Hujan yang tiba-tiba ini membuat jalanku yang bergegas makin gegas, makin lekas. Sebab hujan tidak pernah mau mengerti orang. Sebab hujan juga tidak lantas berhenti hanya karena aku merasa terganggu.
Sebab hari ini ada jenazah baru yang tiba di rumah duka Sinar Semadi. Aku ingin memastikan bahwa orang baru yang akan bekerja di tempatku bekerja akan bekerja sesuai dan serupa dengan caraku bekerja selama ini.
Selama lima belas tahun ini. Hari ini gilirannya menangani jenazah.
Ketika aku sampai, hujan belum juga mau berhenti. Orang baru itu sudah di sana. Orang itu, ternyata bukan perempuan bukan laki-laki.
Atau barangkali dulu dia pernah lelaki dan sekarang perempuan tapi bukan perempuan.
Aku gemetar sebentar, geram luar biasa karena bosku memilih orang seperti ini untuk bekerja di tempatnya. Segera saja aku tidak menyukainya.
Aku memang tidak pandai menyukai orang. Terlebih orang-orang baru. Terlebih lagi orang-orang baru yang bekerja berdampingan denganku.
Sebab setiap orang baru adalah potensi bahaya kalau-kalau mereka mengusik persembunyianku dari hiruk-pikuk hidup.
Aku selalu pintar bersembunyi. Menghilangkan diri dari khalayak ramai, memelihara sifat anti-sosial yang tak dimengerti orang-orang lain.
Teman-teman baikku selama ini adalah klien-klienku yang sudah diam dan segera dikubur.
Mereka menyenangkan dan tidak membuatku resah seperti orang baru itu. Orang baru itu, yang tidak kuketahui namanya, yang tidak mau kuketahui namanya, bersiap memandikan jenazah wanita yang baru datang itu.
Aku tak menyapanya. Ia pun tak menyapaku. Sombong. Makin tak suka aku padanya.
Aku berdiri di samping orang baru, memperhatikan setiap tindakan yang diambil olehnya kepada tubuh tak bernyawa itu. Yang diperhatikan cuek saja. Tak meminta saran maupun arahan.
Meski jelas kulihat pengalamannya belum banyak. Sepertinya bos-ku buru-buru menerimanya bekerja karena kekurangan tenaga kerja.
"Heh, bodoh!" Aku terdengar lebih kasar dari niatku. "Dia harus dimandikan dengan air yang diisi larutan klorit. Jenazah ini bekas penderita HIV."
Orang baru itu pura-pura tuli. Barangkali tak senang dicampuri urusannya, meski oleh seniornya.
"Kalau ada luka, tutup pakai kapas. Rendam dulu kapasnya di larutan klorit." Orang baru tetap tak mengindahkan.
"Pakai sarung tangan double! Kamu mau mau kena infeksi?"
Orang baru itu ngotot, tetap dipakainya satu lapis sarung tangan saja.
Aku baru ingat, aku pernah mendengar bosku memanggil orang baru itu Sianny. Sekarang aku benar-benar tidak suka padanya.
Hujan sempat badai kemudian. Selalu setelahnya lututku diserang penat berlebih. Aku duduk di belakang orang baru itu, di sebuah kursi yang kakinya tak sama panjang sehingga sering kali menimbulkan bunyi tiap aku bergerak.
Sepertinya ia merasa terganggu dengan bunyi-bunyian dari kursiku. Orang baru itu menoleh sejenak ke arahku lalu bersungut tak senang dan lanjut tidak peduli sambil bersiap memberi warna pada kulit yang telah pucat dan tubuh yang tak lagi hangat agar seolah wanita yang baru sampai itu hanya sekedar terbaring tidur.
Mungkin sedang mimpi atau berpura-pura bertapa.Dengan jari-jarinya yang tak seharusnya selentik itu dan kuku-kukunya yang dadu palsu, orang itu sibuk merapikan rambut jenazah yang telah jarang.
Dibanding-bandingkannya wajah sang wanita yang sudah jenazah dengan fotonya semasa hidup.
Untuk menghilangkan kantuk mungkin atau untuk membuatku diam lalu pergi, ia memasang musik. Hingar bingar. Kencang. Ribut. Itu suara musiknya.
Aku tak suka musiknya. Tak suka sunyi yang pecah karenanya. Orang baru itu ikut berdendang seperti biduan kampung yang kebelet manggung.
Tak lama kemudian ia mulai bergoyang. Aku benar-benar muak dibuatnya. Ia mengacak-acak arena sakralku.
Di ruang bawah tanah ini, aku mendapatkan keterasingan yang nikmat. Sendiri tapi tak sendiri. Sepi tapi tak sepi.
Sunyi selalu berhasil membentuk kata yang menenangkan bagiku. Di saat seperti ini aku pun tak akan merusak sunyi seperti orang baru itu merusak sunyi dengan lagu-lagunya.
Aku bahkan tak akan bersenandung meski hanya di bawah bisik-bisik. Lebih seringnya aku menduga-duga saja dalam hati, berapa lama kira-kira waktu yang dihabiskan untuk tubuh-tubuh yang tengah kumanusiawikan penampilannya ini untuk sampai di sini, di ruang kerjaku? Apa yang mengantar mereka kemari?
Sembari aku membayangkan sebuah daftar riwayat yang pernah membentang persis pengamat kehidupan yang terlambat. Semua itu kulakukan tanpa bersuara.
Sebab aku tak ingin membuat teman-teman baruku ini bingung. Sebab mereka bisa mendengarku bertanya tapi aku tak bisa mendengar mereka menjawab.
Orang baru itu membungkuk sedikit saat mencoba membuat rambut jenazah yang terus berontak tunduk pada arah sisirnya. Tak sengaja aku melihat rajah sedikit di atas pinggul kirinya.
Gambarnya tak tertebak pikiranku. Rumit, njelimet dan ujungnya ruwet. Tak sadar, mataku menelesuri bagian tubuhnya yang lain, yang tak tertutup kain pakaian, kalau-kalau ada rajah lainnya di sana. Ternyata banyak.
Pelan-pelan aku mengamati ukiran tinta-tinta yang pasti dulu pekat hitamnya tapi kini samar kehijauan di tubuhnya, mencoba menafsirkan setiap gambar atau tulisannya.
Pelan-pelan aku lupa kalau aku tak menyukai orang baru itu. Aku tak lagi mengamatinya melakukan pekerjaanku tapi mengamatinya. Rasa penasaran meruap.
Apa yang mengantar orang ini sampai kemari? Menjadi perias mayat bukan kerja yang hina, tapi tidak biasa. Saking tidak biasanya, pasti ada cerita dibalik seseorang memilih jalan ini.
Aku sendiri juga punya cerita. Bapak dan saudara-saudaraku memanggilku sundal. Ibu diam saja, tak hendak membela. Dalam diamnya, aku sadar ia setuju.
Aku memang tidak pernah kesayangan ibu apalagi bapak. Aku tidak pintar sekolah dan banyak melamun, sering membuat malu dan kecewa. Barangkali karena kecil dulu pernah jatuh, kepala nyungsep dulu, kata bapak.
Barangkali harus diperiksa orang pintar, kata ibu. Ini pasti gara-gara dosa kalian yang belum habis dibayar, nenek ikut-ikutan. Saat malam, aku sering berdoa diam-diam agar Tuhan membuat aku pintar, tapi aku malah tidak naik kelas.
Mau jadi apa kamu kalau nggak sekolah, bentak ibu. Tukang sapu saja lulus SD, kata bapak. SMP kelas satu, bapak dan ibu tidak mau lagi menyekolahkanku.
Buang-buang uang saja, mereka berkesimpulan. Bapak dan ibu tak lagi peduli. Seburuk-buruknya, aku bisa jadi tukang sapu sebab aku sudah lulus SD, pikirku.
Aku amat sedih sebab Tuhan rupanya tidak ada. Tapi ada mbak Upik, tetangga depan rumah yang selalu dandan menor. Bibirnya merah menyala.
Bajunya minim dan berwarna terang. Meski kulitnya hitam, ia percaya diri. Mbak Upik yang dulu Bang Dalang mengajakku bekerja di salon. Aku ikut saja. Bapak dan ibu tetap tak acuh. Lama-lama aku jarang pulang ke rumah.
Di salon, aku hanya ditugaskan menyapu dan bersih-bersih. Setahun kemudian aku mulai dipercaya untuk keramas dan creambath. Tapi aku suka tata rias. Dengan tata rias mbak Upik yang hitam bisa jadi mentereng.
Aku berharap aku yang tidak pintar sekolah juga bisa jadi yang lain, barangkali jadi yang ayu. Namun, baru saja aku mulai belajar, mbak Upik dipecat karena suka curang dengan duit salon.
Terpaksa aku ikut kemana ia pergi sebab hanya mbak Upik yang baik padaku.
Kami mencoba peruntungan di kelab malam. Ternyata mereka senang padaku. Om-om ompong yang mata keranjang dan suka serong memujiku ayu.
Tiba-tiba aku punya uang. Jauh lebih banyak dari tukang sapu. Aku beli lipstik merah menyala persis punya mbak Upik. Aku borong baju-baju minim yang mentereng persis punya mbak Upik.
Rupanya Mbak Upik cemburu. Om-om lebih menyukaiku yang dibawah umur dan kerempeng daripada mbak upik yang sudah dibuat montok dan sintal oleh tangan-tangan yang bukan Tuhan dan yang bukan profesional.
Mbak Upik kembali curang. Kali ini denganku. Ia menjelek-jelekkan aku, menuduhku yang tidak-tidak dan mengusirku dari tempat tinggal kami yang hanya sepetak tanah bersemen.
Aku menangis dan menangis sebab amat sedih. Aku sadar bahwa tidak ada orang yang menyayangiku lagi. Om-om ompong tidak sayang padaku.
Mereka hanya senang pada tubuhku. Lalu aku teringat bapak dan ibu, dan airmataku seperti tidak mau berhenti.
Sebulan berikutnya, kudengar mbak Upik mati karena memancungkan hidung di klinik kecantikan sembarang dokter.
Rasa sedih yang luar biasa akhirnya menyebabkan aku nurut saja saat disuruh mencoba-coba yang terlarang oleh om-om langgananku.
Seminggu berlalu aku sudah kecanduan. Penghasilanku habis terkuras untuk memuaskan canduku. Aku lebih miskin dari tukang sapu.
Aku tidur dengan sembarang laki-laki dan kadang perempuan. Meski dibayar sedikit pun aku mau, asalkan aku bisa mengumpulkan uang untuk menghisap canduku.
Kadang aku berhubungan dengan beberapa penyalur dan penjaja obat bius agar bisa dapat tanpa membayar. Yang kutakuti terjadi. Aku ditangkap polisi. Diciduk ke dalam mobil bak terbuka dengan sesama yang melacur dan mencandu.
Aku tidak jera. Segera setelah bebas aku pulang ke pelukan obat-obat yang dilarang namun tak ada habisnya beredar.
Lalu aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang pria paruh baya yang menjajakan perempuan. Kami akhirnya menikah dan aku sibuk mencintainya.
Sayangnya, suamiku tidak mencintaiku seperti aku mencintainya. Ia banyak tidur dengan perempuan-perempuan dan aku banyak menghabiskan waktu kesepian. Akhirnya suamiku mati. Bunuh diri.
Rupanya ia banyak hutang. Aku tidak sedih seperti saat Mbak Upik mati. Aku justru malah lega. Tapi aku jadi ingin berubah. Ingin membenahi hidup dan jadi benar.
Setelah lama termenung, aku memutuskan kembali belajar merias. Pertama-tama pada diri sendiri. Lalu pada sesama pecandu yang bersedia dirias. Lama-lama aku siap meninggalkan segala yang hitam dan haram.
Aku mulai mencari kerja. Kerja yang di hari masih terang. Tapi tak ada salon yang mau menerimaku.
Tak ada yang mau didandani olehku selain teman-teman pecanduku. Itu pun mereka tidak membayar.
Matahari terik di siang hari. Sinarnya silau membuat mata memicing. Namun, rupanya duniaku tetap gelap.
Kemudian cerah mula-mula sebesar titik. Aku berkenalan dengan juga mantan pecandu yang punya teman yang temannya punya teman yang seorang pengusaha rumah duka. Orangnya baik.
Aku dikenalkan pada pengusaha itu. Diminta membantu memandikan jenazah dan membuat penampilannya enak dipandang mata yang sedang sedih.
Aku bekerja di sana sejak saat itu, memandikan jenazah dan membuat penampilannya enak dipandang mata yang sedang sedih. Aku jadi tahu banyak.
Jenazah Tionghoa yang keluarganya masih menjunjung tinggi nilai adat harus pakai baju lapis-lapis. Jumlahnya ganjil. Bisa tujuh, bisa sebelas.
Make-up tidak mencolok dan bila sudah kepala delapan dengan cicit harus pakai warna merah.
Jenazah yang diabetes selalu mengeluarkan cairan dari mulut dan hidung. Sumbat dengan kapas, beres persoalan.
Ada jenazah yang matinya susah. Mulut menganga tidak mau rapat, lidah menjulur seperti kehilangan kendali, mata melotot sebab mati tak tenang. Ada juga yang tubuhnya hancur sebab korban kecelakaan atau keganasan kanker.
Jenazah yang hepatitis atau rabies atau HIV ditangani dengan prosedur khusus sebab selama hidup mereka juga selalu dikhususkan.
Sangat disesalkan orang baru itu tidak mau mendengarkan apalagi bertanya, padahal aku lihat ia mulai bingung.
Jauh lewat tengah hari, akhirnya ia selesai. Kutengok hasil karyanya. Tak sesuai dengan fotonya. Terasa salah. Tapi orang baru itu tampak puas lagi bangga.
Ia senyum-senyum sendiri melihat jenazah yang kini persis badut dunia fantasi. Mata dan bibir sama mencoloknya. Pipinya terlalu merah. Hidung pun disapu perona pipi.
Barangkali ia sengaja mendandaninya seperti itu agar yang sedih jadi tertawa. Barangkali yang mati pun turut senang bisa membawa tawa untuk kali terakhir bagi yang berduka.
Orang baru itu pulang. Tidak pamit. Atau mungkin coffee break. Tidak pamit. Baginya pekerjaannya hari itu sudah tuntas.
Malam tampak menjelang meski baru pukul lima sore. Di luar gelap. Orang-orang sudah berdatangan. Mereka hendak berbelasungkawa.
Kebanyakan dari mereka sekedar merasa wajib. Aku selesai membenahi dandanan jenazah yang tadi hampir dipermalukan oleh orang baru itu.
Hasilnya benar-benar membuatku puas lagi senang. Kini aku tampak cantik, persis seperti di foto ketika aku masih sundal dulu.
Catatan Editor:
Cerita yang menarik. Sayangnya, penggunaan bahasa yang masih sedikit mengambang membuat pembaca harus berpikir dahulu untuk memahami maksud dari cerita yang ditorehkan oleh penulis.
Topic
#writersclub


