“Mommy, give me another snacks, please..”, seorang gadis memohon-mohon pada ibunya. Ia merengek-rengek heboh, hingga kucir sampingnya bergerak-gerak mengikuti gerakan tubuh.
Ibunya menggeleng tegas, membuat sang anak berguling tanpa malu sambil mengucurkan air mata. Suara tangisannya sungguh keras, membuat orang yang berada di sekelilingnya merasa terganggu. Sementara sang ibu sibuk meminta maaf dan menahan malu, sang anak tetap saja bergulingan tepat didepannya.
“Aduhai, kasihan sekali ibu ini. Ah! Apakah anakku juga telah merepotkan Maryani dengan tingkahnya?” batin Warsito.Iamenggeleng-geleng. “Tidak, tidak, tidak.Tentu anakku akan bersikap dewasa.”
Ia tersenyum-senyum sendiri membayangkannya. Bagaimana anaknya telah tumbuh, ia menduga-duga. Kemudian tatapannya berubah menjadi getir.Ia kembali teringat saat ia berniat merantau ke luar negri.
Bukan hal yang mudah sebenarnya meninggalkan istrinya yang cantik seorang, dengan benih bayi di perutnya. Bukan hal yang mudah pula meninggalkan sanak saudara yang sedari awal pernikahan, telah membantu perekonomian keluarganya yang masih terbilang muda.
“Apakah ini satu-satunya jalan?”tanyaMaryani, istrinya. Sungguh tak tega melihatnya berlinangan air mata begitu.Raut wajahnya sungguh sedih.Membuatnya tak tega memandangnya.
“Hanya saja aku berkewajiban untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan.Kita tak bisa terus mengandalkan sanak saudara, dan itu satu-satunya impian yang kumiliki,”Warsito berkata setengah berbisik.
Mendengarnya, Maryani semakin sesegukan menahan tangis yang keluar.
“Akupun juga memiliki impian.Berkeluarga di tanah Jawa merupakan impianku.”
Warsito terdiam, termangu.
Meskipun istrinya menangis-nangis menahannya pergi, Warsito tetap bersikukuh. Pada akhirnya ia mendatangi rumah temannya yang telah menawarinya pekerjaan. Ditandatanganinya surat perjanjian yang ia tak tahu pasti apa isinya. Ia hanya tahu bahwa itu adalah syarat ia akan bekerja di tempat yang bahkan namanya tak bisa ia sebut.
Ia hanya tahu, tempat itu berada di negara bagian timur yang jauh disana. Walau harus membayar sedikitnya empat juta rupiah, ia sanggupi dengan meminjam uang bank. Iming-iming menjadi orang kaya dengan penghasilan tetap, membuatnya tak mempermasalahkannya.
Maka, dua bulan kemudian, setelah menjalani pelatihan-pelatihan standar yang tidak Warsito mengerti detailnya, ia bersiap. Berbekal bahasa asing yang disebut-sebut sebagai bahasa Internasional, ia, bersama puluhan manusia lain berkumpul di depan bandara.
Tangannya berkeringat gugup sekaligus bersemangat. Setelah tangannya disalami dan dikecup istrinya, ia bersama sebuntal pakaian lusuh miliknya melangkah memasuki bandara.
Sejenak ia memandang ke belakang. Ada sedikit rasa ragu saat melihat istrinya yang bercucuran air mata. Namun ia meneguhkan hatinya. Membuatnya kembali melangkah, tak lagi ingin menatap ke belakang.
***
“Ini adalah sedikitnya uang yang dapat saya peroleh. Sebelum kau membelanjakannya, sebaiknya kau tabung sebagian sehingga esok si kecil memiliki stok susu yang cukup. Istriku, jaga kesehatanmu.Bersabarlah barang sebentar.Jika semua keadaan sudah dirasa cukup, saya akan segera kembali.”Begitulah kira-kira isi suratWarsito saat bulan pertama ia tiba di Negri Timur sana.
Ia berharap kesedihan Maryani akan berkurang dengan membaiknya ekonomi keluarga.
Selama bertahun-tahun, ia secara konsisten mengirim surat tiap bulannya. Dan selama bertahun-tahun itu pula, ia tetap menunggu balasan dari Maryani.
“Mungkin sangat sayang membuang uang untuk membalas. Sudahlah, memang lebih baik untuk biaya persalinan esok,” Hibur Warsito setiap kali ia resah menunggu balasan surat Maryani.
Tetapi tetap ia mengirimkan uang dan surat secara rutin. Sudah menjadi jadwalnya setiap tanggal muda, tanggal penyerahan gaji, ia berkirim kabar ke Indonesia.
“Seperti apa sih, istrimu itu?” salah satu temannya penasaran.Jikalau sedang bekerja, membawa batu-batu bata kesana-kemari, sering sekali didengarnya Warsito berceloteh tentang istrinya itu.
Yang cantiklah, yang selalu rajin membuat rumah nyaman, yang ranum bibirnya, pokoknya semua hal mengenai istri Warsito telah didengar.
Kemudian disodorkannya foto hitam putih saat dahulu mereka menikah.Cantik?Tentu saja cantik. Sesuai dengan apa yang pernah-pernah dikatakan Warsito. Wajahnya masih terlihat sangat muda kala itu, 20 tahun.Usia yang masih segar.
“Bagaimana kabarnya sekarang?Rasa-rasanya aku tak pernah mendengar kabar istrimu saat ini?”
“Dia, mungkin sibuk.Tak sempat membalas,” Warsito menyahut cepat, tak berminat menjawab pertanyaan Bam, rekannya itu.
Ia bergegas pergi menyibukkan diri dengan mengangkut batu bata lebih banyak dari pada sebelumnya. Sebanyak yang tak pernah kawannya angkut selama lima tahun ini. Bahkan tak pernah lebih banyak dari dirinya sendiri di saat badannya terasa begitu sehat.
Ia bungkam. Wajahnya memerah ketika bisik-bisik terdengar dari kerumunan pekerja lain.
“Benar, tak ada kabar sama sekali. Bisa jadi kini ia sudah dengan lelaki lain.” Begitulah kira-kira bisik-bisik yang terdengar.
Berhari-hari kemudian, wajahnya yang ceria tergantikan wajah muram yang semuram-muramnya.Sering kali temannya menemukan Warsito dalam keadaan linglung ataupun melamun.Sering kali pula ia terkaget-kaget saat pundaknya ditepuk. Rupanya ia gelisah ingin mengetahui kabar istrinya yang sudah lama ditinggal.
Namun bagaimanapun juga ia tak tahu cara menghubunginya. Ia menyesal hanya alamat rumahnya satu-satunya alamat yang ia ketahui. Sehingga bahkan, ia tak dapat mencari tahu kabar istrinya melalui kerabat lain.
“Makanlah,” begitu selalu dikatakan orang-orang yang secara bergilir mengantarkan makanan.
Tak seperti hari-hari biasanya saat ia sehat dulu, sama sekali tak disentuhnya piring itu. Padahal walaupun memang secara rasa, jatah makan perusahaan tidak terlalu enak dan selalu terasa tawar, Warsito selalu menghabiskannya. Bahkan ia biasa menambah hingga dua atau tiga kali. Maka dalam tiga hari ia demam, berat badannyapun turun secara drastis. Beberapa temannyapun hingga bingung dibuatnya.
Seminggu setelah Warsito jatuh sakit, seorang lelaki tegap datang memasuki wilayah rumah para pekerja.
“Mr. Warsito. Where is he?” itulah kalimat pertama yang dikatakan begitu memasuki rumah tinggal pekerja.
“Ada apa?” seseorang bertanya.
“Surat.”
Surat?! Warsito yang berada di kamar yang tak jauh dari pintu depan langsung terduduk.
Dengan segera ia bangkit dari kasurnya yang tak pernah ia tinggalkan. Segera ia mengganti bajunya yang kecut dengan baju bersih yang masih wangi baunya. Kemudian dengan segera ia berjalan menghampiri petugas pengantar pos.
“Saya?”Warsito bertanya penuh harap.
Pengantar pos terlihat bingung. Lalu dengan hati-hati ia bertanya, “Mr. Warsito?”
Warsito tersenyum dan mengangguk. Ya! Sayalah Warsito yang bapak maksud.Saya yang telah menunggu bapak lebih dari enam tahun.Lebih dari seratus kali saya berharap bapak datang menemui saya.Sayalah Warsito yang Bapak cari.
Warsito menunggu.Dengan perlahan petugas itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat.Melihatnya, tubuh Warsito bergetar.Rasa bahagianya terus memuncak, menjadi-jadi.
Dengan gemeteran diterimanya sebuah surat yang berasal dari Indonesia. Tertulis jelas pengirim surat itu, Andi.
Andi?Warsito mengucek matanya, mengira ia salah membaca. Seharusnya bukan Andi yang tertulis sebagai pengirim, tetapi Maryani, istrinya tercinta. Karenanya ia mencoba membaca lagi. Kali ini diejanya pelan-pelan.
A-N-D-I.Andi?Warsito mengenyit.Ia tak pernah sama sekali mendengar nama itu. Aneh.
Tetapi tetap dibawanya surat itu menuju kamarnya. Kemudian dibukanya perlahan sampul surat itu. Oalah, rupanya surat itu tebal berisikan lembaran-lembaran kertas yang termasuk banyak jumlahnya. Jika diperhatikan, akan ada banyak varian tulisan-tulisan itu. Ada tulisan yang sengaja ditulis rapi, dan ada juga tulisan acak-acakan yang terlihat asal ditulis, dan bahkan ada gambar-gambar yang kurang rapi pewarnaannya.
Diambilnya sebuah coratan gambar. Lagi-lagi di pojoknya tertulis nama Andi. Gambar coretan Andi.
Warsito tersenyum.Tampaknya Andi ini masih berusia sekitar enam tahun jika dilihat dari caranya menulis namanya sendiri.Berantakan dan sedikit miring sana-sini.
Lalu diambilnya secarik kertas berisi tulisan yang rapi hurufnya. Seolah ia sengaja berhati-hati dalam pengerjakannya.
“Kepada suamiku, Warsito.”
Warsito kaget, mungkinkah ini surat dari Maryani, istrinya?Lalu dibacanya perlahan.
“Ke-kepada..sua-mi-ku..” kali ini suaranya bergetar. “Maryani..”
Ia menangkupkan wajahnya. Entah sedih, marah, atau bahagia ia tak tahu lagi apa yang dirasakannya. Begitu lama ia menantikan kedatangan surat itu. Kenapa baru kali ini? Padahal sudah tak terhitung banyaknya surat yang dikirim Warsito. Bahkan tiap bulannya ia juga tak pernah lupa mengirimkan sebagian gajinya itu.
Teringat kembali ia pada istrinya. Istrinya yang cantik dan lembut.
Lalu diraihnya lagi surat yang tergeletak tepat disampingnya.
“Suamiku, Warsito. Maafkan karena belum terbalasnya surat-surat yang telah kau kirim.Banyak hal yang terjadi selama kau pergi merantau. Banyak benang kusut yang harus diluruskan lagi..”
Ya, aku tahu itu akan terjadi padamu. Maafkan aku tak bisa membantu.
“Aku telah melahirkan anak kita dengan selamat. Andi namanya, atas saran dari mamak sendiri…”
Warsito tersenyum.Ia memiliki seorang anak lelaki. Pastinya akan menjadi gagah dan lebih sukses hidupnya.
“Kini ia sudah berusia lima setengah tahun. Setiap saat selalu saja ia bertanya tentangmu. Ia penasaran katanya, ingin cepat-cepat bertemu.
Sekarang Andi sedang belajar menulis dan sedang senang-senangnya menggambar dengan krayon.”
Jadi ini adalah gambar-gambar Andi, anakku?
“Semoga kau bisa lekas pulang, karena Andi kangen katanya.”
Warsito tersenyum. Dan begitulah akhir dari surat tulisan Maryani, istrinya. Sedang sisanya adalah tumpukan karya-karya hasil dari lukisan Andi.Belepotan dan penuh warna.
***
Warsito menatap langit jingga melalui jendela pesawat.Sungguh indah, membuat hatinya semakin tak sabar untuk kembali ke kampung.Tangannya menggenggam erat kertas lukisan Andi.Dipandanginya lukisan itu.
Ia tersenyum. Pastinya Andi kini sudah mulai memasuki bangku sekolah dasar, SD. Tak sabar ingin dilihatnya anaknya memakai baju merah-putih itu. Pastinya ia akan menjadi tampan dan rupawan.
Kemudian, dalam senyumnya, ia jatuh tertidur dengan kertas yang masih digenggamnya erat-erat.
Ia melangkah perlahan, menyusuri jalan setapak yang sudah tak asing lagi baginya. Walau begitu, kini banyak yang telah berubah.Sepanjang tepian jalan, tak lagi banyak dijumpai pematang sawah, tergantikan susunan rumah-rumah apik.
Warsito tersenyum, menikmati pemandangan yang kini asing baginya. Tapi tak jauh dari itu semua, jalan desanya masih sama. Tak rata.Bedanya dahulu berkerikil dan becek sedangkan kini beraspal namun penuh lubang.
Warsito terus berjalan.Di pertigaan, belok ke kanan dan lurus terus hingga ke sudut jalan. Ah! Ia masih ingat betul jalan menuju rumahnya, yang bahkan banyak yang sudah berubah, kini.
Ia terus melangkah hingga akhirnya ia memasuki pekarangan yang terlihat terawat. Bangunannya apik, tak seperti dahulu saat ia tinggal.Bangunan lama yang dahulu berbahan gedek, tergantikan dengan bangunan permanen batu bata.Walaupun belum diplester seluruhnya, rumahnya kini telah menjadi apik.
Sejenak ia menjadi ragu. Agak takut ia, jika rumah sudah berganti penghuni. Apakah benar ini adalah rumahnya dahulu yang reyot hanya berdinding gedek itu?
“Bapak cari siapa?” seorang anak berseragam merah-putih, datang melalui jalan utama yang tadi dilaluinya. Tampaknya ia baru saja pulang dari sekolah.
“Adik kenal Bu Maryani?”Warsito bertanya ragu, penuh harap.
“Ya, kenapa dengan ibu?Apa yang Bapak perlukan?”
Maryono tercekat.Andi?Anaknyakah itu?
Nak! Ini aku, nak, bapakmu. Ingin rasanya ia memberi tahu. Tetapi apa yang dilakukannya kemudian hanyalah memeluk anak itu, erat.
“Hah! Apa yang Bapak lakukan?”Andi meronta-ronta dalam pelukannya.“Ibu!Tolong!”
Kali ini ia mulai menangis.
Kemudian terdengar derap langkah dari dalam. Warsito terkesiap.
Bahkan setelah lamanya ia tak berjumpa dengan istrinya, ia masih cantik seperti dulu.
Sama sepertinya, Maryani kaget melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
Andi segera melarikan diri dari pelukan Warsito, berlari menuju belakang ibunya, berlindung.
Warsito tersenyum.Tak ada yang lebih diinginkannya kini selain tinggal bersama keluarganya.
“Ibu, aku takut..Siapa Bapak itu?”
Kata-kata yang keluar dari mulut Andi membuat Warsito tercenung.Hatinya sedih menatap anaknya yang bahkan tak mengenalinya sendiri sebagai bapak.
Maryani membalas dengan tatapan kecut.Seakan menyalahkan Warsito karena ketidakhadirannya dalam mengasuh anak.Karena memaksakan mimpi tanpa menimbang janin yang telah hidup di dalam perut Maryani.
Sedang Andi bersembunyi di balik punggung ibunya, membuat Warsito makin kecut dibuatnya..
“Nak, ini bapak..”Warsito mengulur tangannya, mencoba.
Andi memandang ragu bapaknya, kemudian berganti menatap ibunya.Maryani mengangguk.Didorongnya pelan tubuh Andi mendekati bapaknya.
Iapun melangkah dengan ragu menuju bapaknya.
“Pak, Bapak?” ia memanggil ragu.
Warsito tercekat. Langsung dipeluk anaknya yang bahkan tidak sempat ia adzankan.
Andi terdiam, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dekapan lelaki yang dipanggil bapak. Walaupun ia tetap bertanya, siapa bapak ini?
Catatan Editor:
Gaya bercerita dan deskripsi adegan demi adegan sudah cukup baik. Hanya saja, penulis perlu mempelajari lebih lanjut tentang penggunaan kata sambung dan akhiran, karena masih terdapat penggunaan kata sambung ganda dan repetisi penggunaan akhiran di beberapa bagian. Terakhir, cerpen ini minim dalam hal konflik, sehingga ketika dibaca tidak ada klimaks yang dirasakan oleh pembaca.
pistol4d
pistol4d daftar
Topic
#writersclub


