Karya Anda
Es Lilin

4 Jul 2017

Sepotong es lilin. Bukan es krim atau es lainnya. Aurora tersenyum simpul mengingat kata-kata Alex dua hari yang lalu. Lelaki yang selalu setia mengisi ruang di hatinya. Es kesukaan lelaki itu memang mulai langka keberadaannya, pikir Aurora.

Senja ini, perempuan bermata sipit itu sibuk membuat es lilin kacang hijau. Es khusus untuk Alex. Es yang terbuat dari kacang hijau, santan, gula, dan rebusan daun pandan. Besok siang, Alex akan menunggunya di bawah pohon mangga. Tak jauh dari rumah Aurora. Pohon yang setia memberikan sedikit ruang dibawah rimbunan daun-daunnya untuk Aurora dan Alex bercengkrama.

“Kenapa es lilin, Lex?” Aurora tak bisa meredam rasa penasarannya.
“ Makan es lilin itu...” Digenggamnya tangan kiri Aurora.
Alex menghirup napas sedikit. Mengembuskan perlahan. Sangat hati-hati.
“Memanggil kenanganku bersama orang-orang yang kucintai untuk hadir kembali. Mengobati rasa rinduku pada mereka yang telah pergi ke surga.”

Mata Alex menerawang ke angkasa. Jauh. Telunjuk tangannya menunjuk sebuah awan putih yang paling besar.    
“Kenangan yang sangat indah. Mereka membawa kenangan itu ke surga. Aku suka makan es lilin sambil mengenang masa-masa bersama mereka. Kau tidak keberatan, kan?” Alex mengerlingkan mata sayunya.

Aurora menggeleng. Apapun akan ia lakukan untuk Alex. Selama ini hanya lelaki itu yang sangat memahami dan mengerti akan dirinya. Ketika semua orang yang dekat dengannya menganggap dirinya aneh. Aurora selalu merasakan tatapan mencurigakan dari orang-orang yang ditemuinya. Perasaan tidak nyaman dan membuatnya gelisah. Rasanya, mereka semua tidak menyukai dirinya. Aurora selalu ingin menyendiri.

***

“Sepotong es lilin tanda cinta.” Suara di belakangnya mengejutkan Alex.
“Kamu dan gadis itu?” Tanya Himi dengan wajah cemburu.

Alex terperangah. Suara itu terdengar bergetar hebat. Ia kenal betul dengan suara khas yang barusan didengarnya. Suara lembut seorang sahabat. Suara yang...
Alex mendesah. Detak jantungnya berhenti sesaat. Rasanya ingin ia segera memutar mesin waktu, memindahkan si pemilik suara itu agar tidak hadir di sini saat ini. Ia belum siap untuk menjelaskan semuanya.

Alex memutar badan perlahan. Ditatapnya kedua manik gadis itu. Himi! Ia memang menyimpan rapat hubungannya dengan Aurora. Ia tak ingin Himi terluka. Bagi Alex, Himi sudah seperti saudara kandungnya. Ia sangat menyayangi Himi. Namun perasaannya tidak bisa melebihi itu. Sungguh, Alex tak ingin kehilangan Himi seperti ia kehilangan ibunya dulu.

Air mata jelas terlihat menggenang di pelupuk mata Himi. Gadis itu nampak begitu putus asa. Matanya menatap Alex lekat. Menunggu jawab dan penjelasan. Alex bisa merasakan lautan kesedihan yang terpancar dari bola mata Himi. Suara Alex benar-benar tercekat. Pita suaranya serasa meninggalkan tempatnya sesaat.

***

“Cinta itu akan memberimu kekuatan lebih. Sebesar tsunami yang bisa menerjang ribuan rumah dan apapun yang menghalanginya untuk lewat!” seru Alex lantang di depan cermin. Menunjuk bayangan dirinya sendiri di balik cermin dengan telunjuknya.

Sebuah semangat yang ia kobarkan untuk  mendapatkan kembali diri Aurora yang utuh. Perubahan apapun dalam diri Aurora, Alex akan setia menjaga mahkota cintanya agar tidak goyah di hati perempuan itu.

Alex memejamkan mata sekejap. Ada masalah serius antara dirinya dengan Papa Aurora.  Ia harus menjaga kesabarannya agar tidak menguap, demi mempertahankan hubungannya dengan gadis pilihan hatinya itu.

“Tinggalkan Aurora, Lex. Gadis itu sudah tidak waras sekarang. Tertawa  dan berbicara sendiri. Aneh! Kasihan Himi. Ia   mencintaimu!” saran Nenek suatu malam.
Alex mendesah. Kata-kata neneknya bagaikan menyuguhkan buah simalakama tepat di depan wajahnya. Himi memang sahabatnya. Namun cintanya hanya untuk Aurora.

***

“Es lilin darinya,” desis Aurora pada tengah malam pada mamanya.
“Alex...,” desah Aurora seiring hembusan napas.       

Mama berdiri di samping Aurora. Ia tahu betul hubungan Aurora dengan lelaki itu.
Aurora menggeser kursi ke depan jendela kamar. Membuka lembaran kertas pada buku diarynya. Ditemani semilir angin dari kaca jendela yang ia biarkan terbuka sedikit, menjadi sebuah senyawa yang sangat nyaman bagi Aurora untuk menggoreskan semua kejadian yang ia alami hari demi hari.

Ditatapnya langit  penuh bintang, yang selalu setia menemani setiap malamnya.  Aurora menerawang ke luar jendela. Berharap ada bintang jatuh dan ia akan mengucapkan sebuah kalimat pinta yang sudah lama bersemayam  dihatinya. Abadinya cinta dirinya dengan Alex.

“Aku sangat mencintaimu, Aurora. Sungguh!”
Aurora tersenyum sendiri mengingat  semua kenangannya bersama Alex. Kenangan yang baginya terasa semanis es lilin.

***

Sepotong es lilin kacang hijau. Aurora sekarang duduk di samping seorang lelaki berambut putih. Seorang lelaki yang ingin selalu melindunginya dari segala mara bahaya. Seorang lelaki yang selalu menyiraminya dengan kasih sayang. Seorang lelaki yang juga cemburu ketika ada cinta yang ditawarkan seorang pemuda pada Aurora. Seorang lelaki yang kerap dipanggil papa oleh Aurora.

“Kenapa kau mencintai Alex, Aurora? Dia...” Lelaki berambut putih itu menggantung kalimatnya.
Aurora melirik papanya sambil tersenyum.
“Karena hanya Alex yang mampu membuat jantungku selalu berdegup kencang dan aku selalu merasa nyaman disampingnya, Pa. Bukankah karena itu pula Papa menikahi Mama?”

Lelaki itu menghela napas panjang.
Aurora tahu. Papa sangat memperhatikannya. Tapi, ia juga sangat menyayangi Alex. Ia begitu sedih karena Papanya sangat membenci Alex. Alasannya, Papa merasa tidak cocok dengan Alex.

Sejak Aurora merasa sering gelisah, ketakutan dan berbicara sendiri, Papa mulai membuka hatinya untuk menerima Alex. Walau dengan terpaksa karena  Alex  mampu menenangkan Aurora. Demi kesembuhan Aurora.

***

Aurora sedang duduk di teras rumah. Suasana hening membuatnya begitu kesepian.

“Ini fotokopi catatan kuliah kemarin, Aurora,” suara nyaring Tania terdengar bersemangat di telinga Aurora.
Aurora tersenyum, segera diraihnya tumpukan kertas dari Tania. Satu-satunya sahabatnya di kampus   yang sangat peduli padanya sejak dirinya mengalami delusi dan halusinasi.
Aurora menggandeng tangan Tania. Diajaknya sahabatnya itu ke dapur.

“Hei, kamu akan membuat es lilin berbentuk hati ya? Buat Alex?” tebak Tania.
“Iya. Kamu mau bantu aku kan?”

Tania mengangguk, dengan senang hati ia membantu Aurora sambil bercerita banyak tentang fashion, cinta, dan teman-teman kampus.
Aurora bersenandung mengikuti lirik lagu Tonight I Celebrate My Love yang ia putar. Lagu romantis kesukaannya. Suara merdu Peabo Bryson dan Roberta Flack memenuhi ruangan dan menyelusup ke dalam simpul-simpul memori Aurora.

Diputarnya berulang-ulang lagu itu sampai es lilin stoberi berbentuk hati itu selesai ia buat. Tania tersenyum.  Si Putih, kucing pemberian Alex melingkar di sudut ruangan.

“Aurora, kamu berbicara dengan siapa?” suara Mama membuat Tania pergi begitu saja.

***

Aurora meraih sebutir pil dari plastik obat dan memasukkan ke mulutnya. Hampir tiap hari dirinya minum obat itu. Beberapa saat kemudian,  perasaannya berangsur membaik. Keresahannya berkurang, juga bayangan-bayangan yang kadang muncul disekitarnya. Samar-samar ia merasakan Putih juga mulai menghilang dari pandangannya. Aurora mengucek-ngucek matanya. Meyakinkan penglihatannya.

Aurora terpekur. Pikirannya melayang-layang. Ia ingat dulu Alex rutin membawanya ke dokter Rudi dan setia menemaninya terapi bimbingan. Tapi, kemanakah lelaki itu sekarang? Ia merasa entah sudah berapa lama pikirannya sangat kacau.  Ada sesuatu yang mengganjal di benak Aurora.

***

Mata lelaki berambut putih itu menerawang ke angkasa.

Waktu itu, Aurora menatap tak percaya pada lelaki yang berdiri didepannya. Lelaki paruh baya itu sudah bulat dengan keputusannya. Aurora harus berpisah dengan Alex. Mata Aurora  terasa begitu panas dan melelehkan semua genangan air yang ada didalamnya. Menetes semakin deras.

“Putuskan hubunganmu dengannya sekarang!” Papa  berdiri membelakangi Aurora sambil mengepalkan jari-jarinya.

***

Lelaki paruh baya itu memandang Aurora dengan sedih ketika Aurora minum obat. Hatinya perih. Rasa perih yang juga pernah ia rasakan ketika adik perempuan satu-satunya mengalami hal yang sama dengan Aurora. Skizofrenia. Ia  menangis melihat Aurora begitu tenggelam dalam halusinasinya.

Papa Aurora mendesah dan merangkumkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Seakan ia tak sanggup memandang apa yang terjadi pada Aurora. Kalau saja ia bicara baik-baik  mengenai hubungan Aurora dengan Alex. Dan ia jelaskan semuanya. Bukan dengan nada yang keras yang membuat Aurora kabur.

Kalau saja malam itu Aurora tidak meminum alkohol di kafe itu. Alkohol yang telah memicu delusi dan halusinasi Aurora. Kalau saja...

***

Es lilin berbentuk hati ada di tangan Alex. Es lilin stroberi buatan spesial Aurora. Gemerisik daun pohon mangga yang tertiup angin terdengar lembut. Aurora memandang wajah Alex lekat. Ia merasa Alex benar-benar sedang memegang hatinya dengan genggaman tangannya yang kuat.

“Kita akan terus bersama Aurora!” bisik Alex lembut. Selembut angin yang menerpa wajahnya.
“Janji?” tanya Aurora.           

Alex mengangguk. Digenggamnya tangan Aurora.
Sepasang mata memandang dengan perasaan perih dari kejauhan. Melihat anak semata wayangnya berbicara sendiri. Sudah enam tahun Aurora mengidap skizofrenia.

Seandainya Aurora tahu bahwa Alex adalah saudara kandungnya dari perempuan  yang sudah meninggal karena kanker ovarium. Sebuah dosa dan ketidakjujuran yang telah menghukum hidupnya selama bertahun-tahun.  Sepasang mata seorang lelaki berambut putih.

Catatan editor:
Bagian awal dari cerpen ini, sungguh memikat. Detail penggambaran situasi dan deskripsi para tokohnya juga cukup menarik. Pasti pembaca akan penasaran untuk meneruskannya. Ini bisa jadi modal utama untuk mengasah lagi story telling untuk cerpen-cerpen lainnya. Sayangnya, penulis harus lebih banyak belajar soal penggunaan EYD. Jika ingin memasukkan dialog, usahakan cukup menarik untuk disimak.


Topic

#writersclub

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?