Dukungan teknologi genggam dan internet yang meruntuhkan sekat-sekat ruang dan waktu. Tak perlu hadir secara fisik untuk bisa berkontribusi dan mengaktualisasi diri, cukup bekerja secara remote dari mana pun yang dianggap nyaman dan kondusif. Begitu pula dengan para pelaku startup yang tak merasa perlu memiliki gedung sendiri sebagai kantor. Tepat di momen inilah co-working space hadir untuk menjawab kebutuhan para digital nomad ini akan ruang, fasilitas, serta atmosfer yang kondusif untuk berkreasi.
“Kami menyebutnya the future of work,” ungkap Risyiana Muthia, Marketing Communication Hub-In-Ubud, co-working space di Ubud, Bali. Menurutnya, pergerakan tren co-working space di Indonesia dalam dua tahun belakangan ini didorong oleh makin banyaknya kalangan pekerja dan entrepreneur di Indonesia yang juga merupakan location-independent professionals, atau kaum profesional yang tidak terbatas lokasi.
“Mereka ini bisa memilih untuk bekerja di mana saja, sesuai keinginan, tanpa ada batasan tempat dan geografi,” ujar wanita yang juga bertindak sebagai special host di Hubud ini.
Benih dari co-working space ini berawal di Amerika, yaitu di tahun 2005, ketika Brad Neuberg bersama rekannya mendirikan Citizen Space di San Francisco, Amerika Serikat. Pergerakan ini terjadi setelah era SOHO (Small Office Home Office), yaitu sebuah pojok kantor yang ada di rumah Anda. Seiring makin banyaknya pekerja mandiri yang membutuhkan ruang untuk bekerja, berkembanglah konsep co-working space yang bisa menampung kebutuhan ini.
Di tanah air, beberapa pionir dari co-working space adalah Hackerspace di Bandung, diikuti kemudian dengan COMMA (Collaboration Matters), Conclave, dan Regus, persewaan ruang kantor di Jakarta. Kini jumlahnya telah mencapai belasan dan akan terus bertumbuh.
Co-working menjadi kata kunci yang memberikan ciri khas pada budaya kerja baru ini. Di sini, para pelanggan co-working space tidak hanya bekerja di ruang atau meja yang sama, tapi juga didorong untuk saling berinteraksi. “Jadi, tidak cuma menyediakan fasilitas kantor, co-working menjadi sebuah gerakan sekaligus medium untuk berjejaring dan berkolaborasi. Bahkan, bukan tidak mungkin kegiatan berjejaring di antara pengguna co-working space ini kemudian menciptakan bisnis baru yang lebih berdampak,” jelas Yohan Totting, pendiri HackerspaceBDG, co-working space pertama di Indonesia yang berlokasi di Bandung.
HackerspaceBDG adalah salah satu dari lima ruang co-working yang disediakan oleh Co&Co Space di Bandung. Masing-masing ruang co-working memiliki ciri khas sendiri. Arch Studio lebih fokus ke konsultan arsitektural, Shau Studio, meski sama-sama berbau arsitektur, juga mencermati urusan urban planning, sementara Cofund sering dipilih oleh mereka yang bergerak di bisnis manajemen finansial dan investasi, dan Omoi menjadi pilihan bagi mereka yang menekuni dunia craft.
Lingkungan bekerja seperti ini menjadi bonus plus-plus tersendiri bagi Almaviva Landjanun (32), arsitek lansekap yang bersama rekan-rekannya mendirikan startup DFORM yang bergerak di bidang kreatif berbasis arsitektur. Sejak Agustus tahun lalu mereka memilih HackerspaceBDG sebagai markas tempat mereka berkarya. Di tempat ini ia bekerja dengan berbagi meja bersama para profesional di bidang lain, yaitu mereka yang bergerak di dunia IT, gaming, programmer, serta web designer & developer, atau penulis lepas.
“Teman-teman IT dengan senang hati membantu ketika website kami sedang bermasalah. Kami juga sering mencari masukan profesional dari mereka. Ketika kami membuat materi website, teman-teman yang berprofesi sebagai desainer web membantu kami menemukan platform yang tepat,” ceritanya, senang.
Kolaborasi ini bahkan tidak lagi bersifat lokal, tapi juga membuka kesempatan untuk berjejaring di tingkat internasional. Seperti yang dilakukan oleh Hub-In-Ubud saat mengadakan Coworking Unconference Asia (CUASIA), Januari lalu. Di kesempatan itu mereka mengundang operator co-working space dari seluruh Asia.
Selama lebih dari 3 hari, 135 peserta dari lebih 30 negara, termasuk para operator co-working space di Indonesia, datang ke konferensi ini. Dalam waktu tiga hari itu mereka menggelar berbagai diskusi panel tentang isu-isu terkini seputar dunia digital startup, budaya kerja baru generasi milenial. “Salah satunya mengusahakan berbagai kerja sama yang akan memberikan benefit bagi para anggota co-working space, termasuk para operatornya,” jelas Risyana. Berikutnya, CUASIA rencananya akan digelar pada Februari 2016.


