Semoga kebeningan matanya hanya melihat kebahagiaan yang terpancar dari kemesraan orang tuanya. Senyum yang memang terasa manis untuk Selim. Tapi tidak begitu dengan orang tuanya; Rangga dan Widia.
“Waktunya berangkat, Nak!” Rangga mengakhiri sarapannya.
Widia mengantar hingga teras sambil menjinjing tas anaknya yang telah diisi dengan bekal. Memberikan punggung tangan kanannya untuk dicium Selim. Tangan yang lain mengelus lembut rambut Selim.
Lalu ia melambaikan tangan ketika mobil melaju meninggalkan rumah. Setelah mobil lenyap dalam pandangan matanya, Widia menghela napas. Selalu berharap udara segar pagi hari mampu mengusir keresahan yang menguasai hatinya.
Widia kembali masuk. Membereskan sarapan menjadi tugas terakhirnya sebagai ibu rumah tangga. Untuk hal lainnya, Widia menggunakan jasa orang lain.
Widia lebih banyak tenggelam dalam kesibukan mengurus bisnis on line. Menyebarkan promosi, bertransaksi dengan calon pembeli, kontak partner, ketemuan dengan sejumlah klien, lalu menikmati sisa hidup yang masih bisa ia jalani.
Hanya ada satu jadwal yang menyelangi kesibukan Widia. Pada jam sepuluh pagi, ia harus kembali mengatur pita suaranya seperti seorang pemain sandiwara radio. Menelpon Rangga dengan nada suara yang tak mencurigakan.
Meski hanya menanyakan apakah Rangga akan menjemput Selim atau tidak, Widia tetap harus memberi kesan agar semuanya tetap kelihatan baik-baik saja.
* * *
“Papa lagi ada kerjaan di sekitar Pasteur.” Kata Rangga, Tepat pada jam sepuluh pagi. “Iya, Mama aja ya yang jemput Selim. Oke…, bye.”
Lebih sering berada di luar kantor. Itulah yang dilakukan Rangga sebagai Manager Pemasaran di perusahaannya. Cukup beruntung karena jangkaunnya hanya sekitar Bandung Raya.
Meski hanya berada dalam cekungan Bandung, dunia di mata Rangga kadang terasa sempit, juga kadang-kadang terasa luas. Terasa sempit, karena selama ini ia menyinggahi—atau sekadar lewat—kepingan masa lalu yang masih bisa ia tata kembali.
Terasa luas, karena ia leluasa bermain petak umpet di antara kepungan gedung-gedung.
“Dari istrimu?” tanya Melani. Rangga membalikan badan dan menatapnya. Melani tersenyum sinis. “Setiap hari istrimu menelpon untuk percakapan yang sama.”
“Mungkin itu yang diinginkannya.” Rangga kembali duduk di sofa. Ia tak terlalu fokus pada minuman dan makanan yang ditawarkan Melani.
Sorot matanya menguliti sosok Melani, yang menurutnya tetap jauh lebih cantik. “Mungkin itu caranya untuk tetap menjaga komunikasi.”
“Lalu, kamu melakukan ini untuk tetap menjaga hubungan kita?” pancing wanita yang menggeluti bisnis investasi food retail. “Masuk ke tiap mall sesuai schedule?”
“Aku manajer, aku bisa mengaturnya untuk bisa masuk ke schedule-mu, Mel.” Rangga memang selalu tahu maksud dari arah pembicaraan. Ia menerima segelas orange yang diberikan Melani. “Terima kasih.”
Keheningan sejenak menyergap ruangan kantor manajemen sebuah Mall. Hanya terdengar suara seruput dan helaan. Tatapan tetap beradu saat mencicipi pempek udang.
Menu baru yang ditawarkan salah satu merk outlet makanan, di mana Melani mendapatkan laba dari investasi yang dibenamkan di konsorsium merk.
“Empe-empe dengan potongan udang. Bumbunya ditambah campuran kemiri dan lada. Bagaimana menurutmu?” Melani meminta saran saat memberi promosi.
Sebagai seorang investor, Melani tak hanya duduk mencermati perputaran saham. Menengadahkan tangan ketika akan mendapatkan keuntungan. Menjual saham dengan formula ambil untung atau jigobur. Melakukan buyback di waktu kepepet. Tidak, ia sangat hati-hati dengan bisnis investasinya.
Melani menyadari, ia begitu lama merayap di tempat paling licin untuk bisa berdiri seperti hari ini.
“Rasanya aneh,” Rangga menanggapi. Mencelupkan sepotong pempek pada bumbu, lalu memasukan ke mulut. “Tapi lezat. Aku pesan untuk anak dan istriku.”
“Sandiwara yang aneh,”
Rangga mematutkan tatapannya ke mata Melani sambil memotong pempek. Ia kembali mencelupkan, lalu melahapnya. Dan seperti itu juga Melani. Potong, celup, dan makan.
Dalam pikiran, keduanya mengingat sekelumit kejadian di waktu SMA. Beberapa kepingan ingatan sewaktu jajan di kantin pada jam istirahat. Kantin sekolah.
Bermula dari lantunan lagu Buku Ini Aku Pinjam milik Iwan Fals, dan berlanjut pada senandung Chrisye bertajuk Kisah Kasih di Sekolah. Kenangan yang sulit dilupakan.
Selama bertahun-tahun kenangan manis pada masa SMA masih membekas dalam ingatan. Meski keduanya telah menikah dengan orang yang berbeda. Hingga waktu mempertemukan mereka dengan cara yang tak terduga.
Enam bulan yang lalu, Rangga mencari jenis usaha retail makanan untuk memasarkan produk perusahaan, berupa bumbu masak dan sejumlah bahan makanan.
Saat menjalankan tugas itulah, Rangga bertemu dengan Melani, perempuan yang membuatnya bisa menghilangkan rasa cinta pada sang istri.
Gayung bersambut. Melani mengambil keuntungan dari harga beli yang lebih rendah. Selain faktor bisnis, faktor X juga didapat Melani. Hingga ia merasakan gairah yang berlipat untuk mencapai sesuatu yang disebutnya sebagai kesempurnaan hidup.
“Sandiwaramu sendiri bagaimana kelanjutannya?”
“Aku tidak bersandiwara.” Tepis Melani.
Menaruh garpu dan pisau di sebelah piring. “Aku melakukan perang terbuka. Bukan permainan di belakang topeng.”
Melani melanjutkan ocehannya. Lantas menyeruput minuman lewat sedotan.
“Oke, fine…”Rangga pun menaruh garfu dan pisau.
Selera makannya langsung surut setelah dihantam oleh perkataan Melani. Namun, bukan marketing namanya, bila tidak bisa berkelit.
“Aku sudah punya anak. Itu yang membuatku sangat hati-hati.”
“Selamanya tidak akan punya anak.” Sambut Melani. Mengelap bibir dan sekitarnya dengan tissu. “Kenapa dulu kau tak mengatakan jika temanmu itu mandul?”
Rangga tersenyum nyinyir. Demi Tuhan, ia pun tidak tahu hal itu. Namun Rangga menganggap itu adalah kutukan buat Fredi.
Bagaimana tidak, sahabat yang dikenalnya saat SMA, telah berani menelikung dari belakang, hanya karena ia punya usaha keluarga yang mapan, yang bisa digeluti sambil kuliah.
Melani pun sangat ironis kala itu. Berdalih tidak ingin menjadi anak durhaka, ia menuruti perintah orang tuanya untuk menerima lamaran Fredi. Putra bandar sapi itu akan menanggung biaya kuliah Melani sampai lulus S1.
Atas alasan itulah, Rangga tak ingin waktu kosongnya di sela jadwal kuliah diisi dengan lamunan dan ratapan. Rangga melampiaskan rasa sakitnya dengan bekerja paruh waktu sebagai marketing freelance.
“Dua hari lagi digelar sidang gugatan cerai. Semoga dilancarkan…”
Rangga menghela napas berat. Membayangkan ia akan kembali terjebak dalam dilema yang lebih rumit dari yang pernah ia alami di masa lalu.
* * *
Malam terasa lebih dingin dan senyap bagi pasangan suami istri yang telah kehilangan rasa cinta. Rangga dan Widia merasakan itu selama ini, namun berusaha menyembunyikannya.
Saat keduanya memasuki kamar, bukan percakapan dan pelukan hangat. Keduanya terpaku di depan layar laptop masing-masing, di meja yang juga berbeda.
Siapa yang ngantuk duluan, dia yang lebih dulu mematikan laptop lalu beranjak ke tempat tidur. Mengucapkan selamat tidur sebelum menarik selimut.
Beberapa hari terakhir ini Widia yang tidur lebih dulu. Rangga memperhatikan Widia, setiap usai mematikan laptop, istrinya selalu menuliskan sesuatu di block note.
Entah apa yang ditulis Widia. Karena setelah selesai, Widia langsung memasukan block note ke dalam laci yang terkunci. Itu kebiasaan yang aneh. Namun Rangga tidak mempedulikannya.
Ia lebih peduli pada isi kepalanya. Suara yang terus menggaung setiap malam.
“Aku telah resmi menjanda. Kutunggu empat puluh hari. Buatlah keputusan.”
Rangga tidak bisa mengabaikan suara itu. Suara yang bermetamorfosis menjadi bayangan menyeramkan, yang menghantui tidur malamnya.
“Bagaimana bisa aku punya alasan untuk menceraikan Widia? Itu terlalu dramatisir.”
Gumam Rangga. Melirik kembali ke arah istrinya.
“Aduh…”
Widia meringis. Memegang ulu hatinya saat berdiri. tangannya yang lain memegang pinggul saat melangkah menuju tempat tidur, Widia berjalan terhuyung.
“Mama, ada apa?”
Rangga segera beranjak. Memapah istrinya menuju tempat tidur. Membaringkan. Tangan dan kaki istrinya terasa dingin.
Sementara panas tinggi dirasakan di kening dan leher. “Mama, sekarang kita ke rumah sakit.”
“Enggak, Pap! Mama baik-baik aja.”
“Tidak… Ini tidak baik!”
* * *
Tidak ada sereal gandum, air putih, senyum tawar yang dipaksakan, dan percakapan ringan di tengah sarapan. Selim selalu melengkungkan bibirnya setiap kali menatap ayahnya.
Selim seolah membaca sesuatu di balik gurat wajah Papanya. Kebeningan matanya melihat kekhawatiran yang menguar dalam tatapan Papanya.
“Waktunya berangkat, Nak!”
Rangga sudah merasa cukup sarapan dengan secangkir kopi dan sekerat roti.
Selim masih duduk dengan wajah cemberut. Memegang nasi bento yang baru diantarkan karyawan restoran 24 jam.
Nasi bento menjadi pengganti masakan mamanya yang biasa menjadi menu sarapan sekaligus bekal.
“Ada apa, Nak?”
Rangga masih bisa memberikan senyum manis pada Selim. Sementara ia sendiri, sulit menemukan alasan untuk bisa tersenyum.
“Selim ingin ketemu mama,”
Itulah alasan hilangnya keinginan Rangga untuk tersenyum bagi dirinya sendiri. Lebih dari dua minggu Widia terbaring di rumah sakit.
Awalnya proses pengobatan memperlihatkan perkembangan yang bagus. Namun entah apa yang terjadi berikutnya. Kondisi Widia terus menurun.
Hingga kini, Widia telentang dengan banyak selang yang menancapi beberapa bagian tubuhnya. Tubuh Widia telah mengering seperti seperti daun kering yang jatuh dari pohon.
Sementara wajahnya membengkak. Dokter mengatakan, Widia kurang minum air putih dan asupan makanan yang baik. Lalu terserang angin duduk, terjepit urat, dan gen bawaan penyakit dalam.
“Baiklah, nak! Kita jenguk Mama di rumah sakit. Nanti Papa telepon gurumu.”
Lebih sering berada di luar kantor. Itulah yang dilakukan Rangga sebagai Manager Pemasaran di perusahaan tempatnya bekerja.
Waktu kerja bisa diatur untuk mengurusi hal pribadi. Ya, dalam hal ini keluarga. Sebelumnya—ketika Rangga merasa istrinya baik-baik saja—Rangga menggunakan kesempatan itu untuk bertemu Melani.
Kini, Rangga seolah bisa mengenyahkan bayangan Melani. Tenggat waktu yang diberikan Melani sudah lewat. Melani seolah tenggelam di lubang Cekungan Bandung.
“Mamaaa…”
Selim berlari ke ranjang ibunya. Memeluk tubuh ibunya.
Rangga berdiri di dekat Selim. Menatap haru istrinya yang tengah berjuang dengan rasa sakit. Rangga sungguh merasa bersalah.
Mata Widia yang merah cekung itu melihat ke arah Rangga. Menunjuk block note yang ada di atas lemari. Berkata dengan suara yang sengau yang terputus.
“Pa, mohon baca lembar pertama di block note itu. Mama mohon, Papa bisa lapang dada, dan tulus menerima keadaan.”
Bibir Rangga terkunci. Ia hanya mengangguk, lalu mengambil block note. Berjalan keluar ruang inap sambil membuka lembar pertama. Setelah sampai di luar, Rangga membaca dengan saksama.
“Entah aku harus menulis apa. Rangga berubah menjadi orang lain. Kurasa ia selingkuh dengan wanita lain, entah siapa itu.
Aku berpikir seperti itu, dan aku pun berpikir untuk melakukan hal yang sama. Aku benar-benar melakukannya dengan salah seorang klien. Namun, suatu hari, aku mendapat kabar tidak baik tentang kesehatanku. Aku merasa kematianku sudah dekat.
“Pap, maafin mama ya. Mama telah berlari, tapi bisa kembali lagi dan tetap mencintai Papa. Bila kematian lebih dulu menjemput Mama, berjanjilah untuk selamanya menyayangi Selim. Mama adalah belahan jiwa Papa. Papa bisa menemukan belahan jiwa yang lain untuk menggantinya. Tapi Selim, Selim adalah jiwa kita seutuhnya. Semoga Tuhan melindungi Papa dan Selim. Salam sayang, Mama.”
Lutut Rangga terasa meloncer. Tubuhnya menggigil dengan gigi gemeratuk menahan kepiluan. Menutup kembali block note. Membayangkan betapa selama ini ia tidak peduli terhadap Widia.
Lalu, kini—dengan kondisi Widia yang sangat memprihatinkan—apa yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya.
“Mamaaa….” Selim berteriak keras. “Mama jangan pergiii…”
Suara Selim seperti gelegar petir yang mengejutkan kesadaran Rangga. Sontak Rangga berlari masuk ruang rawat inap. Beberapa perawat mengikutinya dari belakang. Semakin dekat, suara teriakan Selim terdengar bercampur tangisan. Isak tangis yang menyayat.
Kedua tangan anak kecil itu menggoyangkan tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa.
* * *
Catatan editor: Kisahnya lumayan. Hanya saja pergantian fokus objek ceritanya masih lompat-lompat dan membingungkan. Pada awal cerita terlalu banyak tokoh yang menonjol, sehingga sedikit memecah fokus. Masih banyak penulisan kata yang salah dan dialog yang terlalu panjang, sehingga kurang nyaman untuk dibaca.
Topic
#writersclub


