Mengadakan pesta pernikahan dengan jumlah undangan terbatas tentunya tidak mudah. Perbedaan pendapat mengenai besarnya pesta pernikahan antara generasi tua, yang kental dengan karakteristik masyarakat komunal, dengan generasi yang lebih muda tentunya berpotensi menimbulkan konflik tersendiri. “Saat menentukan jumlah undangan, saya terpaksa bergesekan dengan orang tua. Mereka ingin mengundang semua orang yang mereka kenal, namun saya bertahan dengan jumlah tamu maksimal 300 orang. Tiap kali orang tua minta undangan lagi, saya langsung menolaknya dengan alasan sudah habis,” papar Adyahcita yang biasa dipanggil Deyta.
Konsep acara juga bisa menjadi titik pertengkaran dengan orang tua. Misalnya saat undangan pernikahan berwarna hitam dengan sentuhan Aborigin yang dinilai negatif oleh orang tuanya. Atau ketika orang tuanya meragukan konsep pesta malam hari Deyta dan Mike, yang meminta para undangan untuk tidak membawa anak-anak, karena di pesta disediakan minuman beralkohol. “’Bener, nih? Yakin tamu-tamu enggak apa-apa?’ begitu tanya Mama dan Papa,” cerita Deyta, tertawa.
“Sebagai hiburan, kami juga tidak menyewa band, namun ada DJ yang memutarkan musik dari koleksi lagu pilihan dari iPod kami berdua. Lagi-lagi ini sempat menimbulkan perdebatan dengan orang tua. Tapi akhirnya orang tua memercayakan semuanya kepada kami. Apalagi para tamu juga memuji konsep acara yang kami buat,” jelas Deyta lagi.
Generation gap ini sangat mungkin terjadi, mengingat sebagai orang Indonesia, sangat mengekalkan prinsip ikatan kekerabatan. “Kita harus melihat kembali seberapa kuat kekerabatan yang berkembang atau terjalin di dalam keluarga itu sendiri. Kalau ternyata kekerabatannya tidak terlalu berkembang, sebetulnya orang tua tidak terlalu punya beban. Namun, jika sebaliknya, wajar saja jika pihak orang tua memiliki pendapat yang berbeda,” papar Ida.
Sebagai pemegang karakteristik masyarakat komunal, apa yang menjadi penting di mata masyarakat juga menjadi penting bagi para generasi tua ini. Dengan kata lain, mereka khawatir, jika pesta pernikahan anak-anaknya tidak dirayakan secara besar-besaran, jangan-jangan ada yang salah dengan pernikahan tersebut? “Mereka merasa perlu untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa anak-anak mereka sudah menikah secara legal dan tidak ada masalah,” jelas Ida.(RULLY LARASATI)



