Karya Anda
Nulung ‘Tidak’ Kepentung

21 Dec 2015

Penulis: Rien Dj, Sukoharjo




Banyak orang mengatakan kalau mau menolong harus mikir-mikir dulu. Memang, untuk masa sekarang menolong harus hati-hati. Kata pepatah Jawa “nulung kepentung”. Niat menolong malah jadi celaka.
Tapi, menolong orang yang kesusahan di jalan sudah terbiasa dilakukan Bapak dan Ibu. Misalnya, ketika melewati ibu-ibu yang berjalan sendiri atau berdua. Biasanya Bapak akan memberi tumpangan. Tentu saja hal itu tidak dilakukan di sembarang kondisi. Ada alasan khusus, misalnya jika daerah itu sangat sepi dan jauh dari desa. Memberi tumpangan hal biasa pada saat saya masih kecil. Karena tahun itu masih sangat jarang orang yang memiliki kendaraan bermesin. Apalagi, dari desa kami sampai ke tempat perhentian kendaraan umum jaraknya 7 km, melewati persawahan luas. Jadi, tak tega rasanya jika kami naik mobil sementara ada ibu-ibu berjalan searah sambil menggendong sesuatu.
Ketika kami dalam perjalanan jauh pun tak sekali dua kali kami berhenti untuk menawarkan bantuan pada seseorang yang tampak memiliki masalah dengan kendaraannya. Tentu saja jika lokasinya memang di pelosok dan sulit mengandalkan bantuan lain. Sekadar meminjamkan peralatan atau mengantar hingga ke tempat penjual bensin rasanya bukan masalah berat.
Kebiasaan bapak dan ibu menular pada anak-anaknya. Beberapa waktu lalu, kami naik mobil dengan beberapa saudara. Salah satunya dikenal sebagai ustadz seleb karena sering ceramah di mana-mana. Karena jarang bertemu, kami asyik mengobrol di dalam mobil. Tahu-tahu, di depan kami ada dua motor bersenggolan karena taksi di depannya berhenti mendadak. Satu motor roboh ke aspal. Kami berteriak histeris menyuruh sopir menginjak rem, karena mereka roboh tepat di depan mobil kami. Jantung kami benar-benar seperti mau copot. Lutut saya gemetar. Syukurlah, sopir berhasil menginjak rem sehingga mobil sama sekali tidak menyentuh dua orang yang masih tergeletak bersama motornya di tengah jalan.
Di menit pertama kami semua bengong di dalam mobil. Shock. Tak ada yang bereaksi. Lalu ketika salah satu orang yang jatuh tadi bangun dan menolong temannya, kesadaran kami kembali.
“Minggir dulu minggir dulu!” kami bersahutan menyuruh sopir.
Rupanya, mereka sepasang lelaki dan perempuan. Si lelaki tampak berusaha segera bangkit  
“Tolongin mereka, tolongin mereka!” kataku panik ketika si lelaki berusaha menarik temannya yang lemas menepi. Kami buru-buru keluar dari mobil. Saya membawakan air mineral siapa tahu berguna. Ada beberapa pengendara motor berhenti ikut membantu. Sementara pengendara motor yang menyenggol tadi sudah kabur. Taksi sudah raib.
“Gimana, Mbak? Perlu ke rumah sakit?” tanya kami. Syukurlah si Mbak tidak pingsan, hanya tampak pucat dan lemas karena shock.
“Oh, Pak Ustadz!” kata si Mbak menatap kakak saya sedikit terkejut. TIba-tiba dia duduk tegak.
“Mbak, kok, kenal?” tanya kami antara lega dan heran.
“Iya, sering lihat di televisi.” Si Mbak tersenyum malu-malu. “Boleh minta foto bareng, Pak Ustadz?” katanya. Kali ini wajahnya sudah tak pucat lagi.
“Oh, ya, boleh-boleh.” Kakak saya lalu mendekati si Mbak yang berdiri pelan-pelan dan meminta temannya memotret.
“Jadi, Mbak sudah bisa bonceng motor dan pulang, kan?” tanya kakak saya.
“Alhamdulillah, bisa. Terima kasih.” Wajah si Mbak semakin cerah.
Kami pun balik ke mobil sambil terkikik-kikik. “Berkahnya Pak Ustadz. Orang pingsan langsung bangun minta foto,” celetuk kami. Mobil dipenuhi tawa.
Tuh, kan, apa salahnya menolong orang. Kadang-kadang kita takut mengambil risiko dan membayangkan ini itu. Padahal dalam agama apapun kita diajarkan untuk melakukan kebaikan, salah satunya dengan memberi pertolongan, bukan. Nulung tidak kepentung.



*****
Writing Competition BTPN-Femina

Komentar: Dalam keadaan darurat, jangan ragu memberikan pertolongan pada yang membutuhkan. Belum tentu ada kesempatan kedua.

 


 



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?