Trending Topic
Coret Barang Mahal

10 Nov 2015


Meski banyak tawaran menggiurkan dan iming-iming kemudahan berbelanja, belanja online bisa juga tidak senyaman ketika membeli langsung. Riset Asosiasi e-commerce Indonesia bersama Google Indonesia tahun lalu menjabarkan bahwa ada 3 alasan utama mengapa orang masih enggan belanja online. Antara lain, dijelakan Daniel, adalah keraguan akan kualitas produk, kekhawatiran akan keamanan informasi, dan tidak bisa bersentuhan langsung dengan barang yang hendak dibeli.   

Cherry Cemerlang Astari (32), yang bekerja sebagai koordinator check up di sebuah rumah sakit, misalnya. Wanita yang telah memiliki anak berusia 8   dan 4 tahun ini telah berlangganan belanja di ebay sejak kuliah, 15 tahun lalu. Biasanya, ia berburu kaus unik atau mainan anak yang sulit didapatkan di Indonesia. Namun, khusus pakaian atau sepatu yang butuh pengukuran, ia lebih nyaman jika membeli langsung. Kebutuhan pokok bulanan keluarga, seperti makanan dan buah-buahan, juga ia beli secara langsung.
“Saya lebih nyaman dengan cara ini, jadi bisa memilih ukuran sesuai dengan ukuran badan dan melihat kualitasnya. Kalau tidak sesuai kan nanti repot nukar-nya atau mubazir,” katanya, beralasan.
 
Banyak memang yang jadi alasan penghalang konsumen membeli secara online, salah satunya karena takut barang tak pas ukurannya. Brand sepatu Zappos menyiasatinya dengan mengirimkan beberapa ukuran sepatu sekaligus untuk memastikan ukuran yang pas. Sementara retail fashion online Zalora memberlakukan kebijakan retur selama 30 hari dan pembayaran di tempat. Untuk membuat pengalaman belanja  makin nyata, beberapa toko virtual memasang video atau foto 3D dari produk yang dijual.

Banyaknya transaksi bodong di internet atau keamanan informasi kartu kredit juga jadi salah satu keengganan besar orang berbelanja lewat online. Dulu pernah marak kasus penipuan penjualan telepon seluler dengan harga miring dari toko-toko online yang mengaku berpusat di Batam.

Cherry juga baru-baru ini jadi korban penipuan ketika stroller yang dipesannya dari sebuah akun Instagram seharga Rp2,7 juta tak kunjung datang. “Banyak follower ternyata tak menjamin seller tersebut bukan penipu. Karena, sekarang ternyata ada jual beli followers,” sesalnya. Ia telah melaporkan kasus ini pada polisi, namun belum juga ditindaklanjuti. Atas peristiwa ini ia mengaku tidak kapok, melainkan bersikap lebih hati-hati dan selektif.

Banyaknya barang palsu yang dijual di toko online juga membuat Raisa selektif dalam pembelian. “Khususnya make up bermerek yang harganya mahal, saya hanya mau beli di outlet penjualannya langsung, karena takut barangnya sudah kedaluwarsa atau palsu,” katanya. 

Raisa juga selalu belanja di  toko online yang besar dan tepercaya. Ada 3 toko online langganannya, yaitu Berrybenka, Blibli, dan Zalora. “Saya percaya toko-toko online tersebut kredibel. Tapi, saya tak lepas khawatir pada kualitas barang yang dijual. Karena, barang yang dijual kan titipan dari rekanan toko mereka. Makanya, saya selalu menghindari untuk membeli barang-barang mahal,” ujarnya.  

Agar terhindar dari hal-hal yang tidak menyenangkan ketika berbelanja online, Cyltamia menyarankan calon pembeli agar tidak mudah terpukau oleh tampilan situs yang keren atau harga yang sangat miring. Daniel juga mengingatkan agar calon pembeli membaca dengan teliti deskripsi produk, jaminan garansi pembelian barang, serta syarat dan ketentuan dari toko online tersebut.          

“Pengguna smartphone tentu harus menjadi smart customer juga. Rajinlah membaca testimoni dan referensi dari pembeli sebelumnya atau review tentang seller lewat mesin pencari Google,” sarannya.

Bisa jadi konsumen di Indonesia sudah cukup smart dalam melakukan pembelian online. Bersikap tak jorjoran belanja untuk mengurangi risiko kerugian  tercermin di hasil polling. Mayoritas, atau sebesar 55%, menjawab mereka hanya menghabiskan di bawah Rp500.000 dalam sebulan untuk belanja online. Frekuensi rata-rata mereka belanja online dalam sebulan pun masih terbilang rendah, yaitu hanya 1-3 kali sebulan.  

Bisa dibilang, angka ini masih  termasuk rendah dibandingkan dengan Cina yang sudah sangat maju industri e-commerce-nya. Meski pertumbuhan pengguna internetnya sudah meningkat menjadi 74,6 juta tahun lalu,  pengeluaran belanja online kita hanyalah sebesar 1% dari total penjualan retail. Sedangkan Cina mencapai 7%, dan Singapura mencapai 5% (Data BMI Research).

Angka yang masih terbilang rendah ini, menurut Daniel Tumiwa, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia, tidak dipungkiri karena penetrasi internet yang belum meluas di Indonesia. “Penetrasi internet di Indonesia baru 30%. Angka ini masih jauh dibandingkan Singapura yang mencapai 73% atau Malaysia sebesar 65%. Artinya, potensi pertumbuhan bisnis online  di Indonesia masih sangat luar biasa. Apalagi mengingat populasi pengguna internet di Indonesia akan terus meningkat,” ujar Daniel. (f)

Reynette Fausto 

          


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?