Karya Anda
Brongkos Ibu

27 Jul 2017

Semangkuk sayur berkuah kehitaman kental itu terhidang di meja makan menemani, nasi, kerupuk udang, bakwan jagung, dan pisang ambon yang tertata rapi di atas meja makan.
“Mbak Nining tadi datang?” tanya suamiku sambil menyendokkan sayur itu ke atas nasi di piring makannya. Potongan tahu, kacang merah, dan sandung lamur 1) bergelimpangan di putihnya butiran nasi diselai cabe rawit merah gendut.
Aku hanya memandangnya dengan seulas senyum penuh makna dan rasa penuh kemenangan. Ternyata suamiku terkecoh dengan masakanku.
Suamiku tampak lahap menyantap makan malamnya sepulang lembur. Sepertinya lama sekali ia tak makan sayur itu. Sesendok nasi berlumuran kuah santan kehitaman dengan sekerat daging keputihan masuk ke mulutnya sesuap demi sesuap.
Terakhir si gendut cabe rawit utuh pun masuk disusul desisan, “Hemh sss uff.” Kriuks… kerupuk pecah dalam satu gigitan untuk meredakan pedasnya cabai.  
“Kamu enggak makan? Atau sudah makan?”
“Ya, makan dong,” jawabku sambil menelan kunyahan terakhir pisang ambon.

Aku masih ingat menjelang boyongan ke rumah keluarga besar suamiku, Ina sahabat karibku berpesan, “Ingat! Kalau kau ingin merebut dan mendapatkan hati Mas Heru, belajarlah memasak kepada ibu mertuamu,” bisiknya di telingaku. “Kalau beliau pelit dengan ilmunya dan ketus, kamu harus tutup telinga kuat-kuat.
Tapi tetap serap semua ilmu memasaknya dan kamu harus siap-siap berkulit badak alias tebal muka atau tak tahu malu. Tapi untuk yang satu ini enggak papa yang penting kamu serap resep-resep rahasia masaknya. ”
Alisku berkerut mencerna artinya. Saat itu aku tak mengerti maksudnya.
“Cinta laki-laki datangnya dari perut,” lanjutnya.
“Masa sih?” balasku tak percaya.
“Kelak kamu akan membuktikannya…. Lihat aja, nanti.”

Bertahun pertemuanku dengan Ina berlalu. Menjalani keseharianku dengan keluarga besar Mas Heru seperti kembali pulang ke rumah. Ada banyak cerita dan pengalaman kulalui, baik suka dan sedih kujalani dengan bermacam perasaan.
Pekerjaan ibu rumah tangga kujalani dengan menjadi asisten atau pembantu ibu mertuaku. Beliau mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah tangga. Dan itu pula yang harus kujalani seperti saat aku di rumah dulu.
Cerita tentang mertua yang galak, ketus, atau tukang kritik tak membuatku kaget. Meskipun kadang-kadang sedih juga. Tinggal di rumah besar hanya berdua begini rasanya jadi sering nelangsa jika yang satu membuat sedih bagi yang lain.
Untuk menghilangkan perasaan itu aku kuat-kuatkan selalu membantu ibu saat masak. Pasang telinga tak perlu tajam-tajam, biar hati ini tetap dingin dengan kata-kata yang kadang kuanggap menyakitkan.
Mungkin bukan menyakitkan, Cuma kadang aku tak terbiasa dengan nada bicaranya yang keras dan tegas sehingga bagiku seperti nada orang marah.
Siang ini, ibu memasak sayur brongkos. Sayur berkuah santan kental hitam dengan kacang merah, tahu putih, tempe, kerecek, potongan buncis, sandung lamur, dan cabai rawit merah.
Sebuah hidangan bergizi lengkap dengan semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Setelah semua bumbu dan bahan disiapkan, aku tinggal matur 2)  ibu untuk dimasak. Ibu lebih suka memasak sendiri karena menurutnya kalau aku yang masak, “Rasane cemplang.”3)
“Ojo milih kluwak enom, ndak marahi pait rasane,”4) ujar ibu sekali waktu. “Pilih sing swarane kluthuk-kluthuk!” 5)
Aku terima pendapat ibu dengan sabar. Aku hanya ingin menyerap semua ilmu darinya sehingga aku dapat menjadi perempuan hebat seperti dirinya.
Seorang janda beranak sebelas yang berhasil mementaskan ke-10 anak lelakinya menjadi sarjana dan semua berhasil mapan di pekerjaannya masing-masing.
Rahasia masakan favorit suamiku lama-lama kukuasai dengan baik. Kritikan-kritikan dan masukan ibu mertua tentang masakanku semua kuingat-ingat dan selalu kuperbaiki di lain waktu.
Lis, kuwi santene dikebur, engko ndak pecah,”6) perintah ibu mertuaku dari seberang dapur sambil menyeruput teh manis dari gelas porselen bermotif naga.
Nggih, Bu.” 7)
  “Nek aku masak, kacang tholone tak godhok sik, ora koyo kowe, Dik. Dadine luwih sedhep,” ujar Mbak Ning, iparku yang tinggal samping rumah sambil melenggang pergi dari dapur.
Mbak Nining memang sering datang dan pergi tak tentu waktu ke rumah. Setelah menengok, mengomentari, atau tepatnya mencela pekerjaanku, dia akan menemui ibu.
Entah apa yang dibicarakan keduanya, ibu tak pernah cerita dan aku juga tak pernah bertanya. Yang kutahu biasanya garis muka ibu berubah menegang dan tampak memendam kesedihan sepeninggal Mbak Nining.
Kebiasaan kami memang selalu makan bersama di meja makan utama di dekat dapur. Ibu, Mbak Ning, Mas Tok suami Mbak Ning, Sari, sulung Mbak Ning, dan Tatang anak lelaki satu-satunya dari ke-empat anak Mbak Ning, Mas Heru, dan aku. Kadang-kadang datang bergabung Mas Singgih, istri, dan ke-2 anaknya,
Rumah besar itu memang selalu ramai saat jam makan tiba. Bagi Ibu, tentunya ini sangat menyenangkan dikunjungi anak, menantu dan cucunya. Tak peduli berapa banyak makanan terhidang pasti ludes sekali makan.
Bagi ibu masalah biaya untuk menyediakan makanan tersebut tak jadi soal. Kiriman dari anak-anak dan pensiun dari bapak mertua lebih dari cukup.

Bertahun sudah ibu  meninggal dunia, kini aku tinggal berdua dengan Mas Heru. Menempati rumah sebesar itu rasanya semakin sepi. Apalagi kakak-kakak Mas Heru semakin jarang datang berkunjung.
Hanya Mbak Nining yang masih rajin datang. Kedatangannya juga bertepatan dengan saat makan. Suasana jadi ramai memang, tetapi ada kebiasaan yang hilang. Kalau saat ibu masih ada, kami beramai-ramai membereskan peralatan yang kotor, sekarang tidak.
Setelah makan, Mbak Nining akan beranjak ke ruang tamu dan duduk-duduk di sana. Dan tak berapa lama ia akan menyusulku ke dapur.
“Sudah Dik, nanti saja aku bantu bersih-bersih.”
“Iya, Mbak. Terima kasih.”
“Anu, Dik, aku mau pinjam uang untuk bayar kuliah Sari dan Tatang, bisa ya?”
“Berapa, Mbak?”
“Sedikit, kok.” Mbak Nining menyebutkan nominal yang dimintanya.
“Waduh kalau segitu, saya tidak ada, Mbak.”
Yo wis, pinjam cincinmu itu, ya. Kalau digadaikan pasti cukup,” tunjuknya ke arah jariku.
“Maaf. Mbak. Ini cincin pemberian Mas Heru, Bagaimana saya harus menjawab kalau dia tanya?”
“Bilang saja kupinjam, pasti Heru boleh.”
“Maaf, Mbak, gelang yang dulu itu juga belum Mbak kembalikan….”
“Apa iya, sudah to Dik? Kamu pasti lupa.”
“Belum, Mbak,” jawabku singkat.
“Ehm…. Atau sudah aku titipkan Heru, ya?” jawabnya sambil mengingat-ingat.
“Belum, Mbak. Mas Heru akan segera menyerahkannya begitu ia terima dari Mbak. Dan biasanya dia juga cerita. Ini sama sekali belum pernah tuh?”
“Alah, yo wis, engko tak golekke utangan nggo nyaur gelangmu. Saiki aku nyilih sik,” paksa Mbak Nining sambil tangannya terulur meminta cincinku.
Spontan aku menyembunyikan tangan ke dalam saku baju. “Tidak, Mbak. Tolong kembalikan gelang dan uang-uang yang selama ini Mbak janjikan.”
“Walah, masak sama kakak sendiri kamu tidak percaya?”
“Saya percaya, tapi tolong kembalikan dulu, Mbak. Biar tidak berlarut-larut dan bertambah banyak.”
“Ya sudah kalau kamu memang tidak mau memberikan cincin itu, aku akan bilang sendiri kepada Heru. Dan kamu memang pelit!” teriaknya sambil berlalu.
Kudengar ia memanggil suami dan anaknya pulang, “Tak usah salaman sama Bulik, kita langsung pulang!”
Aku tidak menjawab dan tak berniat mencegah mereka. Sejak saat itu, Mbak Nining tidak pernah datang ke rumah. Pinjam uang dan enggan mengembalikan ternyata sudah menjadi kebiasaan Mbak Nining.
Banyak orang yang telah menjadi korbannya. Aku heran, padahal kalau dilihat dari penghasilan Mbak Nining dan Mas Tok sebagai pegawai negeri sipil, pasti cukup bahkan berlebih. Apalagi melihat penampilannya, semua orang pasti menyangka mereka orang kaya raya.
Dahulu aku sempat heran dengan gerak-geriknya jika beretemu ibu. Kasak-kusuk di arisan RT pun sempat kudengar, tapi segera kutepis. Aku baru mengerti, saat di akhir hayatnya, ibu berbisik di telingku, “Sing sabar yo, karo Mbakyumu Nining.”8)
Kamus kecil
  1. sandung lamur, daging sapi yang berlemak, bagian daging sapi yang berlemak  dan berasal dari bagian dada bawah sekitar ketiak.
  2. Bilang atau lapor
  3. “Rasanya hambar,”
  4. “Jangan memilih kluwak muda, nanti  rasanya jadi pahit,”
  5. Pilih yang suaranya kluthuk-kluthuk!”
  6.  “Lis itu santannya diaduk, biar tidak pecah.”  
  7. “Baik, Bu.”
  8.  “Yang sabar ya, dengan kakakmu Nining.”
Catatan Editor: 
Antara judul dan cerita judulnya tidak berkaitan. Dari alur cerita sepertinya penulis belum benar-benar yakin akan cerita apa yang ingin ditulis, karena cerita awal mengisahkan tentang brongkos ibu, namun di pertengahan hingga akhir justru menceritakan ipar yang suka berhutang. Penulis masih perlu banyak membaca dan belajar membuat kerangka cerita sebelum menulisnya menjadi sebuah cerpen.
 


Topic

#writersclub

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?