Usia tak bisa menghalangi siapa pun untuk menjadi pemimpin. Ketika Anda sampai di posisi atas manajemen di usia yang terbilang muda, sering kali Anda membutuhkan mereka yang lebih senior dan lebih berpengalaman dalam tim. Namun, perasaan sungkan saat mendelegasikan tugas, atau minder karena lebih muda dan merasa kurang pengalaman, sering kali tak terhindarkan. Menghadapi tantangan ini, diperlukan jiwa kepemimpinan yang tegas, berwibawa, namun tetap membumi.
Belajar dari Orang Lain
Kepemimpinan adalah sesuatu yang bisa dipelajari, tak memandang usia ataupun jenis kelamin. Menurut konsultan karier Ferry W. Atmadi, dari Management Development International, seorang pemimpin mendapatkan ilmu tidak hanya dari pengalamannya sendiri, tapi juga pengalaman orang lain yang bekerja bersamanya. “Itu sebabnya, seorang pemimpin harus rendah hati. Dalam arti, mau belajar dari orang lain,” jelas Ferry.
Hal ini dipahami Stefanie Kurniadi (27). Ketika pertama kali dipercaya memiliki anak buah, ia baru berusia 21 tahun. Memegang posisi creative director, ia harus membawahi orang-orang yang setidaknya 5 tahun lebih tua darinya. “Saya ‘lahap’ semua buku tentang dasar-dasar manajemen, saya ngobrol dengan banyak orang. Saya belajar hal-hal yang tidak saya dapatkan di sekolah,” ujarnya.
Ferry menjelaskan, sebetulnya memang seorang pemimpin muda tidak perlu segan atau minder dengan posisinya, sebab mereka memiliki beberapa kelebihan. Antara lain, kemampuan untuk menyerap informasi lebih cepat daripada generasi sebelumnya.
“Umumnya, staf yang lebih senior memiliki pengalaman yang lebih banyak, sehingga skill¬-nya di lapangan juga lebih tinggi. Sebaliknya, staf yang lebih junior lebih sedikit pengalaman dan skill di lapangan, tapi pengetahuannya sangat tinggi dan up-to-date. Di sini, mereka bisa saling melengkapi,” jelas Ferry.
Michael Fertik dari jurnal Harvard Business Review juga memberikan sejumlah panduan untuk para bos ‘kecil’. Salah satu yang terpenting adalah kebesaran hati untuk meminta opini dan bantuan dari mereka yang lebih senior, bahkan saat Anda sebetulnya tidak memerlukannya. Lakukan ini, terutama jika topiknya sesuai bidang atau area expertise mereka.
“Meminta masukan akan membuat staf Anda merasa pendapatnya dihargai dan menjadi bagian penting dari perusahaan. Kearifan ini akan memberi mereka gambaran positif tentang kepemimpinan generasi Anda. Motivasi bekerja mereka bisa jadi lebih tinggi,” tutur Michael.
Tenang Saat Krisis
Memang tak bisa dipungkiri, budaya senioritas terkadang menggelayuti banyak pemimpin muda. Seperti yang diakui Anita Feng (31), seorang marketing manager consumer yang bergerak di bidang pangan. Pemenang sejumlah penghargaan bisnis dan karier ini mengaku ketika baru menduduki posisinya ia pun pernah diragukan kompetensinya. Namun, ia tidak goyah.
“Ada masanya saya selalu ingin mengambil keputusan yang menyenangkan semua pihak. Tapi, karena hal itu tidak mungkin, yang bisa saya lakukan adalah memastikan bahwa semua keputusan adalah yang terbaik untuk perusahaan,” ungkap wanita lulusan Master of Business Administration dari Prasetiya Mulya Graduate School of Management ini.
Ferry menegaskan, setiap pemimpin harus menyadari bahwa mereka berada dalam posisinya sekarang karena prestasi. “Buka pikiran orang-orang yang meragukan Anda. Buktikan bahwa Anda mencapai posisi itu dengan kerja keras dan pengetahuan yang di atas rata-rata. Saat terjadi krisis, tunjukkan bahwa Anda tetap bisa tenang dan mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.
Belajar tentang kepemimpinan bukan satu-satunya PR seorang pemimpin muda. Mereka juga harus belajar bagaimana menciptakan dan mempertahankan karismanya. “Karisma bisa dilatih, bisa juga diturunkan. Dari mana pun asalnya, karisma harus dijaga,” tegas Ferry.
Bagaimana caranya? Dimulai dari yang sederhana, yaitu melatih kemampuan verbal dan bahasa tubuh. Saat memberi pengarahan, seorang pemimpin harus paham apa yang dibicarakan dan menyampaikannya dengan artikulasi jelas dan tegas (bukan galak). Posisi berdiri, duduk, berjabat tangan, juga penting untuk kesan pertama dan seterusnya. “Kesannya sepele. Tapi, pembawaan diri adalah salah satu yang akan meninggalkan kesan baik atau buruk tentang Anda pada diri orang lain. Aura seorang pemimpin, berapa pun usianya, akan terlihat dari bahasa tubuhnya,” ujar Ferry.
PRIMARITA S. SMITA


