Karya Anda
Gaun Putih

28 Jul 2017

Aku tersenyum puas melihat gaun yang sudah selesai dijahit itu. Gaun panjang berwarna putih dengan bahan satin berpadu chiffon dan sedklit taburan payet di tepi gaun. Sederhana, namun sesuai dengan keinginanku.
            Besok di hari ulang tahunku yang ke-30 tahun, aku berhasil mewujudkan mimpiku untuk tampil layaknya seorang putri raja. Tetapi, bukan aku yang akan menggelar pesta meriah. Bukan aku yang tampil sebagai putri dengan pangeran pendampingku.

Gaun itu aku persiapkan untuk pesta pernikahan Rossa sahabatku. Jauh-jauh hari lalu, Rossa memintaku menjadi bridesmaid sekaligus pembawa cincin pernikahan di hari pernikahannya.

Aku dan Rossa meminta Bowo, sahabat kami yang berprofesi desainer untuk merancang gaun bagi para bridesmaid. Selain aku, Rossa juga meminta sahabat-sahabatnya untuk menjadi pendampingnya.

Kami para bridesmaid mengenakan gaun dengan warna yang sama namun model yang berbeda.
Rossa akan menggelar pesta  yang sangat meriah di salah satu convention hall di Solo. Seluruh area akan dihiasi dengan tema berwarna putih dengan bunga-bunga berwarna putih.

Rossa akan mengenakan gaun pengantin  putih dengan taburan kristal swarosvki, sementara pengantin pria mengenakan setelan jas berwarna putih dan silver.
Aku, dan bridesmaid lainnya akan mendampinginya selama pemberkatan di gereja hingga usai pesta. Selain mengenakan gaun panjang, kami juga akan membawa bunga-bunga.

“Lihat, cantik sekali kan? Gaun ini sangat pas untukmu,” ujar Bowo dengan gaya melambai.

Dia mengamatiku diri ujung rambut hingga ujung kakiku yang tertutup gaun. “Cantik”, lanjutnya.
Aku tersenyum mendengar pujiannya. “Ayo, dipakai sepatunya sambil berlatih berjalan. Masih waktu satu bulan supaya kamu tidak terjatuh,” katanya lagi.
Aku tertawa mendengar kata-katanya. Kali ini aku bukan menertawai gaya bicaranya yang melenggok-lenggok, namun aku menertawai diriku sendiri.

Aku, Caroline Puspita Dewi, seorang wanita dengan nama feminine, namun berpenampilan tomboi.
Sehari-hari aku lebih senang mengenakan celana jeans, kaos, sepatu sneakers, dan tas ransel yang cukup membawa banyak barang. Sebagai seorang travel writer, penampilan seperti ini memang pas denganku.  
 
 Aku mematut diriku di depan cermin, mengangumi diriku dalam balutan gaun dan sepatu hak tinggi.
Meskipun tanpa make up aku kagum dengan diriku yang terlihat berbeda dari biasanya. Lama mematut diri, pikiranku melayang ke masa laluku.
Sewaktu kecil, Mama menghadiahiku setumpuk buku dongeng, Cinderela, Putri Salju, dan Beauty and The Beast.

Dongeng-dongeng itu membawaku pada khayalan bahwa bila aku tampil cantik dan berkelakukan baik pasti ada pangeran tampan yang akan datang meminangku.
Sejak kecil aku sangat ingin tampil dalam balutan gaun. Mama pernah berjanji akan membuatkan gaun berwarna putih yang akan aku kenakan di acara pernikahan Tante, adik sepupu Mama.

Seandainya Papa tidak sakit keras, aku pasti akan merasakan kesempatan tampil bak putri dongeng di hari pernikahan Tante. Kami batal ke acara pernikahan Tante karena Papa opname setelah kadar gula darahnya mencapai 600 mg/dl.
Sejak saat itu, tampil layaknya seorang putri hanya ada dalam impianku. Meskipun banyak saudara-saudara dan sahabat-sahabatku yang menikah, namun tidak ada yang memintaku untuk menjadi bridesmaid atau penerima tamu.

Beranjak remaja, keinginan untuk tampil seperti seorang putri semakin menjadi. Aku memang tidak seperti teman-temanku, remaja putri pada umumnya.
Mereka bisa tampil cantik dengan gaun saat menghadiri pernikahan kerabatnya. Sementara aku cukup dengan balutan rok berwarna hitam dan kemeja sederhana.
Sejak Papa sakit, keuangan keluarga habis untuk biaya berobat Papa. Otomatis, aku tidak bisa merasakan kehidupan bahagia anak-anak dan remaja.

Aku harus memakai baju seadanya dan baju lungsuran dari beberapa saudaraku yang mampu. Mama selalu menasehatiku untuk melihat ke bawah bukan ke atas.
Beberapa kali aku meminta dibelikan baju baru walau hanya satu kali dalam satu tahun. Mama memenuhi keinginanku dengan membeli baju baru di Hari Natal.

Namun, tentu saja baju dengan harga yang cukup murah karena Mama tidak mampu membelikanku baju mahal.
Aku iri melihat teman-temanku yang bisa tampil cantik dengan barang-barang mahal. Aku bersekolah di sekolah swasta dimana sebagian besar siswa berasal dari keluarga mampu.

Aku tahu, Mama menyekolahkanku di sekolah itu bukan karena gengsi namun agar aku tidak salah pergaulan, tetap disiplin, dan aku tetap berpegang pada imanku. Walaupun Mama harus bekerja keras demi membiayai sekolahku.
Mama salah menyekolahkanku di sekolah ini, pikirku saat itu. Mama ingin aku agar aku tetap beriman, tetapi di sekolah itu aku justru terlihat sebagai siswi paling culun dan tidak ada siswa pria yang mau dekat denganku.

Mungkin karena penampilanku yang culun, teman-teman wanita menghampiriku.
Mereka mengajakku jalan-jalan ke mall, masuk dari satu butik ke butik lain dan menawariku berbagai model busana.

            Aku menolak karena aku sadar Mama tidak akan mampu memberiku uang untuk membeli baju semahal itu. Teman-teman terus mendorongku.
Mereka mengatakan bahwa selama ini aku culun dengan penampilanku yang sama setiap harinya.
Kata-kata mereka membuatku sedih dan membuatku menjauh dari mereka karena tidak ingin dihina terus.

Aku pernah marah kepada Mama dan Papa yang tidak mampu membelikanku baju bagus untukku. Aku juga marah karena mereka tidak pernah mengajakku jalan-jalan sehingga selain culun aku juga tidak tahu apa-apa.

Aku tidak tahu di permainan di mall, padahal aku tinggal di kota besar yang memiliki beberapa mall. Aku tidak tahu makanan yang sedang trend sehingga cap ndeso melekat di diriku.

Aku menyeka air mataku. Ingatan masa laluku itu cukup menyakitkan hatiku. Walaupun begitu aku bersyukur, karena pengalaman pahit itu mampu menjadikanku wanita yang mandiri.

Pengalamanku berkelana dari satu tempat ke tempat lain membuka mataku bahwa aku patut bersyukur dengan kehidupanku saat ini.
Aku masih memiliki pekerjaan, aku masih bisa makan, aku masih menikmati bepergian jauh dengan pesawat, sementara  masih ada orang-orang yang kesulitan mencari makan.
 
  “ Maaf, aku tinggal lama sekali,” kata Bowo. Untunglah dia tidak melihat air mataku. “Cantik kan, kau akan tampil layaknya putri. Lalu kapan kau akan menikah?” ujarnya lagi.
“Aku tidak memikirkan itu. Lagipula, mungkin aku tidak akan pernah menikmati kesempatan menikah, “ balasku.

Bowo tersenyum sambil tubuhnya terus melenggok-lenggok.

“Ayolah, jangan pesimis. Kau masih punya kesempatan meraih masa depanmu. Kau tidak pernah tahu kapan jodohmu akan datang karena bisa saja jodohmu itu ada di hadapanmu,” katanya lagi.

Aku tersenyum. “Apa kau mau menikah denganku?”, tanyaku dengan nada manantang.
“Kau menantangku? Mungkin, kalau aku sudah jatuh cinta padamu,” jawabnya. Tangannya melambai-lambai membuatku tersenyum geli.
“Aku tidak tahu sampai kapan aku hidup,” kataku.

Bowo tidak menjawab, namun seketika raut wajahnya berubah sedih. Dia meraih tubuhku kemudian merangkulku.

“Aku ingin kau tetap hidup,” katanya dengan suara bergetar
 
Waktu berlalu begitu cepat. Seminggu ke depan aku harus memenuhi janjiku kepada Rossa untuk menjadi bridesmaid  dan membawa cincin di hari pernikahannya.
Gaun bridesmaid itu juga sudah siap, walaupun aku kini tak bisa lagi mengenakannya.
Aku berpikir sejenak. Bagaimana aku harus mengatakan ini kepada Rossa karena dia pasti menungguku.

“Rossa,” aku memberanikan diri menelponnya.

“Ine,  kamu sudah siap?” nada suaranya terdengar sangat gembira.

“Maaf  Rossa, aku tidak bisa memenuhi janji. Tapi aku janji, aku akan datang ke pernikahanmu,” kataku. Suaraku mulai tersendat. Perlahan, buliran air membasahi wajahku.

“Ine, ada apa?”

Aku menutup telepon. Aku tak sanggup menghancurkan kebahagiaan sahabatku. Berkali-kali ponselku berbunyi, namun aku tidak ingin berbicara dengan siapapun.
Tubuhku semakin kurus. Gaun putih yang dijahitkan Bowo untukku sudah kedodoran di tubuhku. Aku bukan hanya kehilangan berat badanku, namun aku sudah kehilangan bagian lain di tubuhku.

Bahkan, mungkin tak lama lagi aku akan kehilangan kesempatanku hidup di dunia ini.
Bowo menatapku dengan sedih. “Bagaimana kalau aku saja yang mengatakan kepada Rossa mengenai kondisimu?” tanya Bowo.

“Tidak. Jangan” jawabku.

Bowo tak menjawab. Dia memelukku erat. Kudengar isak tangis di balik pelukannya.
 
Aku hadir di hari pernikahan Rossa, mengenakan gaun putih itu. Aku datang bersama Bowo. Pernikahan Rossa cukup meriah meskipun tanpa kehadiranku sebagai bridesmaid.

Salah seorang sahabat Rossa menggantikanku sebagai pembawa cincin pernikahan.
Aku sengaja menemui Rossa ketika acara resepsi berakhir. “Rossa, maaf aku tidak bisa memenuhi janjiku,” kataku.
Senyum bahagia di wajah Rossa berubah menjadi raut terkejut ketika melihatku.

“Ine, ada apa denganmu?”. Rossa menghampiriku yang duduk di kursi roda.

“Maaf aku tidak pernah menceritakan hal ini padamu. Sejak Lima tahun lalu aku menderita diabetes. Kemarin, kakiku baru diamputasi, seminggu sebelum pernikahanmu.
Aku mengalami kecelakaan saat baru pulang dari Bali dan kedua kakiku terjepit bus. Karena itu aku memberi tahu mendadak,” ujarku.

Raut kesedihan semakin terlihat di wajah sahabatku. Air mata mulai mengalir di wajahnya.

“Rossa, aku tidak ingin merusak hari bahagiamu,” kataku tersedu.

 “Kau tahu, kau sangat cantik.  Ine, kamu cantik sekali. Ayo kita berfoto,” ajaknya.

“Kamu juga harus menikmati kue pengantin. Aku berharap kamu segera menemukan pendamping hidupmu,”

“Rossa, aku tidak tahu apakah aku masih bisa mendapatkan kesempatan sepertimu. Tapi aku sangat bahagia hari ini. Aku bisa menyaksikan kamu menikah di hari ulang tahunku,” jawabku.

“Ine, jangan pesimis. Percayalah, semua penyakit pasti ada obatnya. Aku percaya kamu masih bisa menikmati kesempatan itu,”
Aku mengangguk. “Tolong, bantu aku dalam doa,” pintaku.

Kami pun berfoto-foto. Mungkin inilah foto tercantik dalam hidupku. Selama ini aku hanya memasang foto-foto petualanganku dengan penampilanku yang biasanya.
Saat sakit pun aku masih bisa berpetualang, walau beberapa kali tubuhku terasa sangat lelah.
 
Dua minggu setelah pernikahan Rossa, aku membuka akun social media. Rossa bilang, dia baru sempat memasang foto-fotoku.
Aku melihat diriku sangat cantik, walaupun aku duduk di kursi roda. Rasanya aku belum pernah melihat wajahku secantik ini.

Aku juga melihat fotoku yang sangat cantik ketika aku tidur dalam balutan gaun putih yang aku kenakan ketika aku datang ke pernikahan Rossa.
Cantik, seperti putri tidur yang menanti kedatangan pangeran tampan untuk menciumnya.
Tanganku bergerak. Rasanya aku ingin menghapus semua foto itu. Menghapus semua postingan di dinding social media. Aku tidak ingin membaca postingan menyedihkan itu.

            “Sahabatku, aku masih ingat bagaimana dulu kamu iri melihatku mengenakan gaun putih.
Aku tahu kamu memang sangat ingin tampil layaknya seorang putri, walaupun kesempatan itu belum pernah kamu dapatkan.
            Karena itu, aku memintamu menjadi bridesmaid di hari pernikahanku. Mungkin bagimu terlambat untuk mengenakan gaun ini karena usia yang tidak lagi  muda.
            Ine, aku juga ingat bagaimana kamu berbagi pengalaman ketika kamu berpetualang dari satu daerah ke daerah lain. Kamu sudah banyak memberiku pelajaran hidup melalui cerita-ceritamu itu.
            Aku senang kamu telah mewujudkan cita-citamu menjadi seorang putri, walaupun bukan putri yang sempurna.
Walaupun belum semua cita-citamu terwujud, tapi aku percaya kamu sudah bahagia di sana.
            Selamat Jalan Ine. Beristirahatlah dalam damai.”
 
Catatan Editor
Detail demi detail penggambaran dalam cerpen ini cukup menarik, sehingga pembaca dapat terbawa ke dalam alur cerita yang juga memiliki akhir yang unik. Namun penulis perlu berhati-hati dalam hal kesalahan pengetikan huruf dan penggunaan huruf besar dan kecil. Pengulangan kata yang sama juga sebaiknya lebih diperhatikan dan penulis bisa mempelajari thesaurus untuk mengetahui kata pengganti yang tepat agar tidak terkesan monoton.
 


Topic

#writersclub

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?