Para ibu akan berusaha memenuhi kebutuhan ASI bayinya dengan melakukan apa pun. Beberapa tahun terakhir, muncul fenomena ASI perah, ASI yang bisa distok dan disimpan. Ibu yang beraktivitas bisa tenang meninggalkan bayinya di rumah, dengan tetap mendapat ASI eksklusif. Ada pula fenomena donor ASI. Ibu yang kesulitan menyusui bisa meminta pertolongan donor ASI dari ibu lain yang kelebihan stok. Namun, harus diakui, masih banyak yang ragu dan belum paham tentang apa dan bagaimana praktik donor ASI itu. Menurut Dr. Astri Pramarini, dokter dan konselor laktasi, ada beberapa kondisi seorang bayi perlu mendapatkan pengganti selain menyusui. Dalam hal ini, perlu donor ASI jika ibu menghadapi kondisi tidak bisa menyusui. Berikut adalah beberapa indikasi seorang Ibu tidak bisa menyusui:
- Ibu sakit berat (psikosis, eklamsia, dan lainnya), infeksi herpes simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu lima hari sebelum dan dua hari sesudah melahirkan.
- Ibu mendapat paparan radioaktif tertentu, seperti Iodine 131, obat-obatan antitiroid.
- Ibu pengguna obat terlarang.
- Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang.
- Bayi dengan berat lahir sangat rendah (kurang dari 1.500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu.
- Bayi mengalami gangguan adaptasi metabolis atau peningkatan kebutuhan glukosa (misal, lahir prematur, atau bayi dengan ibu yang menderita diabetes).
- Bayi kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice atau bayi kuning), dan menyusui atau memerah ASI tapi masih belum bisa mengimbangi kebutuhan carian.
- Turunnya berat badan bayi hingga 10% setelah hari ke-3 sampai hari ke-5.


