Sebagai traveler, salah satu hal utama yang harus dilakukan untuk bisa membaur dengan warga lokal adalah dengan membuka pikiran. Menurut Evi Aryati Arbay, operator tur khusus untuk wisata ke suku-suku adat terpencil di Nusantara, seperti Mentawai, Dayak, Asmat, Korowai, Dani, dan sebagainya, berwisata ke etnis unik adalah sebuah pengalaman yang langka. “Bebaskan diri untuk ikut arus dan menyelami kehidupan di sana. Kalau memang tidak ada sinyal internet dan telepon, nikmati saja. Main bersama mereka, ikut keseharian mereka,” ujar Evi, yang mengatakan, kita juga harus siap untuk mandi di sungai dan tinggal di rumah tradisional warga. Hal lain yang juga tidak kalah penting adalah seorang traveler harus mengikuti peraturan dan norma di lokasi yang dikunjungi. Salah satu contohnya, tentang kebiasaan memotret.
Perlu diketahui bahwa tidak semua tempat bebas difoto. Terlebih lagi, di beberapa suku adat. Saat mau memotret sebaiknya lakukan pendekatan terlebih dahulu dengan warga, jangan langsung mengeluarkan kamera. Bagaimanapun, etika harus dijaga.
“Saya pernah membawa grup komunitas fotografi dari Malaysia. Mereka sudah di-briefing, enggak boleh sembarangan motret. Namun ada saja yang memotret di pinggir jalan. Dia pun dihampiri seorang warga dan diminta bayar Rp2 juta,” kisah Evi.
Evi menambahkan, ada sebuah kampung tradisional di Wamena yang terkenal dengan mumi. “Kalau di situ, sudah jelas ada tarifnya. Untuk mengeluarkan mumi, biayanya Rp150.000 untuk foto 1 grup. Kalau kita mau foto dengan mumi dan suku Dani, per orangnya Rp10.000. Kalau motret-nya 5 kali, berarti bayar Rp50.000,” jelas Evi.
Lantas, bagaimana dengan memotret dari ponsel? “Aturannya berlaku sama. Sebaiknya pastikan dulu situasinya. Di tempat tertentu, misalnya di kampung mumi, kadang warganya juga menganggap kamera ponsel sama dengan kamera besar. Umumnya, sih, tidak masalah. Kadang-kadang mereka juga senang diajak selfie bareng. Tapi, ada baiknya bicarakan dulu dengan guide lokal Anda,” tutur Evi.
Hal senada juga disampaikan oleh Yunita Widjaja, tour leader yang sering membawa rombongan trip ke luar negeri. Meski kita tidak mengenal budaya di tempat-tempat yang kita kunjungi, ada hal-hal common sense yang berlaku universal. Yunita mencontohkan, misalnya pakaian sebaiknya jangan mencolok. “Tak sedikit orang Indonesia yang saya temui, kalau traveling baju dan dandanannya heboh banget. Walaupun orang kaya, low profile sajalah. Jangan memakai aksesori fashion merek premium yang mudah diidentifikasi orang,” saran Yunita, yang mengatakan, bukan hanya di Indonesia, di Italia, Belanda, bahkan Swiss pun ada copet.
Masalah foto, Yunita juga mengatakan, ada beberapa tempat di luar negeri yang harus diwaspadai. “Saat saya ke Colosseoum di Roma, Italia, misalnya, ada orang berpakaian admiral. Spontan banyak anggota rombongan yang meminta berfoto. Eh, tidak tahunya dia minta dibayar,” tutur Yunita.
Cara penduduk memperlakukan turis juga berbeda-beda. Fabiola Lawalata, seorang travel blogger, membagi pengalamannya berkunjung ke negara-negara yang bukan destinasi mainstream turis di negara pecahan Uni Soviet, seperti Georgia dan Armenia. “Mereka menganggap bahwa tamu adalah manusia yang dikirim oleh Tuhan. Jadi, jangan heran jika mereka begitu ramah kepada pendatang. Sekilas wajah mereka memang terkesan dingin, tapi jangan terkecoh dan mulailah untuk tersenyum lebih dulu. Senyum sesungguhnya punya efek menular,” kata Fabiola.
Cerita dari Bosnia Herzegovina juga memiliki kesan tersendiri. Siapa sangka negara yang namanya sering menghiasi layar berita di televisi di tahun 1990-an karena kondisi perangnya, pada saat ini adalah negara yang memberikan banyak kejutan menyenangkan.
“Sejarah perang yang pernah menjadi bagian gelap sejarah menjadikan mereka bangsa yang giat merangkak demi kehidupan yang lebih baik. Jangan kaget, ya, jika saat sarapan mereka memberikan Anda segelas kecil minuman beralkohol. Bukan untuk mabuk-mabukan, melainkan ini adalah bagian dari budaya sehari-hari mereka,” tuturnya. (f)


