Pulang sekolah, Ana langsung menyusul Syifa di UKS tak lupa ia juga membawa ransel Syifa yang ditinggalkan di kelas.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar Syifa?” Gadis di depannya hanya mengangguk lemas, jika diperhatikan lebih seksama wajahnya kini tampak pucat. Warna kulitnya yang sudah putih kini semakin putih bagai kapas. Ana merasa khawatir padanya, selama ini ia belum pernah mendengar Syifa sakit apalagi separah ini.
Ana mulai duduk di atas kasur bersama Syifa,”Kamu sakit apa Syifa?....Astagfirullah tangan kamu kenapa dingin sekali?” Ia segera mengeluarkan sebotol kayu putih dari dalam ranselnya, dan mengoleskan sedikit demi sedikit ke tangan Syifa yang dingin. Banyak pertanyaan di benaknya, tapi ia berusaha keras agar tak memuntahkan segalanya. Syifa masih dalam keadaan lemah, jika ia memaksakan kehendak entah apa yang akan terjadi.
“Assalamu’alaikum…” Ketukan dan suara lembut seorang wanita paruh baya terdengar dari luar pintu. Ana langsung bangkit, dan berjalan menuju pintu UKS yang berada di pojok ruangan.
“Wa’alaikumsalam,…” jawab Ana, ia mempersilahkan Ibu itu masuk. “Bagaimana keadaanmu Nak?”
Tanya ibu itu, Syifa terlihat memaksakan diri untuk tersenyum. Kemudian, seorang laki-laki bertubuh jangkung mengangkat badan kecil Syifa dan menempatkannya di kursi roda yang telah di sediakan. Tak lupa ia juga menyelimuti Syifa, kemudian membawanya keluar UKS sebelum pergi Syifa melihat Ana dan berkedip padanya.
“Kamu pasti Ana kan? perkenalkan saya Ibu Rina Ibunda Syifa. Ibu sangat berterima kasih, karena kamu sudah mau berteman dengan Syifa. Semenjak mengenal kamu dia jadi semangat lagi, sering tertawa dan bahkan banyak mengobrol.”
Ana hanya diam dan sesekali tersenyum mendengar penyataan Ibu Rina, ia sebenarnya tidak mengerti maksud dari pernyataan beliau. Mengapa harus berterima kasih, karena ia juga merasa seperti teman-teman yang lainnya. Tak ada yang special.
“Baiklah, ibu pergi dulu ya sayang. Do’akan semoga Syifa cepat pulih kembali. Assalamu’alaikum.” Pamit Ibu Rina padanya,
“Pasti Bu, aku pasti mendo’akannya. Wa’alaikumsalam.”
Mobil pun melaju meninggalkan Ana dengan seribu pertanyaan di benaknya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ana mendapat titipan surat pemberitahuan sakit dari Ibu Rina. Pikirannya diliputi rasa cemas dan khawatir, ia masih belum bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dimilikinya.”
***
“Ana, kamu tahu gak Asyifa sakit apa?” Fitria dan teman-teman sekelas lain biasanya memanggil Syifa dengan nama aslinya Asyifa.
Ana menggeleng, “Tidak, aku tidak tahu apa-apa tentang penyakit yang di derita Syifa.”
“Kira-kira kenapa ya, aku penasaran banget. Soalnya, Syifa kan biasanya gak kayak gitu.” Ujar Fitria ia mondar-mandir di depan Ana, sebagai ketua kelas ia juga merasa masalah Syifa itu begitu penting.
“Wallahu’alam Fit, semoga saja hanya sakit biasa. Kita do’akan saja, supaya Syifa sehat kembali. Amiin.”
Beberapa saat kemudian, bel masuk berbunyi para siswa pun segera duduk di bangku masing-masing. Pelajaran pun di mulai.
Pada saat jam istirahat, Fitria menghampiri Ana yang sedang bersiap-siap menuju mesjid untuk melaksanakan shalat dhuha seperti biasa. Hanya saja, bedanya kini ia hanya sendirian melaksanakan shalat yang penuh berkah ini.
“Ana tunggu.”
“Ya, ada apa Fit?”
“Aku tadi hampir aja lupa, kemarin saat Syifa pingsan botol ini jatuh.” Ana memandangi botol putih yang di berikan Syifa, masalahnya botol ini terasa asing baginya ia tak pernah melihatnya. “Kalau kamu jenguk dia tolong kasih ya, aku pikir itu penting buat dia. Jangan lupa sampaikan salamku buat dia Oke?” Ana mengangguk dan menyimpan botol putih itu di tasnya, tapi ada sesuatu yang ia ingat sebelum Syifa pingsan.
Saat itu Syifa tampak panic dan gelisah, ia mengobrak-abrik kolong bangku. Semua isi tas ia keluarkan, dari buku hingga kalkulator. Saku baju dan rok ia periksa hingga bawah kursi. Ana yang melihatnya tampak kebingungan,
”Kamu sedang mencari apa Syifa, mau aku bantu?”
Syifa tak sempat mendengarkan pertanyaan Ana ia terus mengobrak-abrik kolong bangku dan menggoyang-goyangkan isi tasnya. Sebenarnya Ana ingin membantu, tapi ia bingung apa yang harus dicarinya. Kegiatan it uterus berulang sampai bel masuk istirahat berbunyi dan Pak Anto pun masuk.
Apa mungkin botol itu yang dicari Syifa, jika benar. Mungkin hilangnya ini penyebeb Syifa pingsan, pertanyaannya botol ini berisi obat apa? Ia tak ingin memikirkannya lagi dan langsung pergi menuju mesjid.
Ddrtt…drtt…drtt…
Ponsel di saku roknya terasa bergetar, ia segera merogoh ke dalam saku dan melihat siapa yang mengirimkannya. Ternyata dari Bu Rina,
‘Ana, kamu melihat botol putih Syifa?’
‘Iya Bu, saya lihat. Malah botolnya ada di saya sekarang.’
‘Nanti sore kamu jadi ke sini kan? Di usahakan ya,’
‘Insya Allah Bu, memangnya ada apa?’
‘Tidak apa-apa, pokoknya hadir ya sayang ini penting. Dan bawa botolnya.’
‘Baik Bu.’
Lagi-lagi percakapan terakhir itu semakin membuat Ana penasaran, pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah tenggelam kini naik lagi ke permukaan. Ia merasa kepalanya sakit karena terlalu banyak memendam banyak pertanyaan yang semakin bertambah banyak.
Ketika pelajaran sedang berlangsung, di luar seseorang mengetuk pintu kelas. Ibu Yumi, segera membukakan pintu dan terlihat ada seseorang yang memberikannya kertas.
“ANA LESTARI, kamu disuruh pulang. Orang tua Syifa sudah menunggu.”
Suasana kelas berubah menjadi ricuh, anak-anak perempuan saling bertanya dan melihat kea rah Ana. Dia yang menjadi pusat perhatian, hanya diam sambil berjalan meninggalkan ruang kelas tanpa bisa memberikan penjelasan apapun.
Sesampainya di dalam mobil, “Ibu mohon maaf sekali, ibu bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan Syifa?” Ia sekarang benar-benar kesal karena tidak mendapat penjelasan apapun atas semua ini. Tapi, ketika melihat kea rah kaca spion Ana menyadari mata Ibu Rina kini memiliki lingkaran hitam dan tampak merah, seperti tak tidur semalaman. Kini hatinya merasa bersalah, karena sudah terlalu menuntut Ibu Rina tanpa mengetahui keadaannya.
“Maaf bu, maafkan saya. Saya khilaf, hati ini seperti sudah tertutupi amarah.”
Ibu Rina hanya memandangnya lembut, ia seperti memaksakan untuk tersenyum. Badannya terasa lemas dan tak bertenaga, untungnya ada Pak Supir yang mengendari mobil putih ini.
“Tidak apa-apa… Ana, sudah sepantasnya kamu marah pada Ibu dan Syifa karena sudah membuatmu kebingungan.” Ana memilih diam dan menunggu apa yang akan di ucapkan Ibu Rina, kelihatannya ini bukan berita yang baik mengingat kondisi Ibu Rina yang seperti ini.
“Baiklah ibu ceritakan, sebenarnya Syifa sudah tak mempunyai Ayah sejak kecil. Beliau sudah meninggal sejak Syifa sedang dalam kandungan, karena penyakit jantung. Setiap hari ia selalu merengek ketika pulang sekolah ataupun pergi berwisata karena melihat teman-temannya sering bermain bersama Ayah mereka. Ujian itu tak berhenti sampai di sana…,” Ibu Rina berhenti sejenak, ia mencoba menarik nafas kemudian mengeluarkannya kembali.
“Ketika usianya menginjak 10 tahun, dia di vonis mengidap penyakit jantung. Teman-teman di kampung dan sekolah menjauhinya karena ia penyakitan, sejak saat itu ia selalu bermain sendiri tanpa ada yang mau menemani. Di rumah pun kami jarang mengobrol, karena Syifa lebih banyak diam daripada berbicara. Dan lebih banyak menyendiri di dalam kamar, ketimbang menemani ibu. Semua itu berlangsung hingga ia masuk SMA…,”
“Sejak bertemu dengan kamu ia jadi lebih ceria, sering tertawa dan mengobrol dengan Ibu. Bahkan kebiasaannya menyendiri di kamar pun sudah hilang—“
“Tapi, Bu kenapa Syifa tidak mau menceritakan penyakitnya pada saya?”
“Dia takut Ana, dia takut kamu meninggalkannya seperti teman-teman ia sebelumnya. Ia takut tak bisa merasakan kebahagian memiliki teman di sisa umurnya yang hanya sedikit.”
Ana tidak menyangka hidup yang dijalani Syifa begitu berat, ia benar-benar tidak sadar dibalik senyuman sahabatnya ada beban berat yang mesti di pikulnya hanya sendiri.
“Itulah mengapa Ibu menjemputmu dadakan seperti ini, jantung Syifa harus segera di operasi jika tidak ini akan semakin menyiksa dirinya. Sebelum dioperasi Syifa ingin bertemu sama kamu dulu, ia takut jika operasinya tidak lancar ia tak bisa berterima kasih padamu.” Rasa sakit semakin merebak di hati Ana, ia merasa perasaannya semakin di remas-remas. Luka semakin menyayat hatinya yang masih berlebam.
Sesampainya di rumah sakit Ana segera diantar oleh Ibu Rina menuju ruang rawat Syifa, sebelum masuk ia di perintahkan dokter agar tidak berlama-lama karena khawatir keadaan Syifa akan memburuk. Tarik nafas-buang, tarik nafas-buang pikir Ana. Ia pun masuk dan mendapati Syifa tengah duduk menghadap pintu dan tersenyum manis padanya, tak ada wajah pucat seperti kemarin.
“Assalamu’alaikum ukhti, bagaimana kabarmu?”
“Wa’alaikumsalam, seperti yang kau lihat ukhti.” Perlahan Ana mencoba mendekat ke kasur Syifa.
“Ini benda yang kamu cari kan?” Syifa tampak tertegun ketika melihat botol putih itu di genggaman Ana.
“Kamu… kamu tahu ini botol apa?”
“Iya aku tahu, Ibumu sudah menceritakannya padaku.”
“Kamu tahu… dan kamu tidak menjauhi aku…?”
“Sssst, jangan pernah berfikir aku akan menjauhi kamu karna kamu sakit. Itu salah besar ukhti, aku berteman dengan kamu bukan karna kesehatanmu melainkan semata-mata karna Allah SWT.” Mata Syifa mulai berkaca-kaca, ia tak bisa lagi mengatakan apapun tentang ini. Sungguh, tak ada keindahan daripada keindahan yang diberikan oleh-Nya.
“Ana, kamu ingat lagu yang pernah kita pentasin dulu? Pasti ingat, mau nyanyiin?”
“Boleh,
Sebiru hari ini
Birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hari kita bersama disini
Seindah hari ini
Indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita walau kita kan terpisah
Bukankah hati kita telah lama menyatu dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini.
[Sebiru Hari Ini – Adcoustic]
“Suara kalian ternyata bagus, Syifa bunda baru tahu ternyata suara kamu sebagus ini.” Tiba-tiba saja suara tepuk tangan menghentikan nyanyian mereka
“Makasih Bunda.” Jawab Syifa tampak bersipu-sipu.
“Nah dek Syifa, sekarang waktunya kamu operasi.” Ujar dokter perempuan itu lembut.
“Dok, izinkan saya untuk berbicara sama bunda dan Ana.” Ibu Rina dan Ana tampak saling pandang, mereka sudah menduga Syifa akan melakukan ini.
“Iya sayang, tapi jangan terlalu lama ya.” Bu Dokter pun keluar.
“Bunda, makasih ya atas kasih sayang yang bunda berikan buat aku. Dan aku minta maaf, kalau selama ini aku sering nyusahin Bunda. Aku sering ninggalin Bunda sendirian, padahal kita sama-sama kesepian. Aku juga sering sekali mengabaikan nasehat bunda buat terus minum obat, aku pikir itu sama sekali gak berguna karna aku hidup sendirian bahkan umurku pun masih bisa diprediksi aku gak punya harapan sama sekali….”
“Tidak sayang, jangan bilang begitu ya. Umur kamu masih panjang kok, kamu harus tetap kuat demi Bunda. Kamu pasti gak akan tinggalin bunda kan? Cuman kamu satu-satunya yang Bunda miliki, jadi bertahan ya Nak.”
“Tapi Bun, bagaimana kalau—“
“Tidak Syifa, kamu pasti bisa bertahan. Kamu harus janji sama aku kalau kita akan duet lagi di acara pentas bulan depan. Yak an Syifa?”
“Baiklah do’akan semoga operasinya lancar ya.”
“Pasti. Aku pasti do’akan kamu.”
Operasi pun di mulai, sembari menunggu Ibu Rina dan Ana tak henti-hentinya memanjatkan do’a di mesjid terdekat. Setelah hampir satu jam, akhirnya Bu Dokter pun keluar.
“Lin, gimana keadaan anakku?”
“Rina, duduk dulu ya.”
“Gak perlu Lin, yang aku butuhkan sekarang cuman keselamatan anakku.”
“Maaf ya Rina, aku udah berusaha semaksimal mungkin buat selamatin anak kamu. Tapi, tubuh Syifa tidak menerima jantung baru sehingga nyawanya tidak selamat.”
“Innalillahi, Syifa…! Kenapa kamu ninggalin bunda Nak, kenapa?” Ibu Rina langsung menyeluruh ke lantai dan menangis di bawahnya.
“Innalillahi wa inna ilahi roji’un Syifa…..” Ana tak bisa lagi mengatakan apapun, luka terasa menyayat hatinya yang berlebam. Kehilangan sahabat tercinta seperti mencabut duri yang menancap di kulit kita, sakit sangat sakit.
***
Suasana pemakaman Syifa sangat ramai dan berlangsung lancar, teman-teman sekelas hampir semua hadir. Mereka tak menyangka Syifa akan pergi secepat ini tanpa meninggalkan apapun.
Di atas tanah merah lebam, Ana menaburkan bunga di otaknya berputar kenangan-kenangan mereka saat masih bersama. Dari sejak awal bertemu hingga pertemuan terakhir itu,
Ku pikir pertemuan itu
Bukanlah pertemuan terakhir kita
Allah tahu kamu lelah, maka
Berbaringlah dengan tenang
Di sisi-Nya yang maha agung
Tak ada lagi beban yang perlu kau emban
Bahagialah, semoga kita bisa bertemu
Di alam-Nya yang lebih kekal
Catatan Editor:
Awal yang cukup mengagetkan pembaca. Ada baiknya penulis memulai cerpen dengan memberikan gambaran suasana atau tokoh utama dari cerita. Kisah yang diangkat dalam cerpen ini sayangnya kurang menarik dan jalan ceritanya terlalu bertele-tele. Sangat disarankan untuk banyak membaca cerpen populer lainnya sebagai referensi penulisan.
Topic
#writersclub


