Raya No. 8, Jakarta
Telp. (021) 5708660


