Semakin lama semakin kusadari aku tetaplah seorang manusia yang kerap berambisi untuk mendapatkan sesuatu kerap bermimipi menginginkan sesuatu pun kerap memaksakan sesuatu untuk menjadi nyata sekalipun terkadang yang kutemui adalah sebuah penolakan .
Suara jangkrik mulai kian nyaring beradu dengan suara burung malam menandakan malam telah mulai larut, aku menoleh melihat jam weker sudah hampir jam 12 malam tapi mataku benar-benar tak bisa kupejamkan. Aku mulai teringat Rahma ingin rasanya aku bertemu dengannya calon istriku yang malang tunanganku yang tersia-sia oleh keluargaku yang terlalu banyak berpikir tentang siapa pendamping yang pantas untukku , terlalu banyak kriteria yang mengikat hingga aku hampir tak bisa bernafas.
Ayahku.. ayah yang sedari kecil amat kuhormati seorang ningrat katanya atau darah biru begitu kata orang. Dulu aku sangat bangga dengan keadaan status sosial keluarga kami semua orang mengelu-elukan keluarga kami amat menghormati keluarga kami terutama tehadap ayahku aku diperlakukan layaknya seorang tuan muda apapun kemauanku adalah titah dan harus dilaksanakan dan dipenuhi tak pernah ada kata “tidak “dari ayahku.
Tapi baru sekali ini kata “tidak” itu bergema ditelingaku setelah 25 tahun aku tak pernah mendengarnya. Dan kata itu kudengar ketika aku nekat sengaja langsung bertunangan dengan Rahma walau yang hadir waktu itu hanya keluarganya dan teman-temanku dan aku menginginkan ayah menyetujuinya jadi semua saran dari Mbak Ririn kakakku dan Mas Galih kakak iparku tak pernah kugubris. Dan ketika penolakan itu begitu nyaring terdengar oleh telinga Rahma ia beringsut meninggalkan aku.
Dan sejak saat itu dia benar-benar pergi dariku tak pernah ia kulihat aktif berorganisasi di LSM tempat kami bertemu , tak pernah kulihat pula ia duduk berlama-lama di café tempat biasa kami berkumpul dengan teman-teman ia seperti hilang diltelan bumi.
Aku seperti ayam yang kehilangan induknya berbulan-bulan akau mencarinya namun tak ada yang memberitahuku keberadaan dia dan keluarganya. Awalnya aku memang mencurigai romo mungkin beliau yang meyuruh Rahma dan keluarganya meninggalkan kota ini tapi kecurigaanku gugur dengan sendirinya ketika Ibu, Mbak Ririn dan Mas Galih mengatakan kalau Rahma memang sengaja meninggalkan kota ini dan romo tak tahu
Hari ini aku kembali disibukkan dengan rutinitas kerjaku di kantor. Aku menjabat sebagi Vice Manager di sebuah Hotel Bintang 5 yang cukup terkenal di sebuah kota besar yang tentu saja kupilih jauh dari seluruh keluarga besarku. Hanya sesekali aku berkirim pesan via email atau bertelepon dengan Ibu dan kakakku selebihnya aku sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor yang sebenarnya bisa kulakukan tanpa harus lembur tapi sengaja kulemburkan.
Dunia LSM yang mempertemukan kami memang telah kutinggalkan semenjak Rahma pergi dariku 5 tahun silam aku hanya tidak ingin tersiksa dengan bayang-bayangnya setiap masuk ke LSM.
Adzan subuh bahkan belum berkumandang ketika nyaring suara ponselku membangunkanku dari tidur panjangku. Kulirik sebentar ke arah ponselku yang kubiarkan teronggok di atas meja. Disana tertulis jelas bahwa Ibu yang menelepon, aku beringsut dari tempat tidurku dan meraih ponselku dengan dihinggapi pertanyaan yang berkecamuk di dadaku aku mendekatkan ponselku ke telingga.
“Ya, bu “ jawabku singkat
Dari ujung telepon suara tegas ibu memintaku untuk segera pulang, begitu banyak lagi pertanyaan bergayut kenapa ibu tidak menjelaskan secara rinci alasan kenapa aku harus pulang. Apakah Romoku itu tidak lelah mencoba mengenalkanku dengan begitu banyak wanita “ningrat” yang sesuai menurut pandangannya. Kuakui demi menyenangkan beliau aku memang menjalin hubungan dengan wanita-wanita yang dikenalkan oleh kedua orang tuaku tapi memang hanya berisar sekitar 1 bulan selanjutnya aku dengan segera akan menjauh dari mereka dengan berbagai alasan yang paling sering kujadikan alasan adalah pekerjaan.
Aku sengaja meminta atasanku untuk mengugaskanku ke luar kota, luar pulau atau bahakan ke luar negeri untuk menghindar dari mereka. Dan selama ini strategi itu berhasil aku lakukan.
Pukul 12.00 siang akau telah sampai di rumah. Dari dalam rumah kulihat Mak Yati tergopoh-gopoh menyambutku badannya yang mulai menua dan jalannya yang mulai melambat ditambah kain panjang yang ia kenakan membuat bagaimanapun ia berlari tetap saja kelihatan sangat lambat. Ia memelukku erat menepuk pundakku beberapa kali “kangen” begitu kata yang terucap dari dalam mulutnya. Aku tersinyum simpul dan memeluknya erat “orang kepercayaan” ibu yang mengasuhku dan Mbk Ririn itu kelihatan sudah sangat sepuh dengan semua uban di rambutnya dan keriput di seluruh wajahnya.
“Ibu, dan Den Galih ada di rumah sakit, romo sakit , sudah beberapa hari ini “
Deg, romo sakit mungkin ini alasan ibu menyuruhku segera kembali. Aku bergegas masuk ke kamar Mbk Ririn dan kulihat kakakku itu sedang sibuk menina bobokan Arya keponakanku tersayang yang hanya biasa kulihat lewat Skype atau Instagram.
“Mbak “ sapaku sambil menyentuh lengannya takut membangunkan Arya yang sudah mulai tertidur
“Rama” jerit mbak Ririn tertahan ia kemudian memburu ke pelukanku, air mata bercucuran di matanya dan mbakyuku itu bahkan tidak dapat berkata apa-apa hanya bisa menangis sesenggukan di pelukanku.
“Maaf ya mbak “ bisikku lirih
Perlahan kakakku itu mulai menguasai dirinya dilepaskannya pelukannya dariku dan mulai membuka pembicaraan. Bagaimana romo bisa masuk rumah sakit, bagaimana keadaaannya kala itu dan terakhir adalah permintaannya untuk memaafkan romo yang kemudian kujawab dengan anggukan kepala
“Aku yang salah mbak sebagai anak aku selayaknya tidak bersikap seperti ini pada romo”
“Sudahlah, nanti sore kalau kamu sudah istirahat kita ke sana ya, pasti Ibu senang sekali kamu sudah pulang”
Aku mengangguk perlahan dan berjalan keluar dari kamar kakakku. Mbk Ririn kembali
sibuk dengan Arya rupanya bocah kecil itu merasa tidurnya terusik karena kedatanganku
Sore hari pukul 15.00 aku , Mbak Ririn dan Arya menjenguk romo di rumah sakit. Sesampai di kamar romo aku melihat wajah sendu ibu memperhatikan dengan seksama nafas romo yang mulai beraturan. Kusapa lembut ibu dan berikutnya seperti yang biasa terjadi tangis dan pelukan erat ibu yang kuterima dengan senang hati. Selama kurang lebih lima belas menit beliau memelukku barulah berkata agar aku mau menemui dokter yang merawat romo. Segera kulangkahkan kaki beranjak ke ruang administrasi menemui dokter Ayu yang ibu maksudkan.
Ketukan dua kali dan sebuah salam di depan ruang dokter Ayu bersambut dengan sebuah suara ramah dari dalam ruangan mempersilahkan aku masuk. Dan hal yang terjadi kemudian adalah aku hanya dapat berdiri mematung melihat Dokter Ayu yang ternyata adalah Rahma wanita dari masa laluku yang tak pernah mungkin bisa aku lupakan bahkan hingga saat ini.
Uluran tangan darinya bahkan lama baru kusambut dan aku baru tersadar ketika ia memulai percakapan tentang kesehatan romo.
Entah apa yang dia bicarakan yang bisa kutangkap dari semua penjelasan medisnya hanyalah romo dirawat akibat hipertensi tinggi dengan gejala stroke namun kini kondisinya sudah membaik. Selebihnya aku tak ingat karena pikiranku penuh dengan banyak pertanyaan bagaimana mungkin Rahma yang bahkan sama sekali tidak mengenal dunia kedokteran bisa menjadi dokter dan kini merawat Romo.
Begitu dokter Ayu mengakhiri semua penjelasannya yang memang tak bisa dengan gamblang kuterima aku buru-buru pamit dan menuju kamar perawatan karena tiba-tiba nama itu muncul di benakku“ Ibu”.
“ Bu, maaf apa bisa kita bicara sebentar ?”
Ibu tak menjawab hanya seulas senyum yang tak mampu kupahami dengan baik perlahan dia menepuk tanganku dan bertanya.
‘ Sudah bertemu dokter Ayu , Le ? ‘
“ Sudah bu, dan aku ……”
Ibu menarik lenganku dan menarikku keluar kamar dengan beralasan mengajakku ke kantin untuk makan ibu menggandeng lenganku dan membiarkan Mbak Ririn yag bergantian menjaga romo. Sepanjang jalan menuju kantin ibu tidak berhenti mengelus punggung tanganku tanpa bicara hanya seulas senyum yang terus tersungging di bibirnya. Setelah memesan makanan kami duduk berhadapan dan ibu mulai membuka pembicaraan.
“Kamu sudah bertemu dokter Ayu, sudah bicara banyak dengannnya ?”
Aku menjawab pertanyaan Ibu dengan gelengan kepala dan Ibu kembali tersenyum. Tangannya kembali terulur menyentuh punggung tanganku dan mengenggam erat penuh kasih.
“ Le. Ibu minta maaf mungkin karena perbuatan Ibu kamu terluka
“ Maksud Ibu ?”
Dan mengalirlah cerita ibu 5 Tahun yang lalu ketika itu Ibu yang telah mengetahui aku berhubungan dengan Rahma mulai mencari tahu latar belakang keluarga, pendidikan dan segala hal tentang “calon menantunya” itu. Dan ketika laporan yang disampaikan orang kepercayaan Ibu itu telah tercetak rapi tentang asal usul Rahma dan bagaimana sebenarnya hubunganku dengannya dengan sigap “melindungi” Rahma.
Sepertinya Ibu telah tahu bahwa mungkin aku akan berbuat nekat untuk mendapatkan Rahma hingga “pertunangan” itu terjadi. Dan ketika keberanianku itu kuutarakan pada romo hebatnya Ibu sudah mendapatkan semua bukti yang ada tentang hubungan kami berdua dan menyimpannya rapat-rapat bahkan Ibu juga yang telah dengan sengaja membakar semua foto Rahma yang kusimpan rapat di almari pakaianku, mengosongkan semua benda yang berhubungan dia dari kamarku, meminta teman-temanku di LSM dan teman-temanku untuk tidak pernah membicarakan Rahma dan bahkan Ibu juga yang membayar orang-orang kepercayaan romo untuk mencari Rahma sehingga romoku tak pernah tahu siapa itu Rahma. Ibu juga yang memberikan penawaran pada Rahma dan keluarganya ketika itu.
“Nduk, Cah ayu Ibu tahu kalian berdua saling suka. Tapi nduk Ibu bisa saja menyetujui hubungan kalian tapi tidak dengan romonya. Bagi romonya bibit, bobot dan bebet adalah segalanya. “
“ Maaf bu, tapi mas Rama sama sekali tidak mau mendengarkan saya untuk membatalkan pertunangan itu .”
“Tapi, ibu akan membuat romonya Rama menyetujui hubungan kalian berdua dan caranya adalah tinggalkan kota ini bersama keluargamu dan hiduplah dengan nama baru lanjutkan pendidikanmu disekolah kedokteran dengan mengambil spesialisasi penyakit dalam “
Rahma mengangguk perlahan mau bagaimana lagi segala hal sudah disiapkan dan tinggal menjalani dan akhirnya kata ya itu terdengar dari mulut Rahma.
Dan ketika semua ternyata itu berhasil aku benar-tidak pernah menyangka ibuku yang kutahu begitu polos dengan busana jawa yang tak pernah lupa ia kenakan lengkap dengan sanggul tekuknya mampu berbuat seperti itu. Lalu alasan dari semua peristiwa itu terjadi adalah satu hal demi anak laki-lakinya yang tak pernah pulang dan hanya sesekali menjenguknya.
Dan alasan ibu kenapa memilih fakultas kedokteran adalah karena setiap orang ketika tua akan sakit begitu juga dengan romo, itu kenapa ibu memilih kedokteran. Dan mengenai biaya ternyata Rahma itu punya otak yang pintar Ibu hanya membiayai biaya masuk saja selebihnya Rahma mendapatkan beasiswa.
“Ibu sudah tahu alasan romomu jika ia menolaknya sebagai menantunya karena dia bukan darah biru, anak seorang tukang kayu tapi ibu tahu kalau kamu sangat menyukainya. Ibu mulai mencari tahu siapa dia sebelum romomu bertindak. Dan setelah ibu tahu dia berbicara banyak dengannya dia mau menerima semua penawaran ibu. Dan calon besan ibu sekarang bukan lagi tukang kayu tapi pengusaha kayu. Mereka benar-benar mau bekerja keras dan mengembangkan usaha itu menjadi besar . Tapi maafkan ibu ya Le, karena kamu menjadi seperti ini”
Romo maafkan anakmu karena ini semua adalah dusta terindah yang mungkin selama hidup tak akan pernah romo ketahui. Romo hanya akan tahu dokter Ayu yang begitu romo sanjung setinggi langit adalah anak pengusaha kayu dari Kalimantan yang menjadi malaikat romo. Ayu bukanlah Rahma lagi tunanganku yang tak direstui.
Romo tahu, Ibu yang telah mengubahnya dari seseorang yang tak mau romo lihat dan ingat seumur hidup namun kini menjadi menantu kesayangan romo. Maaf romo tapi dusta ini tak akan pernah aku buka karena ini adalah janjiku dan dokter Ayu kepada almarhum Ibu yang hanya bisa menemani kami berdua ketika anak pertamaku lahir.
Catatan Editor:
Alurnya sudah lumayan rapi, namun ceritanya tidak ada faktor kebaruan. Konsep cerpen dengan bentuk kronologi belum terlalu berhasil diterapkan penulis, karena ketika dibaca kembali, cerpen terasa sangat membosankan. Penulis juga masih perlu mempelajari bagaimana mempermainkan perasaan pembaca dengan detail dan penggambaran intonasi.
Topic
#writersclub


