Karya Anda
Keranji

9 Aug 2017

Aku terpaku, kala kulihat sebuah pohon bertengger ‘lagi’ di rumahku. Padahal aku sudah bilang padanya bahwa aku tak menyukai pohon. Semenjak ia terus menerus melakukan hal itu kepadaku.
Aku jadi membenci pohon, apalagi sekarang posisi pohon itu berada di kamarku. Tak bisakah ia menghargai sesuatu yang tak aku sukai? Kulihat lekat-lekat pohon itu. Semakin kudekati, semakin dekat pula ia kepadaku, seolah-olah ia ingin mencengkeramku, dan memasukkanku ke dalam tubuhnya.
Tiba-tiba kurasakan sesuatu menarikku. Aku histeris, aku berteriak dan aku tak kuasa menahannya. Sebuah tangan kokoh memegangku dengan kuat. Aku menjerit tertahan, Ibu tolong aku?
 
Kulihat ibu mendekati kamarku. Apakah ibu mendengar suaraku? Ibu... aku di sini ibu, aku sedang ditarik oleh sebuah tangan yang tak kukenal. Lihat aku masih menggunakan seragam sekolah ibu dan aku belum melepasnya sama sekali, ketika aku melihat sebuah pohon besar telah hinggap di kamarku.
Aku terpaku Bu. Ibu… apakah ibu mendengarku? Kumohon jangan pergi Bu, jangan langkahkan kakimu keluar dari ruangan ini, anakmu sedang membutuhkan bantuanmu, aku mohon jangan tinggalkan aku Bu..  kumenjerit sekuat-kuatnya, aku semakin terpaku di sini.
Setelah ibu pergi, lalu siapa lagi yang akan menolongku. Siapa lagi yang akan datang ke kamar ini. Sedang aku makin tak kuasa menahannya, tangan kokohnya benar-benar mengcengkeramku dengan sangat kuat, tak membiarkan aku sedikit pun untuk bisa bernapas lega. Seolah-seolah ia sudah mendapatkan mangsa dan tak mau melepaskannya.
Sakit… kurasakan sakit yang amat sangat di tenggorokkanku. Kejam, sungguh kejam sekali ia padaku. Senang disaat lawannya tak berdaya. Kudapati ia tertawa dengan puasnya. Cuih, sebal sekali aku melihatnya, ingin rasanya kuludahi muka itu. Biar tahu rasa ia telah menghinaku. Menyakitiku dan melukaiku tanpa sebab.
Dan semakin lama, aku merasakan ia semakin mengcengkeramku, menekanku hingga ke dasar-dasar tulangku. Aku tidak kuat, hingga aku batuk tak tertahan. Air… di mana air, aku ingin minum, aku haus. Semenjak pulang tadi aku belum mengambil minum sama sekali. Belum sedikit pun air segar hinggap di kerongkonganku.
Menyesal rasanya, langsung melihat dia yang seharusnya tak kulihat sama sekali. Dia tertawa dan makin melebarkan tawanya. Sejenak kemudian, aku mendapati diriku melayang, kepalaku pening, sejurus kemudian aku menghilang dalam kenyataan. Ia telah menenggelamkanku ‘lagi’ dalam dunianya.
ᴥᴥᴥ
 
            Binar-binar cahaya menembus masuk dalam korneaku. Aku merasakan sebuah kehangatan. Kini kesadaranku telah pulih kembali, mataku sedikit demi sedikit mulai terbuka. Serasa aku berada lagi di dunia ini dalam sekejap, dan aku baru sadar, kalau aku telah lepas dari sebuah cengkeraman. Ya, cengkeraman pohon itu.
Sekarang tenggorakkanku sudah tak sakit lagi, aku sudah bisa bernapas lega. Tapi… sekarang aku berada di mana? Gelap, gelap sekali di sini, tak ada lampu ataupun sebuah penerangan. Ke mana cahaya-cahaya yang tadi? Cahaya yang telah menyoroti dan membangunkanku? Mereka telah hilang dalam sekejap, membuat mataku tak bisa menatap keseluruhan dengan jelas.
Oh ibu… di mana ini? Apa yang harus kulakukan? Anakmu kini telah tersesat di dalam sebuah ruangan yang sangat gelap, entah berada di mana ini. Apakah ini sebuah gua? Aku sendiri tak yakin, yang aku tahu kalau sekarang aku berada di tempat yang benar-benar gelap, sangat gelap.
Ah… atau jangan-jangan kini aku telah berada di dalam tubuh pohon yang mengcengkeramku tadi? Apakah aku telah ditelannya? Oh tidak, pohon itu sungguh menyebalkan dan aku sangat tak menyukainya. Tapi, bisik… bisik, aku mendengarkan sesuatu yang berada di luar sana. Suaranya terdengar sedikit berisik. Ah… apakah itu ibu dan ayahku?
 
“Reihan, kamu sedang apa nak? Ayo makan dulu? Dari tadi kok baju seragamnya belum dilepas, sayang?” sapa lembut seorang wanita. Ah… dan aku kecewa, ternyata itu bukan ibuku. Aku tahu, itu pasti ibunya Reihan. Ibu dari seorang anak pemurung, yang kerjaaannya hanya di rumah saja, sekolah, lalu kembali lagi ke kamar. Itulah aktivitasnya setiap hari.
Tak pernah sedikit pun ia bermain keluar atau sekadar mengajak temannya bermain ke kamarnya, tidak pernah. Ya setahuku, tidak pernah ada tawa dan canda di kamar ini, tak pernah ada keramaian sama sekali, karena dia memang seorang anak yang pemurung. Entahlah aku sendiri tak tahu, sejak kapan ia menjadi seperti itu.
Yang aku tahu, akulah satu-satunya temannya bermain, teman untuk segala kegundahan dan kegelisahannya, itu pula yang tidak aku sukai darinya. Aku seperti mainan pelampiasannya, yang bisa disayang kemudian dihilangkan, disayang lalu dihilangkan lagi dari kehidupannya.
Aku sungguh tak mengerti bagaimana jalan pikirannya. Senangkah hatinya berbuat seperti itu padaku? Aku bagaikan seonggok lukisan yang disukai namun dibenci pula oleh dirinya, menjadi sebuah kesenangan serta pelampiasan yang menyakitkan. Terombang-ambing dalam hati dan pikirannya, yang tak jelas ke mana arah dan tujuannya, untuk apa aku diciptakan dan untuk apa aku dibuatnya.
ᴥᴥᴥ
 
“Kakak, aku mau buah itu lagi?” rengek seorang bocah laki-laki berumur sekitar enam tahunan.
“Ambilkan lagi Ka, ambilkan,” rengeknya kembali.
Bocah laki-laki itu sangat tertarik dengan buah berwarna hitam pekat, bentuk buahnya memiliki ukuran sebesar buah anggur, namun agak sedikit kecil. Pertama kali ia mencicipi buah itu ketika kakaknya pulang sekolah dan selalu membawakan untuknya.
Rasanya asam manis seperti permen, dengan warna buahnya oranye menyala, membuat yang melihat pasti ingin langsung mencicipinya. Buah ini banyak dibudidayakan di daerah Kalimantan, dan memiliki banyak manfaat untuk tubuh terutama dalam membunuh kolesterol jahat, juga berpotensi sebagai sumber nutrisi yang baik untuk tubuh manusia.
Itulah keterangan yang selalu dijelaskan oleh kakaknya, sehingga adiknya pun sangat menyukainya. Nama buah itu adalah asam keranji. Tiap hari kakaknya pasti selalu mengambilkan buah itu untuknya, tapi tidak dengan hari ini. Karena ada banyak kegiatan di sekolah, hingga kakaknya baru pulang ke rumah sore hari, dan ia tak sempat mengambilkannya.
Adiknya yang mengetahui alasan itu tetap tidak mau mengerti, ia terus merengek sampai kakaknya mau menuruti kemauannya. Sebenarnya pohon asam keranji itu tidak berada jauh dari rumahnya, hanya berjarak 500 cm. Tapi karena rasa lelah yang menghinggapi membuat kakaknya seperti memiliki beban ketika berjalan menuju pohon tersebut.
Padahal ibu dan ayahnya sudah melarang untuk tidak perlu menuruti kemauan adiknya, tapi karena rasa sayang kakak terhadap seorang adik, ia pun tetap menuruti keinginan adiknya tersebut. Rasa puas dan senang pun terpancar dari raut wajah adik kesayangannya itu.
 
Pukul lima mereka berdua menuju ke taman tempat tumbuhnya pohon asam keranji tersebut. Setelah sampai, sang kakak langsung memanjatnya meski rasa lelah ditubuhnya semakin bertambah dan kepalanya sedikit pening. Tapi karena tak ingin mengecewakan adiknya, ia pun memanjat dengan gagahnya.   Dan adiknya dengan setia menunggunya di bawah pohon sambil membayangkan kakaknya mendapatkan buah keranji yang sangat banyak, lalu ia akan memakannya dengan lahap.
Namun, sebelum bayangan yang menyenangkan itu hadir sebagai kenyataan. Sesuatu tengah terjadi, secara kilat sang kakak terpeleset dan jatuh dari atas pohon itu, akibat tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan baik.
Kedua tangannya tak begitu kuat untuk memegang cabang pohon tersebut, hingga ia langsung terpental dari atas. Buah-buah keranji yang telah dikumpulkannya pun tercerai berai di hadapan sang adik, yang terpana melihat pemandangan yang sungguh tak terduga itu.
Kakaknya jatuh dan terluka di hadapannya, seketika itu juga nyawanya tak dapat diselamatkan lagi, ia menghembuskan napas terakhirnya dipangkuan sang adik yang telah menangis histeris.
Sejak kejadian itu, ia tak pernah lagi bermain keluar. Ia tak ingin mengingat lagi kejadian yang menyedihkan itu, dan gambar-gambar itulah yang saat ini selalu menjadi bahan mainannya, pelampiasan terhadap kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya, hingga membuat kakaknya meninggal di hadapannya.
ᴥᴥᴥ
 
“Reihan, Ayo makan dulu sayang.” Sapa lembut dari ibunya kembali terdengar, dan sangat jelas di telingaku. Lambat laun ibunya membangunkannya, untuk segera beranjak dari gambar lukisan yang tengah dibuat. Ibunya segera membawanya ke meja makan. Dan itu membuatku merasa lega.
Setidaknya untuk kali ini aku tidak akan dihapusnya lagi. Tapi… hei mau sampai kapan ia akan membiarkanku terjebak di dalam sini. Di sini sangat gelap sekali, tolong beritahu aku, aku sebenarnya ada di mana. Hei Reihan… kupanggil-panggil dirinya, tapi sedikitpun ia tak meresponku.
Namun, belum berapa lama aku memanggilnya, aku merasakan kakiku seperti menghilang. Oh tidak, dia kembali lagi. Aku baru sadar kalau sekarang ia telah menghapus tubuhku. Tandanya aku akan mati ‘lagi’ dan hilang. Lalu… lalu… kalau aku hilang maka aku takkan lagi ada di sini--di lukisan ini, dan pohon itu, pohon itu akan menang lagi dariku.
Pohon itu akan terus bertengger di kamarku--kamar impianku. Begitu, dan terus seperti itu setiap harinya, aku dilukis lalu dihapus, dilukis dan akan dihapus lagi, seolah-olah aku hanyalah sebuah figuran dari alam lukisan ini. Hingga kamar itu penuh dengan pohon-pohon. Ya, lukisan pohon di kamar impianku.
Aku pun hilang dengan sebuah senyuman hampa. Aku terpana. Dan pohon itu tertawa puas melihatku. Bersama senyum bocah laki-laki itu, yang dengan bangganya menempelkan lukisan-lukisan pohon keranji di setiap dinding kamarnya.
Dan tahukah kau? Aku adalah replika dirinya di lukisan ini, imajinasi dirinya yang menyesal atas kematian kakaknya. Meskipun ia tahu, bahwa DIA-lah yang telah menentukan semuanya.
 
Catatan Editor:
Hingga satu halaman habis terbaca, masih belum jelas cerita ini mau dibawa ke mana. Penulis juga terlalu bertele-tele menceritakan apa yang tengah dirasakannya dan terus-menerus melakukan praduga. Cukup melelahkan membaca keseluruhan cerita ini, ditambah lagi dengan akhir yang tidak menarik. Sangat disarankan penulis banyak membaca novel atau cerpen lain sebagai referensi.

pistol4d
pistol4d slot dana 10000


Topic

#writersclub

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?