Hal lain yang dibutuhkan dari seorang volunteer, selain skill dan passion, adalah komitmen dan tanggung jawab untuk menyukseskan acara. Untuk acara-acara besar yang berlangsung beberapa hari, seperti festival musik atau festival film, yang dibutuhkan minimal adalah komitmen untuk bisa memenuhi tugas dengan jadwal yang sudah ditentukan. Di Ubud Writers and Readers Festival, biasanya volunteer diharapkan dapat bertugas selama 4 jam sepanjang 4 hari. Namun, tidak dipungkiri, banyak dari volunteer yang memiliki komitmen yang melebihi ekspektasi. Terbukti dari banyaknya orang yang mendaftar lebih dari sekali atau dua kali. Mereka yang sudah berpengalaman ini biasanya diangkat Ochie menjadi supervisor, dan peran mereka biasanya juga sudah lebih dari sekadar kru.
“Ada pasangan paruh baya asal Australia yang sudah bertahun-tahun menjadi volunteer. Bisa dibayangkan, kontribusi mereka kini tidak lagi cuma tenaga, tapi juga ide-ide untuk memperbaiki acara tiap tahunnya,” ujar Ochie Chandra DeMeulenaere, yang sebelum menjadi pegawai tetap awalnya juga menjadi volunteer UWRF.
Memang, meski menjadi volunteer terkesan hanya sebagai pengisi waktu luang, ada banyak kesempatan untuk pengembangan diri dan karier yang ada di sana. Seperti yang dituturkan Lenni Tedja dari Jakarta Fashion Week. “Tidak jarang mereka yang memiliki performa bagus di show akan diajak lagi untuk show tahun berikutnya, atau malah kami hire sebagai pegawai tetap,” ujarnya.
Beberapa acara lain yang membutuhkan penggodokan konsep yang lebih matang, membutuhkan komitmen yang lebih besar. Misalnya di TEDx Jakarta, kontribusi yang dibutuhkan bukan hanya di hari H acara, tapi juga jauh sebelumnya sejak proses brainstorming ide. “Membuat acara yang berkualitas, selain susah juga menyita banyak waktu. Hebatnya, orang-orang yang terlibat di sana sebetulnya sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tapi mereka masih mau meluangkan waktu, tanpa dibayar sepeser pun. Itulah, karena ‘bayaran’-nya memang berbeda,” tutup Arief Aziz, tersenyum. (f)


