Mengubur mimpi di usia yang terlalu dini rasanya seperti sebuah hukuman. Terkadang membuatku bertanya untuk apa seorang tersebut harus dilahirkan jika tidak diperbolehkan untuk mengejar keinginannya.
Jangankan untuk mengejar impiannya, untuk berdiri diatas kakinya sendiri pun seorang itu tidak dapat melakukannya.
***
Mataku tidak pernah bisa lepas ketika melihat mereka. Mereka seperti putri? Bukan, tepatnya seperti bidadari! Mereka terlihat sangat cantik dengan pakaian mereka yang berkelap-kelip seperti bintang, gerakan yang gemulai dan indah, wajah serta tubuh yang sempurna.
Mereka seperti terlahir bukan dari dunia ini, hanya keindahan yang terlihat. Mereka terlalu sempurna bagiku, terlalu sempurna.
“Ibu, aku ingin menari seperti mereka, dapatkah suatu saat nanti aku menari seperti mereka?” tanyaku seraya aku benar-benar polos.
“Tentu saja sayang, suatu saat au bisa menari seperti mereka”, Ibuku menjawab dengan senyumnya memberi harapan seolah aku anak yang terlahir sama dengan mereka, yang mampu untuk menari seindah mereka suatu saat nanti.
“Ayah, dapatkah aku seperti mereka suatu saat nanti?” tanyaku lagi kepada ayahku, aku bukannya tidak percaya diri sehingga aku menanyakan pertanyaan yang sama kepada ayahku tetapi karena aku menginginkan jawaban yang lebih jujur.
“Seperti penari-penari itu? Mungkin, jika suatu saat nanti”, jawab ayahku dengan wajah datarnya.
“Oh, bagus kalau begitu”, tanggapku.
Sesungguhnya aku paham betul jawaban ayahku. Memang benar tidak ada yang tahu adakah hal yang dapat membantuku dalam beberapa tahun kedepan namun untuk saat ini langkah apapun yang dapat kulakukan untuk seperti mereka.
Aku sudah berusia sebelas tahun, aku tahu keadaanku sepenuhnya dan aku tahu jika pertanyaan yang baru kulontarkan adalah pertanyaan kekanak-kanakan, seperti pernyataan yang dilontarkan oleh anak usia lima tahun.
***
“Nona Raina, mohon menunggu dibelakang panggung, sebentar lagi giliran anda untuk tampil.”
“Baik”, jawabku dan dengan singgapnya berjalan ke belakang panggung seperti yang diperintahkan.
Raina Schoonhoven, seperti yang tertera di namaku, aku adalah seorang keturunan Belanda. Ibuku adalah seorang pribumi, ayahku adalah seorang keturunan Belanda.
Tenang saja, aku tidak hidup di jaman penjajahan dan bukan seorang Putri Belanda. Aku hanya seorang penari kontemporer nasional di abad dua puluh satu ini.
***
“Raina, kau kembali menjadi penari yang paling ditunggu dalam pertunjukkan ini, aku sangat iri padamu!” seru Sera sambil tersenyum saat di ruang make-up membersihkan make-up sesuai pertunjukkan.
“Sera, setiap penari di tempat ini memiliki daya tarik tersendiri. Bukankah begitu boneka kayu?” tanggap Rena dengan senyuman dan tatapan tajam ke arahku.
“Ah, kau benar Rena, Raina sangat putih seperti porselen dan rambutnya yang pirang membuatnya semakin cantik. Kau benar-benar terlihat seperti Putri Belanda, apalagi ketika kita sedang membawakan tema yang berkaitan dengan eropa, sungguh memberikan kesan tersendiri”, tanggap Sera panjang lebar.
“Ya, seperti boneka kayu Putri Belanda yang sedang menari!”, tanggap Rena lagi dengan senyum menyebalkannya.
“Sera, tapi kau menari dengan sangat baik, badanmu sangat lentur kau bisa menjadi peran apapun dalam konsep tari kontemporer yang dibawakan, keahlianmu membuatmu terlihat istimewa ketika di panggung, sungguh!”, ujarku menanggapi Sera dan tidak menghiraukan perkataan Rena.
“Dan aku tidak suka ketika Rena memanggilku boneka kayu”, kataku sambil mendekat ke Sera untuk membantunya melepaskan gulungan rambut.
“Tapi, kau benar-benar cantik seperti boneka Raina. Sungguh! Aku pun sungguh memanggilmu demikian”, tanggapnya meyakinkanku dan aku hanya bisa tersenyum kepadanya.
“Ah, kau selalu berpikir positif!”
***
“Siapa namamu?”, tanya anak lelaki itu.
“Raina, Raina Schoonhoven.”
“Aku Deni Dharmawan”, ketika itu juga dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menyambutnya dan ketika itu juga kami saling kenal. Ketika itu aku sedang di taman melihat orang-orang bermain ketika jam istirahat sekolah sambil memakan bekalku.
Saat itu, aku merasa senang karena aku menemui seorang yang mengajakku berbicara. Hari itu adalah hari pertamaku sekolah dan tidak seorang mengajakku berbicara. Mungkin karena kulitku terlalu pucat, mereka menganggapku asing, atau mungkin mereka mengira aku hantu?
Tetapi aku tidak peduli tentang itu, karena sejak saat itu aku punya teman dan semakin bertambah dengan bantuannya. Setidaknya, aku tidak merasa kesepian seperti yang ku kira sebelumnya.
***
“Raina, lihat pria itu datang lagi!”, kata Sera sambil melihat ke arah seorang pria yang akhir-akhir ini sering datang pertunjukkan kami. Seharusnya, kami senang karena hal itu berarti dia salah satu penggemar kami.
Masalahnya adalah dia bahkan menonton pertunjukkan kami ketika kami keluar kota dan selalu terlihat seperti menunggu seseorang di luar gedung pertunjukkan, sendiri.
“Lihat dia menuju ke arah sini!”, lanjut kata Sera dan kami berpegangan karena ketakutan.
“Sera, lebih baik kita segera menuju hotel”, tanggapku dan menariknya ke arah jalan hotel tempat kami menginap.
“Sepertinya dia sudah tidak kelihatan Raina.”
“Sepertinya begitu” pikirku.
“Selamat Malam”, sebuah suara mengagetkan kami secara tiba-tiba. Suara itu berasal dari seorang pria yang ingin kami hindari.
Aku merasa ketakutan, benar-benar sangat takut. Mengapa ada seorang pria yang mengikuti kami hingga kemari. Berniat jahatkah dia?
“Maaf, membuat kalian kaget. Aku salah satu wakil dari perusahan yang mensponsori pertunjukkan kalian. Aku juga tinggal di hotel yang sama untuk menginap makanya aku kemari”, katanya ramah menjawab seribu spekulasi di otak kami tentang mengapa dia berasa disini.
***
“Hei! jika kalian dekat-dekat Raina hanya untuk mengganggunya, kalian akan tahu akibatnya!”
“Dasar kau tukang mengadu, kalau bukan karena ayahmu kepala sekolah sekaligus kepala sekolah ini, kau tidak akan bisa menjadi jagoan disini!”
Anak itu, seandainya dia berada disini sekarang mungkin aku tidak akan merasa ketakukan. Dimana dia sekarang? Bukankah katanya dia akan kembali dan melihatku menjadi seorang wanita yang cantik dalam bayangannya? Aku tiba-tiba tertawa geli dan merasa bodoh.
Bagaimana bisa aku percaya dengan kata-kata seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun. Ketika itu, bukankah kami masih kanak-kanak hidup dalam dunia fantasi kami. Bagaimana dia akan menepati kata-katanya, namun yang lebih parah bagaimana aku bisa masih mempercayainya?
“Maaf, boleh aku duduk disini”, tanyanya sopan namun tetap saja aku merasa curiga dengannya. Benar, pria itu yang selalu mengikuti kami. “Silahkan”, tanggapku.
“Kau Raina Schoonhoven? Perkenalkan namaku Dharma”, tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
“Ya, namun bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku kembali setelah melepaskan jabatan tangannya secepatnya.
“Oh, kurasa tidak sedikit orang yang tahu tentangmu. Raina, Sera, Rena tiga penari dari akademi ini yang paling banyak dibicarakan orang. Kalian benar-benar hebat dan kau yang paling terfavorit bukan?”
“Tidak begitu, menurutku Sera lebih lebih baik dariku ketika menari. Setiap orang yang menunggu penampilanku hanya ingin melihat wajahku. Bukankah begitu?”
“Kurasa perkataanmu ada benarnya, Sera memang sangat berbakat dalam menari. Rena juga berbakat. Tetapi kau cantik, seperti boneka dan...”
“Kau sama seperti mereka, bodoh, tidak mengerti. Seorang penari harus terlihat indah karena tariannya bukan karena wajah ataupun pakaian yang dikenakannya, atau terlebih warna kulitnya.
Penari menjual keahlian bukan menjual tubuhnya maka itu penari harus mampu menari dengan baik! Dan itu yang tidak aku miliki dari teman-temanku lainnya, kau tahu?
“Mengapa?”
“Karena seorang penari seharusnya memiliki.....”
***
“Kau melihat pertunjukkan tari kontemporer lagi kemarin? Kau pasti merasa senang?”
“Entahlah, aku merasa senang tetapi sedih juga karena aku tidak bisa seprti mereka.”
“Oh, jadi kau ingin menjadi penari seperti mereka dan muncul di panggung seperti mereka? Menurutku, kau bisa seperti mereka.”
“Bagaimana mungkin...”
“Karena kau cantik, seperti boneka! Bukankah mereka yang berada di panggung itu juga sangat cantik seperti boneka? Sepertimu...”
“Kau tidak mengerti, seorang menjadi penari bukan karena mereka cantik tetapi karena mereka bisa menari dengan baik. Dan kau tahu? Bagaimana aku dapat menari, kakipun aku tidak punya!”, aku menangis ketika itu, sekali lagi aku merasa bahwa Tuhan tidak adil. Mengapa ada seorang anak yang harus terlahir tanpa kaki. Mengapa seorang anak tersebut harus memiliki menjadi seorang penari sedangkan berdiri diatas kakinya sendiri saja dia tak mampu?
“Hei, hei, jangan menangis. Mungkin, suatu saat nanti kau akan menemukan acara untuk menggapai cita-citamu itu dan selain membuatmu menangis karena perkataanku tadi, aku ingin meminta maaf kepadamu karena aku akan pergi jauh. Aku akan pindah sekolah jadi aku tidak bisa menemanimu lagi dalam waktu yang lama.”
“Berapa lama?”, tanyaku seraya tak percaya jika aku dan Deni akan berpisah setelah enam tahun kami berteman baik.
“Aku juga tidak tahu, tetapi aku akan kembali untuk melihatmu tumbuh menjadi wanita cantik seperti penari-penari itu dan mungkin suatu saat nanti aku juga melihatmu menjadi salah satu dari mereka!”, tanggapnya seraya tersenyum menyemangati.
Ketika itu, aku merasa sedih entah karena kehilangannya atau karena mungkin aku tidak akan benar-benar menjadi apa yang dilihatnya ketika dia kembali.
***
“Kaki? Tetapi kau memilikinya sekarang. Walaupun, kaki itu hanyalah kaki palsu bagimu. Hingga beberapa penari yang tidak menyukaimu memanggilmu dengan sebutan boneka kayu.
Kau sakit hati karena kau berparas cantik hingga menyerupai boneka tetapi kau harus menari diatas kaki palsu. Kau terlalu sensitif Raina, walaupun mereka bukan kakimu sejak lahir tetapi kau benar-benar menari.
Kau bukan boneka kayu cantik yang menari diatas panggung. Gerakanmu mungkin tak terlihat sesempurna yang kau inginkan, seperti yang mereka yang memiliki kaki sesungguhnya. Tetapi, kau bukan berarti kau tidak bisa menari dan hanya menjadi penari yang menjual paras cantik.
Tidak ada yang sadar Raina, tidak ada yang sadar jika kau menari dengan tidak dengan kaki biologismu, karena kaki itu memang dicipatakan untukmu, untuk membantumu mewujudkan impianmu menjadi penari...”
Ketika itu, aku menyadari seorang yang kuharapkan kembali ada di hadapanku. Seorang yang tahu tentang mimpiku, tentang semua kekuranganku.
Aku terlahir tanpa kaki sejak lahir dan aku bermimpi menjadi seorang penari yang hampir mustahil kugapai. Aku memperoleh kaki palsu dan berusaha keras dengan kedua kaki palsu itu untuk mengapai impianku menjadi seorang penari, aku sukses.
Namun stigma bahwa aku adalah boneka kayu tidak pernah lepas dari kehidupanku entah karena beberapa dari mereka mengolokku demikian atau diriku sendiri yang memanggil diriku boneka kayu.
“Raina, mungkin banyak pria yang melihatmu salah menilaimu. Tetapi, aku tidak mungkin salah menilaimu, karena aku tahu kau dan berapa banyak usahamu untuk mencapai tempat ini!”
“Maaf, awalnya aku tidak mengenali kau...”, dia memelukku dan aku menangis dalam pelukkannya. Aku menangis bahagia karena kembali bertemu dengannya dan merasakan pertama kalinya bersyukur atas apa yang sudah kugapai.
Catatan editor:
Bagian awal dari cerpen ini kurang halus dan terlalu dramatis untuk pembuka sebuah cerita. Namun, ide ceritanya cukup menarik. Masalah humanity memang mudah mendapatkan perhatian, namun sebaiknya jangan terlalu berlebihan dalam mendramatisir kata-kata.
Topic
#writersclub


