Bukan hanyahiasan lampion warna merah keemasan ala pesta Tionghoa yang menarik perhatian, rasa pedas bikin nagih dan harga ekonomis yangdisajikan oleh rumah makan ini memang tiada bandingan. Belum lagi aromapedas yang dengan jahat membuatku tak bisa mengontrol air liur.
Sebagai laki-laki 9 tahun aku belum cukup malu untuk itu. Semua ini terasa spesial bagiku yang sudah jarang makan diluar sejak bapak sakit-sakitan.
Sayangnya banyaknya pengunjung memaksaku harus sabar menunggu sampai ada bangku yang kosong tersedia. Sabar. Baiklah. Aku memutuskan duduk dipangkuan bapak dengan mata yang berkelana.
Selang beberapa lama seorang pramusaji datang dan menunjuk meja lesahan yang sudah dibersihkan. Aku berlari dan siap membuka-buka buku menu di atas meja.
“Pak, aku pesan ini sama yang ini ya, pokoknya aku pengen yang enak-enak” kataku sambail menunjuk menu paling enak.
“Iya, hari ini kamu boleh makan apa saja” Jawabnya dengan wajah yang berseri.
Tidak lebih dari 15 menit, makanan datang, aku berdiri tegak sembil memperhatikan sajian yang dihadapan. Dengan lutut menyentuh lantai setengah berdiri, aku lahap semua makanan. Saking senangnya, sontak aku bilang pada Bapak yang sedang makan dengan tenang disampingku.
“Rasanya seperti masakan Ibu ya?” kataku dengan mulut penuh. “Aku jadi kangen Ibu” sambil tetap makan dan memperhatikan para pengunjung yang datang. Bapak terdiam tanpa sebuah tanggapan.
Diam – diam ternyata dia menyimpan jawaban yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
“Ibumu selamanya akan jadi ibumu, tapi jika kamu terus membicarakannya di depan Bapak, aku tak akan lagi jadi bapakmu”
Aku tak terlalu memahami apa yang dia katakan, tapi satu hal : Itulah pertama kalinya aku menyadari ada lubang besar berbentuk segi lima di dalam dirinya.
***
Bapak adalah seorang laki-laki paling hebat yang pernah kulihat. Setelah tokoh Superman yang sering teman-temanku ceritakan di sekolah dulu, dialah sosok yang paling aku andalkan sejak masih kanak-kanak.
Santun, penyanyang, dan cerdas adalah sifatnya -- yang sayangnya tak banyak menurun padaku. Kharismanya menyedot perhatian banyak orang. Bahkan banyak gadis desa yang mendambanya. Tak terkecuali, sosok yang dari dulu aku sebut Ibu.
Namanya, Sunarsih. Dia perempuan cantik dari desa sebelah. Lihai menari, dan pintar. Tubuhmu yang ramping bikin dia selalu jadi permata saat acara pesta desa. Tak heran kalau bapak juga bisa kepincut padanya.
Tapi berbeda dengan bapak yang berasal dari keluarga terpandang yang kedua orangtuannya pendidik Sekolah Menengah dan bisnis ikan yang berpenghasilan lumayan, Sunarsihberasal dari orangtua petani kelapa yang tidak terlalu dikenal baik.
Menurut orang-orang, mereka tak pantas jika saling bersandingan. Namun, status sosial tak membuat mereka untuk saling menyangkal. Dan istilah yang mereka sebut cinta membuatnya tak gamang untuk mengundurkan diri dari kata “bersama”.
***
Perbedaan adalah hal paling mendasar yang selalu ada di kehidupan. Dengan berani dan penuh kasih pada Sunarsih, bapak memutuskan untuk mempersuntingnya jadi istri.
Dengan berpakaian rapi, Sunarsih duduk di sebelah bapak. Kakek dan nenek duduk di depan mereka.
Sebagai orang yang mengaku berpendidikan, kakek dan nenek kudu beradab, meski pada orang yang dibencinya. Mereka mencoba memperlakukan Sunarsih sebagai seorang tamu biasa.
Sebisa mungkin bersikap sewajarnya. Toh ini bukan sinetron atau drama telenovela.
“Pak, Bu, ini Sunarsih calon mantu Ibu” kata bapak dengan tegas.
“Sunarsih, kamu adalah perempuan yang baik. Tapi tentu saja kamu sudah tahu dari awal apa jawaban yang akan berikan. Anak saya tidak bisa menjadi pasanganmu. Aku tidak bisa memberikan restu”Nenek memberikan jawaban sembari menahan marah.
Perdebatan semakin berlanjut di meja tamu depan.Tekanan darah masing-masing makin meninggi. Detak jantung semakin kencang. Urat di dahi juga semakin terlihat.
Mereka yang saling mencintai, kini sedang saling melukai. Penolakan dari kakek dan nenek mendapatkan tanggapan keras dari bapak. Nenek hanya bisa menabung air mata yang entah kapan akan di ambil oleh nasabahnya.
Penolakan ini bukan tak beralasan. Menilai orang dari materi saja adalah perbuatan keji yang sayanganya tak pernah diadili. Tapi orang tua Sunarsih adalah petani kelapa yang terkenal tukang tipu.
Kelapa yang dia unduh seringkali salah hitung. Jauh lebih sedikit dari yang sebenarnya. Beberapa dia selundupkan dengan menyembunyikannya dalam semak-semak atau galian tanah.
Saat malam tiba, barulah dia kembali sendiri untuk menjualnya. Belum lagi sikap kerasnya pada sang istri selalu menjadi berita utama di pasar pagi.
Bukan perkara penghasilan atau status sosial, latar belakang keluarga yang tercemar juga bikin kakek dan nenek berpikir panjang untuk ber besan.
Menurutnya sifat buruk orangtua bisa jadi menurun ke anaknya. Dia tak ingin masa depan cucunya kelak jatuh pada didikan dari ibu yang salah.
“Menikah itu bukan hanya untuk kesenanganmu saja, anak-anakmu nanti juga akan merasakan akibat dari pilihanmu sekarang”.
Bapak hanya terpekur. Bagaimanapun cintanya pada Sunarsih sudah telanjur mengakar sampai jiwanya. Menurutnya, dosa itu tidak diturunkan.
Dosaadalah milik masing-masing individual.Tak perlulah harus menghukum seseorang atas apa yang tidak diperbuatnya.
***
Setelah berfikir panjang, akhirnya bapak dan Sunarsih memutuskan untuk pergi. Menikah dengan restu sendiri. Mengurusi keluarga kecilnya dengan mandiri.
Membuat bangunan baru dari titik nol lagi. Hanya ada 3 sisi, Bapak, Sunarsih, dan Aku. Cinta memang selalu jadi pemenang dalam berbagai kompetisi.
Menikah tanpa restu orangtuabukanlah hal yang mudah. Mereka kudu menghimpun tekad dan keberanian lebih dari pasangan lain. Bapak yang lulusan SMK bisa melamar kerja sebagai teknisi listrik di salah satu perusahaan.
Meski jabatannya rendah, pekerjaan ini cukup menghidupi kami bertiga.
Kami merasa cukup dan hidup bahagia. Selamanya? Tidak. Sampai pada teriknya siang serasa kiamat kecil.
***
Seperti biasa, bapakharus menggapaiketinggian menggunakaan anak tangga portable untuk memperbaiki jaringan listrik. Kali ini tiang listrikdi pinggir jalanan berbatu mendapat jatah untuk dijamah tangan lihainya.
Matahari sedang terik-teriknya. Belum lagi hamparan lahan kosong dan tonjolan batu besar bikin suasana makin gersang.
Tak hanya manusia yang kepanasan, hewanyang digembalakan juga mulai tak tenang. Kawanan kambing dari jauh berdesak-desakan mencari jalan pulang.
Tanpa ada komando, 20an hewan ternak berjalan melintasi tangga yang bapak pijak.
Dalam hitungan detik, tangga portable kehilangan keseimbangan akibat tubrukan kawanan kambing yang ingin pulang.Bapak yang berada di ketinggian 7 meter sudah tergeletak di tanah bebatuan.
Tak berdaya dengan darah yang mulai menggenang.Rekan kerja yang berada jauh darinya panik dan bergegas membawanya kerumah sakit.
***
Hidup adalah resiko. Resiko adalah hal yang harus dihadapi ketika kita memilih hidup. Tidur sekalipun juga mengandung resiko.
Kecelakaan itu bukan hanya membuat bapak koma selama 2 minggu, batuan kali kasar di jalanan desa setengah jadi juga membuat tangannya harus diamputasi.
Tragisnya, pekerjaan sebagai teknisi juga ikut lepas dari tangannya, ikut terkubur bersama tangan kanannya.
***
Jalanan lenggang, belum terlalu padat. Para pegadang pasar di dekat rumah juga masih banyak yang berleha-leha.
Aku dan teman-temanku berlarian dengan kaki telanjang untuk mengambil sepatu milik Ibnu yang kemaren dipinjamkan padaku.
Mereka menunggu di depan rumah, aku masuk dengan terengah-engah.
Kucari sepatu Ibnu ke seluruh isi ruangan.
“Ibu,sepatu milik Ibnu dimana ya?”
Aku terus keliling rumah, teriak berulang-ulang dan tak ada suara yang menyahut. Tumben sekali.
Kubuka pintu kayu kamar bapak dan kutemukan dia sedang berdiri membaca surat yang entah apa aku tak mengerti.
Raut muka muram, air matanya kulihat mengambang. Punggungnya sedikit bergetar.
“Pak, Ibu dimana?”yang menjawab justru hanya terdiam.
Untuk Marwan : Aku tak ingin kamu salah sangka. Aku hanya pergi untuk hidup bahagia.
Aku terdiam dan bapak membanting pintu dan membiarkanku bertanya-tanya.
“Pak, Ibu dimana?”
***
Berkali-kali dia mencari obat untuk menyembuhkan luka itu, tapi yang bisa hanya waktu.
Dia berusaha mencari panawar untuk hatinya yang sedang sekarat, tapi yang datang justru kasih seorang ibu yang membuatnya merasa semakin menyesal.
Perlahan dia mulai bangkit dan menambal apa yang tengah sobek.
Kesedihan bapak membuat raut wajahnya jauh lebih tua dibanding umur sebenaranya.
Penyesalan dan rasa kecewa itu tak punya penawar selain terus berjuang untuk membuatku bahagia sekarang.
Dia selalu berlatih menggunakan satu tangannya agar bisa melakukan semua hal.
Mungkin wajar jika Sunarsih meninggalkan Marwan yang sudah tidak bisa apa-apa. Hidup miskin dengan banyak cobaan tak ada yang senang.
Tapi bukankah hanya dengan sedikit bersabar, kisah hidup ini barangkali bisa berakhir bahagia?
***
Beberapa bulan setelahnya, bapak memulai bisnis ikan lele. Bapak juga mendapatkan suntikan dana dan saran dari kakek yang berpengalaman.
Ilmu itu mereka turunkan dari generasi ke genarasi. Bapak bahkan mengajariku bagaimana memijah dan membedakan ikan mana yang penyakitan.
Kami sekeluarga bekerja sama untuk bangkit dari masa lalu dan kenangan tentang Ibu.
***
Bandung, 13 Agustus 2015.
Pagi ini, aku dan bapak berdiri di depan cermin memperhatikan penampilanku yang akan menemui keluarga Rini, pacar yang ingin kuminta jadi istriku. Kini aku sudah lebih tinggi dari bapak.
Sedikit jambang yang sengaja kutumbuhkan di dagu membuatku persis seperti bapak jaman muda dulu. Sambil menepuk pundakku, dia berkata dengan mantap,
“Menikahlah untuk dirimu sendiri dan keturunanmu nanti”.
Aku melaju dengan perlahan. Dadaku berdetak lebih kencang. Beginikah rasanya ingin meminang? Beginikah rasanya memilih pasangan?
Rini, adik kelas di kampus dulu. Dia adalah gadis baik, sopan, energik, cerdas, dan menarik. Aku tahu dia bukanlah sosok wanita sempurna yang selalu diharapkan nenekku. Karena nyatanya dia anak panti asuhan yang diadopsi oleh pasangan berumur yang belum juga punya anak. Tapi sungguh dia adalah wanita yang mempesona.
Aku memarkir mobil tepat didepan gerbang. Dengan dress bunga-bunga Rini berlari menyambutku, membukakan gerbang dan menjemputku.
“Hey, ayo masuk” sapanya girang.
Aku hanya tersenyum tenang, mencoba menutupi ketegangan. Kami berjalan beriringan masuk ke dalam ruang tamunya.
“Hari ini kau tampan sekali” Bisiknya pelan. Dia memang pandai membuat kepercayaan diriku meningkat. Lagi-lagi aku hanya bisa meringis. “Duduk dulu ya, aku panggil Papa dan Mamaku”.
“ Rin” aku memanggilnya dan mencoba membuatnya berbalik. Rasanya ada aneh.
“Ya?” balasnya dengan wajah tenang.
“Mmm, gak jadi” balasku mengambang. Lalu dia masuk dan membiarkanku sendiri mengamati seluruh isi rumah.
Ruangannya luas, tak terlalu banyak pajangan, dan bersih. Aku menunggu sambil sedikit merapikan baju dan rambut agar lebih percaya diri. Merapal kata-kata dan adegan yang akan terjadi beberapa menit ke depan.
Tak lebih dari 5 menit, Rini dan kedua orangtuanya keluar.
“Pa, Ma, kenalkan ini Bagas” aku berdiri untuk menyambut mereka. Seketika organ tubuhku ingin lepas satu-satu dari posisinya.
Papanya yang lebih tua dari perkiraan, menyalamiku dengan tegas. Sorot matanya hangat. Mamanya juga menyalamiku. Sontak nafasku tercekat. Tubuhku perih.
Tangannya seperti mengalirkan sengatan listrik. Kami saling bertatapan seolah terlempar ke ruangan lain yang hanya kita berdua. Wanita itu adalah orang yang pernah ku panggil Ibu. Dia yang membuat luka segilima pada hati bapakku,kini juga mengecapnya tepat di hatiku.
Ruang dengan lima sisi yang terdiri aku, bapak, Sunarsih, Rini, dan Papa angkat Rini.
Catatan editor: Perhatikan lagi EYD dan penggunaan kata sambung, awalan, serta akhiran. Terlalu banyak kesalahan membuat cerita menjadi sulit dipahami. Pemilihan judul juga hendaknya dipertimbangkan dengan inti cerita, sehingga tidak terkesan dibuat-buat agar terkesan menarik di awal. Karena kata ‘luka segi lima’ sendiri tidak dijelaskan dengan gamblang di awal hingga pertengahan cerita. Di akhir cerita baru dijelaskan, namun terkesan dipaksakan.
Topic
#writersclub


