Dalam hal mendandani anak, memang agak sulit membuat orang tua mengerti kalau anaknya belum tentu cocok didandani seperti kemauan orang tua. Kalaupun dikasih saran, bisa-bisa mereka akan tersinggung. Padahal, sering kali kita gemas dan ingin ngomel pada si orang tua yang anak-anak mereka berpakaian tidak cocok untuk umurnya. “Di lomba-lomba fashion anak-anak misalnya, orang tua masih mengarahkan anaknya untuk berlenggak-lenggok dan berpose di catwalk sambil berkacak pinggang,” cerita Syahmedi Dean, pengamat mode. Padahal, di dunia mode, menurut Dean, berkacak pinggang itu sudah basi.
Kalau mau melihat lebih jauh, sebelum meminta anak-anak berbuat ini itu, seharusnya orang tau paham dulu esensinya. “Di dunia mode, model dewasa berlenggak-lenggok itu tujuannya untuk membangun chemistry antara pria dan wanita. Supaya terlihat sensual di mata pria. Kan tidak pas hal ini diterapkan untuk anak-anak,” sesal Dean. Hal ini sebenarnya akibat dari tidak terbiasanya orang Indonesia berkomunikasi visual. Mereka kurang mengerti apa yang harus ditampilkan.
Sulitnya, untuk punya kemampuan advance dalam bicara fashion, seseorang harus punya pengalaman tertentu. Bukan berarti harus terjun di dunia fashion, tapi cukuplah senang membaca, mengamati, dan mencari referensi. Menurut Dean, orang tua muda di zaman sekarang yang usianya 35 tahunan, yang merupakan generasi yang tumbuh di era sebelum majalah melimpah dan sebelum internet ada. “Dulu saat mereka remaja, jarang mencoba-coba gaya karena kurang referensi. Akhirnya kini ketika mudah mencari referensi, anak bisa jadi pelampiasan imajinasinya,” ujar Dean.
Namun tak perlu khawatir, jika Anda mampu secara finansial dan pengetahuan, silakan saja membuat buah hati Anda tampil keren. Namun, sebaiknya Anda tidak mudah memberikan produk mahal ke anak-anak. Menurut Vera, nilai-nilai di rumah tentang kesederhanaan harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini, termasuk dalam memilih baju dan aksesori. Jika penanaman prinsip ini tidak kuat, maka anak bisa jadi merasa berbeda dari teman-temannya dan menimbulkan kesenjangan.
“Di usia SD anak-anak sudah bisa membuat kelompok dengan anggota yang dianggap sama. Misalnya, pakai tas bermerek sama, sering main ke mal mana, dan lain-lain. Kalau mau ikut kelompok ini, berarti harus bisa mengikuti teman-teman sekelompoknya,” ungkap Vera. Inilah yang bisa menimbulkan peer pressure di antara mereka.
Karena itu, supaya anak tidak jadi stres, karena peer pressure yang mereka terima, bangunlah rasa percaya diri mereka. Caranya, sebagai orang tua kita harus bisa menekankan dan mengajar anak-anak dengan cara menggali kelebihan anak itu. “Misalnya dengan mengatakan, ’Kamu enggak perlu dandan seperti itu, karena kamu kan jago matematika,’ atau ‘Tanpa kamu harus pakai tas seperti itu, kamu juga sudah pandai di sekolah,’ dan lainnya,” papar Vera. Dan ternyata, berdasarkan pengalaman Vera, jika orang tuanya tidak konsumtif, sederhana, si anak akan lebih tough menghadapi tekanan dari temannya.
ARGARINI DEVI
Baca juga: Sebelum memutuskan 'kembaran' dengan si kecil, perhatikan dulu beberapa rambu ini.


