Langsung hamil setelah menikah, kadang membuat kita merasa suami berebut perhatian dengan si kecil. Bagaimana membuat suami bisa mengerti? Kata Irma:
Anda dan suami baru memasuki tahap kehidupan baru dan Anda berdua butuh waktu untuk saling menyesuaikan diri. Belum lagi selesai beradaptasi, muncul anggota keluarga baru yang butuh penyesuaian diri juga. Ketahuilah, tak semua orang siap menghadapi perubahan dalam hidupnya. Apalagi jika hal itu terjadi dalam waktu singkat.
Kemungkinan suami mengalami kesulitan dalam menjalankan peran barunya sebagai seorang suami dan ayah sekaligus, sehingga mengikis rasa percaya dirinya. Dengan menuntut perhatian berlebihan, sebenarnya suami ingin menunjukkan bahwa ia membutuhkan diri Anda.
Satu hal yang harus disadari, anak Anda membutuhkan perawatan dan kehangatan dari kedua orang tuanya. Pengelolaan rumah tangga dan pengasuhan anak adalah kewajiban Anda berdua. Ajak suami ikut mengatur pembagian tugas. Kehangatan di antara Anda berdua akan meningkat apabila kedua pihak sama-sama merasa dihargai dan dimengerti.
Kata Monty:
Mana yang lebih Anda harapkan, suami yang sibuk sendiri dengan kegiatannya atau suami yang selalu minta dilayani oleh istrinya? Anda semestinya bersyukur mendapati suami yang begitu membutuhkan kehadiran istrinya. Jika suami merasa terabaikan, bukan tidak mungkin hubungan Anda dan suami akan makin renggang.
Tak selayaknya Anda mengeluh dalam menjalani peran sebagai ibu dan wanita karier. Bukankah ini pilihan Anda sendiri? Agar suami bisa terlibat dalam aktivitas Anda bersama si kecil, mintalah ia mulai membantu menangani hal-hal kecil, seperti membantu menyiapkan pakaian anak.
Kalaupun ia merasa cemburu, coba atasi hal ini dengan bijaksana. Minta pengertian suami agar Anda bisa menyelesaikan tugas terlebih dahulu, baru kemudian meladeni permintaannya. Coba bicarakan masalah ini dengannya, agar tercipta kompromi dan pembagian tugas yang imbang di antara Anda berdua. (f)


