Nara baru saja selesai mandi saat abangnya, Ibra, lewat dengan tumpukan bambu di tangan dari belakang rumah. Kebetulan di belakang rumahnya tumbuh rumpun bambu sangat rimbun. Nara tak putus memandang punggung Ibra yang berjalan ke arah depan rumah.
Sementara Bunda yang duduk manis sembari asyikmenguleni ketan yang selesai ditumbuk mbak Jum untuk dibuat jajá uli1. Bakal tape dari ketan pun sudah lama diperam dalam stoples kedap udara. Selainjajá uli1yang menjadi ciri khas ngejot2, Bunda juga membuat tipat3, opor ayam dan jajanan pasar.
Tujuh hari terakhir dibulan Sya’ban, mereka sibuk membuat jotan4 tape dan jajá uli1 untuk dihantarkan ke para tetangga. Obor dari bambu yang sudah terpasang di depan rumah-rumah mereka pun seakan-akan barisan yang tak putus di pinggir jalan utama desa. Nara masih ingat, tiap kali Sya’banan5Bunda memberinya tugas ngejot2. Sedangkan Ayah dan Abangnyamembuatobor dari bambu untuk dipasang di pinggir jalandepan rumah.
Semua itu dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan dan akan lebih indah lagi saatmenjelang malam. Sewindu obor-obor itu akan menjadi penerang jalan saat berangkat dan pulang tarawih di masjid Kuna, meskipun telah ada penerang jalan, namun obor-obor itu memberi arti yang sangat mendalam bagi mereka yang telah berpuluh-puluh tahun hidup di kampung selam6 dan menjadi tradisi turun-temurun saat bulan Sya’ban berakhir dan bulan Ramadhan menjelang.
“Hayo…mikirin siapa? Awas kesambet jingalau.” Ibra mengagetkan Nara yang masih tertegun.
“Ih, apaan sih bang.”Nara cemberut.Wajah bulat dengan pipi chubbykemerahan dan sepasang lesung pipit,terlihat lucu.
“Jangan cemberut, jelek tau.Nanti Sultan ilfil.”
“Iiih…abaaang, apaan sih.”
Ibra berlari menghindari cubitan Nara,namun Nara terus mengejar.Ibra berusaha bersembunyi di belakang punggung Bunda,yang tengahsibuk menyusunjotan4ke dalamnare7berukuran kecil.
“Kalian,seperti anak-anak saja.” Protes Bunda.
“Bang Ibra yang duluan bun!”Nara kesal karena gagal mencubit.
“Kok abang sih, Nara kan yang mau nyubit?”Ibra tak mau kalah.
“Sudah, sudah. Ibra mandi sana, nanti anter ayah ngejot2ke rumah Datuk. Nara, biarin abangmu mandi. Kamu ngejot2 ke rumah bik Nung.”
Nara tergugu demi mendengar Bunda menyebut nama Bik Nung.
“Cieee yang mau ketemu Sultan.”Ibra menggodanya lagi.
“Bundaaa!”
“Ibra, senang sekali godain adiknya.Sana cepat mandi.”
Bunda menepuk pundak Ibra.Nara hanya merengut melihat Abangnya senyum-senyum menggoda. Sultan bukan orang lain bagi Nara, dia mindon8-nya.Saat Nara duduk di Madrasah Aliyah, keluarga besarnya pernah menjodohkan mereka berdua.Saat itu Sultan masihmahasiswa tingkat pertama.Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka tak berkembang.Sultan tak pernah berusahauntuk mengenalnya lebih dekat.Akhirnya Nara punmemilih melupakan perasaannya yang sempat melambung.Ya, Nara memang menaruh hati pada mindon8-nya itu.
“Nara, kok malah bengong.”Bunda menyodorkan nare7 yang sudah berisi tape,jajá uli1, tipat3, opor dan jajanan pasar.
“Kalau tukeran sama bang Ibra boleh gak bun?”
“Kenapa? Sudah sana. Bik Nung nanyain kamu terus.”
Nara hanya menurut dan menerima nare7 pemberian Bunda.Langkahnya gontai menyusuri jalanan kampung yang sepi, hanya sesekali pengendara sepeda ontelmelintas dan beberapa orang petani yang baru pulang dari ladang membawa sekarung rumput hasil ngarit9untuk sapi-sapi peliharaan mereka.
Nara berhenti di depansebuah rumah panggung yang hanya ada satu-satunya di kampung selam6.Hatinya tak yakin untuk melanjutkan langkah menyusuri halaman rumah yang luas menuju pintu dapur yang ada di samping rumah.Bik Nung saat ini pasti ada di dapur, tengah sibuk menyiapkan jotan4 seperti yang Bunda lakukan.Dulu, dia biasa keluar masuk pintu itu tanpa merasa canggung.Tapi sekarang, dia tak siap jikaharus bertemu Sultan.
“Nara…”
Sebuah suara mengagetkannya.Nara menoleh ke asal suara dari rumah sebelah.Dia tersenyum lega saat mendapati misan10-nya, Yasin.
“Sin, pidan teká11?”Nara berbasa-basi.Padahal dia tahu kalau Yasin berangkat satu hari lebih awal dari jadwal tiketnya.
“Ipoan12. Bik Nung singadá13, Ra.” Jelas Yasin.
“Nitip14nah15?”
“Nah15.”
Nara melangkah menghampiri Yasin yang berdiri di pinggir pagar yang tingginya hanya satu meter dan menyerahkannare7 pada Yasin.
“Makasi Sin, salamjakbik Nung, jak bik Talma16.” Nara pergi meninggalkan Yasin yang mengangguk mengiyakan titipan salamnya.
Sepanjang jalan pulang, Nara tersenyum lega.Dia tak harus bertemu Sultan, meskinanti Bunda marah karenajotan4-nya dia titipkan kepada Yasin.
“Nara!” Bik Nung memanggilnya.
Nara terkejut melihat Bik Nung dan Sultan yang berhenti agak jauh darinya.Berat hati Nara menghampiri.Nara mencium tangan Bik Nung dengan takzim dan mengangguk ke arah Sultan.Setelah membalas anggukan Nara tanpa senyum, Sultan pergi meninggalkan mereka.Nara dan Bik Nung berbincang sebentar dan Nara punberpamitan setelah memberitahukan jikajotan4 Bunda untuk Bik Nung dia titipkan kepada Yasin.
***
Nara duduk santai sambil membaca sebuah novel di atas ayunan di halaman rumah. Ayunan sederhana yang terbuat dari ban mobil bekas dan diikatkan ke dahan pohon mangga itu buatan Abangnya danSultan, saat Nara kecil.Nara suka memenghabiskan waktu menunggubedug ashar duduk diayunan sambil membaca.
“Assalamualaikum?”
Sebuah suara mengejutkan Nara yang tengah asyik membaca.
“Waalaikumsalam.”Nara menjawab salam dengan gemuruh di dada yang tiba-tiba hadir, takmenyangka yang datang adalah Sultan dengan seragam hadrah17-nya.
“Bang Ibra ada?”Tanya Sultan tanpa basa-basi.
“Ada.” Baru saja Nara berdiri untuk memanggilkan Abangnya, Ibra sudah muncul di pintu rumah, juga dengan seragam hadrah17.
“Eh, Tan. Udah lama?”Ibra menghampiri Sultan dan menyalaminya.
“Baru.”Sultan membalas jabatan tangan Ibra dan memeluknya.
Nara kembali duduk.Sesekali dia melirik ke arah kedua lelaki itu.Keakraban mereka membuat Nara iri.Kenapa Sultan tak bisa bersikap hangat seperti itu padanya.Walaupun Sultan tak memiliki perasaan suka padanya, setidaknya dia bisabersikap sebagai mindon8-nya.
“Ra, Abang berangkat.”
Nara mengangguk.
Sultan hanya mengangguk pelantanpa menatapnya.
Nara gemasdengan sikap Sultan yang begitu dingin padanya.
Hari ini, di masjid Kuna diadakan acaramengibunguntukbuka puasa bersama.Megibung merupakan tradisi makan bersama dalam satu kelompok di atas nare7yang berukuran besar.Berisi susunan nasi putih, aneka lauk dan urapan.Tradisi unik ini sudah dilakukan turun-temurun pada hari kedua puluh bulan Ramadhan, sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kampung selam6 karena telah melewati tiga perempat dari bulan puasa.Biasanya setelah dua kali khatam Al Qur’ansaat tadarusan usai shalat tarawih.
“Abangmu sudah berangkat Ra?”Bunda muncul dari samping rumah.
“Sudah.”Pandangan mata Nara tak putus pada dua punggung yang terus menjauhinya, tanpa peduli kehadiran bunda.
***
Halaman masjid Kuna penuh sesak oleh penonton dan tamu undangan, bahkan hingga ke parkiran yang berada di depan masjid dan jalan raya. Bapak Kepala Desa membuka acara dengan memukul rebana besar.Sekelompok anak muda dengan seragam berwarna putih-hitam, mengenakan kopiah hitam dengan hiasan pita emas ditepian atasnya, sepatu hitam dan selempang hitam, sudah siap di halaman depan masjid.Mereka adalah penari Hadrah17.
Suara tepuk tangan menggema,seiringtiupan peluit oleh pemimpin hadrah17. Gerakan penari hadrah17 mirip gerakan pencak silat.Diiringi lantunan salawatan yang seirama suara hentakan rebana, terlihat dinamis.Saatnya Nara melaksanakan tugas mendokumentasikan acara.
Adzan Maghrib berkumandang.Semua orang dengan rapi mengantri mengambil takjil untuk membatalkan puasa, laluberwudhu. Usai shalat maghrib, acara dilanjutkan. Panitia menyiapkanperlengkapan megibung.Nare7yang sudah berisi nasi putih, aneka laukdan urapantertata rapi.Jama’ahdudukdi beranda hingga halaman masjid dalam kelompok-kelompok kecil berjumlah empat hingga lima orang mengelilinginare7.
Usztad membacakan tata caramegibung yang harus dipatuhi peserta. Salah satunya, tidak boleh menjatuhkan nasisuapan ke dalam nare7, sehingga harus memiringkan tubuh mereka ke samping saat akan menyuapkan makanan.Selesai membacakan tata caramegibung, Usztad pun memimpin doa dan memberi aba-aba. Suasanapunmenjadi sangatmeriah.
***
“Nih.”Sultan menyodorkan ingká18 dialasi potongan daun pisang dan berisi nasi putih, lauk dan urapan ke hadapan Nara yang tengah asyik memotret.
Nara kaget. Dia memandang wajah Sultan dengan penuh tanya.
“Dari tadi aku lihat kamu sibuk dengan kameramu.” Kilah Sultan, sepertinya dia tahu artidari tatapanNara.
Nara memasukkan kameranya ke dalam tas dan menerima ingka18pemberian Sultan. “Tapi ini kebanyakan.”Nara menatap Sultan malu-malu.
“Kita makan berdua.”Jawab Sultan pendek.
Nara terkesiap.Makan berdua?Gak salah nih?Jantung Nara deg-degan demi mendengar perkataan Sultan.
“Ayo makan.”Sultan sedikit menarik paksa Nara untuk duduk dan makan bersamanya.Nara menurut.Sesekali dia melirik Sultan diam-diam.
“Maafin sikapku selama ini, Ra.”Sultan memberi alasan atas sikap cueknya terhadap Nara.
“Eh, kalian ngapain sih, bukan muhrim tahu.Gak dengar pak Usztadbilang apatadi?” tiba-tiba Ibra datang dan mengacaukan suasana romantismegibung mereka.
Sultan salting.
Ibra dengan cuek makan bersama dengan mereka berdua.
Nara tersenyum geli dan menikmatimenu megibung-nya yang kali ini terasa beda.
***
Catatan kaki :
Jajá Uli—kue dari ketan (jajá dibaca jaje dalam dialek bahasa Bali)
Ngejot—tradisi hantaran
tipat—ketupat
Jotan—hantaran
Sya’banan—tradisi yang digelar pada bulan ke delapan kalender Islam untuk menyambut bulan Ramadhan, biasanya tujuh hari terakhir di bulan Sya’ban dengan shalat Tasbih, ngejot tape dan uli dari ketan, dan memasang obor dari bambu di depan rumah.
Selam—sebutan untuk pemeluk agama Islam dalam dialek bahasa Bali
Nare—nampan dari ayaman bambu
Mindon—seperti pariban dalam suku batak
Ngarit—menyabit rumput
Misan—sepupu
Pidan teká—kapan sampai (teká dibaca teke dalam dialek bahasa Bali)
Ipoan—kemarin lusa
Sing adá—tidak ada (adá dibaca ade dalam dialek bahasa Bali)
Nitip—titip
Nah—ya
Salam jak bik Nung, jak bik Talma—salam untuk bik Nung dan bik Talma
Hadrah—kesenian Islam berupa tarian yang gerakannya mirip pencak silat, ditarikan oleh laki-laki yang mengenakan seragam khas hadrah dalam sebuah barisan yang terdiri dari 8 sampai dengan 12 orang, diiringi oleh musik rebana dan salawat.
ingká—alat makan berbentuk piring yang terbuat dari ayaman lidi (ingká dibaca ingke dalam dialek bahasa Bali)
Catatan editor:
Jalan ceritanya terlalu biasa dan tidak ada kebaruan. Masih perlu belajar lagi soal peggunaan tanda baca agar cerita lebih enak dibaca. Deskripsi situasi yang terlalu lama membuat lelah saat membaca baris demi baris. Sebaiknya, untuk deskripsi situasi di awal cerita cukup dihabiskan dalam satu paragraf saja, dan tak lebih dari 150 kata. Kemudian, bisa dilanjutkan dengan memasukkan tokoh utama dari cerita di cerpen ini, yaitu Nara. Banyak-banyaklah membaca novel atau cerpen lain untuk mengasah ide cerita agar lebih orisinil dan segar.
Topic
#writersclub


