Bosku memecat dua orang rekan kerjaku, yang sampai saat ini masih kosong posisinya. Jadi mau- tidak mau beban kerjaku bertambah. Rasanya lelah juga bila setiap hari kerja pulang malam.
Apalagi bila aku tidak bisa melakukan kegiatan favoritku ini. Bagiku menyaksikan langit berwarna jingga –keperakan saat mentari beranjak keperaduannya adalah hal yang luar biasa.
Sisa hujan tadi sore meninggalkan aroma sejuk. Kuhirup sejuknya dalam – dalam, udara segar menyinggahi paru- paruku. Nikmatnya, terasa menjalar keseluruh tubuhku.
Mataku terpaku pada irisan setengah lingka dengan gradasi warna nan indah. Yah…, pelangi itu seakan terpampang dari puncak bukit. Dan aku lebih takjub lagi, diatasnya terlihat warna putih yang cukup lebar, sehingga membentuk jarak yang jelas.
sesudah warna putih itu adalagi lintasan setengah lingkaran dengan gradasi warna yang sama. Wow…! Aku terpesona.
Aku teringat akan sahabatku yang tinggal di Sikinjang sebuah desa didaerah Solok Selatan. Dulu waktu aku bekerja disana kami sering memperhatikan matahari tenggelam di kaki bukit.
Sensasinya sangat berbeda dengan menikmati sunset di pantai.
“ Ziko, Kau tentunya akan merasa iri padaku!” Aku mulai menulis SMS.
“Mengapa aku harus iri?” sedetik kemudian dia membalas SMS-ku.
“Aku dapat dobel hari ini. Pelanginya ada dua, tentu takkan pernah kau lihat seumur hidupmu!” Aku memanas- manasinya.
“Kau baru lihat dua, disini ada tiga,” balasnya tak mau kalah. “Serius, sumpah!”
Aku diam, tersenyum. Mana mungkin ada tiga pelangi. Bisa- bisanya dia aja. Hp-ku bergetar, ada panggilan masuk darinya. Sengaja lama baru kuangkat.
“Sombong sekali kau, lama aku menunggu kabarmu, baru hari ini kau menghubungiku,” Katanya diseberang sana.
“Biarin!” sahutku acuh tak acuh. “Aku sibuk,” aku memberinya alasan. Memang sejak aku kembali ke Padang baru kali ini aku menghubunginya.
Aku sama sekali tak keberatan kalau dia bilang aku sombong. Toh, waktu aku pergi dia juga tak mengantarku. Dia memilih mengeram di kamar dari pada melambaikan tangan padaku.
“Sekarangkan tak sibuk, mengapa lama sekali kau angkat telponku,” dia memprotes
“Hpku berat, butuh tenaga ekstra untuk mengangkat telponmu,” selorohku
Dia tertawa. Tawanya masih sama. Aku membayangkan pasti matanya hilang ditelan kedua pipinya saat dia tertawa. Terkadang aku suka menertawakannya.
Belakangan ini aku kesal, Ziko menikah tapi dia tidak memberitahuku. Bagaimana tidak? Aku ini sahabatnya, tapi dia menikah diam- diam. Apa dia tak mau berbagi kebahagiannya denganku. Atau dia kecewa padaku karena itu. Tapi itu sudah dua tahun yang lalu.
Aku ingat, kami sedang menikmati senja, beruntung kami mendapatkan pelangi. Saat itulah Ziko mengutarakan perasaannya padaku. Namun aku sudah terlanjur menerimanya sebagai seorang sahabat.
“Aku lebih siap mencintai orang asing dari pada seorang sahabat,” jawabku
“Apa bagimu cinta bagimu adalah persiapan?” tanyanya padaku
“Memang, karena waktu akan berjalan kedepan, bukan kebelakang. Dengan orang asing jika kedepannya bisa berjalan dengan baik, dia bisa menjadi sahabat, bila tidak, kita hanya kehilangan orang asing.
Mencintai sahabat adalah hal terbaik jika kedepannya berjalan dengan baik. Jika tidak, kita akan kehilangan seorang sahabat. Dan itu sangat buruk,” lanjutku
“Apa selama ini aku pernah mengecewakanmu?. Percayalah, hal buruk itu takkan pernah terjadi,” sahutnya mulai emosional
“Aku tahu, kau tak perlu menanyakan hal itu padaku. Tapi kau juga harus tahu masa depan hanyalah dapat kita prediksi, bukan suatu hal yang kita ketahui dengan pasti, mungkin apa yang kita alami sekarang dapat dijadikan pedoman untuk masa depan, tapi bukan untuk kita percayai bahwa apa terjadi sekarang akan terjadi dimasa depan.
Semuanya bisa berubah,” sahutku. Walau terlihat mendung dimatanya, akhirnya dia menerima keyakinanku bahwa seseorang mungkin terlihat menyenangkan bila dijadikan sahabat, tapi belum tentu jika dijadikan pacar.
Aku mendapat tugas ke Sungai Penuh untuk beberapa hari. Ketika aku mencicipi dodol kentang, benda hitam dikantongku bergetar. Ada nomor baru. Siapa lagi yang iseng- iseng menelponku. Ku usap layar bertulisan “menolak”. Tapi nomor itu berulangkali muncul.
“Halo,” akhirnya kujawab juga
“Nana kau dimana,” terdengar suara yang sangatku kenal
“Hah, Ziko nomormu ganti lagi? Tumben tak menanya kabarku,” aku tak menjawab pertanyaannya.
“Buat apa menanyakan kabar, kalau suaramu galak begitu, pasti kamu baik- baik saja,” sahutnya, “kamu dimana?”
“Di Pasar Sungai Penuh”
“Masa?. Rupanya kau senang ya membuntuti aku,”
“Ha…. Enak saja, aku sedang ada tugas disini, memangnya kamu disini juga?”
“Ya, aku sudah setahun disini. Kuharap, mampirlah ke gubukku,” dia mulai lagi litotesnya
“Malas ah, lebih baik dihotel, mengapa aku harus ke gubug,” timpalku seenaknya
“Mana tahu kamu kangen dengan orang jelek ini,”
“Tak mungkin…. Disini masih banyak yang tampan,”
Dia tertawa, “mampirlah ke rumah nanti kukenalkan pada istriku”
“O... Kamu sudah punya istri toh? Pernikahanmu tidak direstui ya sehingga tak mengabariku?” tanyaku menyelidik, persis wartawan investigasi.
“Sembarangan, reputasiku tak sejelek itu,” dia membela diri.
“He...eh. mana tahu,” jawabku sambil menikmati dodol kentang. Pantas banyak rekan kerjaku yang menitip, benar- benar enak.
“Dia mana?” aku bertanya lagi
“Siapa?” tanyanya singkat
“Siapa lagi, asisten rumah tanggamu”
“Ini dia disampingku. Kenalan saja,” lalu terdengar ia mengatakan sesuatu, dan dapat aku dengar jawaban “aku sedang sibuk” dari istrinya. Aku menangkap keanehan dari nada kalimat tersebut.
“Halo, Na maaf ya istriku sedang sibuk, nanti mainlah ke rumahku di Pasar Siulak besar. Turun saja di Pasarnya nanti biar kujemput,” ia menawarkan lagi.
“Ya, kalau nanti ada kesempatan aku kesana,” sahutku hambar. Walaupun sebenarnya sudah kuputuskan untuk tidak datang.
“Aku balik ke hotel dulu ya! Masih banyak laporan yang belum kuselesaikan,” tanpa menunggu jawaban darinya langsung kuputuskan percakapan. Sejak saat itu aku jarang menerima telponnya.
Walaupun dia masih sering menelponku Aku sengaja menjauhinya untuk menjaga perasaan istrinya. Pernah ada panggilan dari ponselnya berkali- kali tak kuangkat, namun ia mencoba menelponku dengan nomor lain, ketika kuterima, eh.. ternyata dia.
“Kamu mau melarikan diri dariku ya,” katanya memulai serangan
Aku diam. “Aku mau curhat, pusing kepalaku memikirkannya,” lanjutnya
“O... kenapa tak dibicarakan dengan istrimu saja,” jawabku.
“Ah, susah. Aku lebih nyaman bicara denganmu.
“Ya sudah Fauzan Aziko mau cerita apa?”
Akhirnya aku terpaksa menampung ceritanya. Mungkin dia tak mau menceritakan hal ini pada isterinya, mungkin takut dianggap cengeng, atau tidak mandiri. Dia menceritakan masalah keluarga besarnya.
Tentang ibunya yang bertengkar dengan saudaranya. Hingga akhirnya nenek ikut campur dan membela adik perempuan ibunya, sampai- sampai sang nenek tidak mau lagi bertegur sapa dengan ibu dan juga dia.
Aku hanya bisa memberikan sedikit saran. Lalu untuk mencairkan suasana aku bertanya tentang istri dan anaknya.
Tak terasa waktu terus berlalu dan aku semakin menjauh dari sahabatku itu. Sesekali ada juga aku mengangkat telponnya, agar tak terasa benar olehnya, aku berlari. Selain itu supaya tali silaturrahmi kami tidak putus.
Aku tak ingin menelponnya. Aku sengaja menghapus namanya dikontakku. Agar habis segala keinginanku untuk menghubunginya. Walau terkadang ada juga kerinduan dihati untuk sahabatku itu.
Bagaimana tidak, bertahun- tahun aku berteman dengannya tapi harus seperti ini..
Aku tidak ingat dengan jelas bagaimana kejadian ini bermula. Yang aku tahu, hatiku menjadi sakit karenanya.
“Malam kak, maaf mengganggu! Aku istrinya Ziko, bolehkah aku menanya sesuatu?” Aku mendapatkan pesan dari istrinya Ziko yang memanggilku demikian karena dia muda dariku. Kata Ziko, dia menikahi istrinya yang telah dua tahun tamat SMA.
“Malam, salam kenal. Boleh, kamu ingin menanya apa?” kukirimkan kalimat tersebut.
“Ziko mengirim kakak SMS ya?”
“Tidak, memangnya kenapa? Rasanya Ziko tidak pernah menghubungiku atau mengirim pesan”. Aku mencoba mengingat- ingat.
“Tapi di sent box-nya ada”
“Apa isinya?” tanyaku masih berusaha, mana tahu memang Ziko mengirim pesan.
“Nana,” jawabnya singkat
“Oh… pesan yang itu, maaf aku lupa, tapi aku tak membalasnya. Memangnya ada apa?” aku baru ingat, itu SMS Ziko minggu yang lalu, tapi sengaja tak kubalas.
“Tidak apa- apa” nadanya datar “nanti kalau Ziko nelpon atau SMS, angkat dan balas saja”.
Ini ponselku, terserah aku mau angkat atau tidak, aku balas pesannya atau tidak. Mengapa dia memonopoliku, seakan- akan dia punya hak atas hidupku. aku berucap dalam hati, ada perih tergores disana.
“Laki- laki itu seperti anjing, berbuat sesukanya. Kalau dia bisa begitu, aku juga bisa. Biar dia menanggung dosa, kan dia imam kita”.
Sakit hatiku membaca pesan darinya. Dia anggap aku ini apa. Aku masih punya harga diri. Dia menuduhku yang bukan- bukan, aku ini perempuan sama seperti dia. Tak punya hatikah dia, hingga menyakiti sesamanya. Aku menjauhi sahabatku sendiri, demi dia.
“Ziko bukan orang seperti itu, kasihan anak kalian,” seberapapun sakit hatiku tapi kata- kata seperti itu juga yang keluar dariku. Aku mencoba memahami untuk usianya yang masih muda dan pendidikannya yang lebih rendah dariku.
Waktu Ziko menghubungiku, kujelaskan padanya. Ziko bilang tadi isterinya menangis, tapi semuanya sudah selesai, aku sudah menjelaskan padanya. Aku lega sekaligus pilu.
Lega karena permasalahan mereka telah terpecahkan, pilu karena isterinya yang menyerangku dengan kata- katanya yang tajam, tapi kenapa dia yang menangis?. Sungguh ular berkepala dua.
Bosku menyuruhku untuk menghubungi seseorang. Tapi orang yang aku hubungi tidak menjawab panggilanku. Terpaksa harusku simpan nomornya agar tidak lupa. Tapi celaka kontakku sudah penuh. Berarti aku harus menghapus satu kontak, kucari, ada satu kontak yang tak ada namanya.
Rasa- rasanya nomor ini sering menghubungiku, tapi aku lupa siapanya. Lebih baik sebelum menghapusnya kuhubungi dulu, siapa tahu ini nomor penting. Namun setelah menghubunginya, aku terluka lagi. Dia mengata- ngatai aku.
Dia bilang padaku bahwa aku bukan siapa- siapa. Dulu dia mendekatiku karena dia taruhan dengan sahabatnya Angga, dan lebih parah lagi dia membawa- bawa profesiku, katanya aku tak pantas menjadi penyuluh, karena mengganggu rumah tangganya. Bahkan berbagai kata- kata jorok dilontarkannya padaku.
Aku tak menyangka, ternyata Ziko adalah orang yang kejam. Aku maklum jika ia membela isterinya untuk mempertahankan rumah tangganya. Tapi mengapa harus melukai perasaanku. Kalau aku tak penting baginya mengapa dia mesti taruhan dengan sahabatnya. Beruntung aku tak menerimanya.
Aku mengganggu rumah tangganya?. Jelas tidak, aku tidak pernah mengganti nomor ponselku. Jika ia mengganti nomornya tentu aku takkan dapat menghubunginya, sedangkan ini dia berganti nomor berkali- kali.
Jika kau benar- benar laki- laki, akui saja kesalahanmu, keluarlah dari persembunyianmu, jangan setiap kau terancam kau bersembunyi di balik ketek isterimu.
Kusandarkan tubuhku kekursi, lemas rasanya. Apa dosaku? Irisan setengah lingkaran itu muncul lagi. Kali ini bukan di puncak bukit. Pelangi itu menyemburkan gradasi warna warni. Warna- warna pahit juga hitam, makin lama makin menusuk hatiku. Aku limbung.
Ternyata benar, perempuan baik hanya untuk laki- laki yang baik. Laki- laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik pula. Kalian pasangan yang sangat serasi, punya banyak kesamaan. Sama- sama suka menyakiti orang.
Catatan Editor:
Penulis masih harus mempelajari penggunaan tanda baca beserta fungsinya, terutama tanda koma. Penggunaan tanda baca yang tepat dapat membuat cerpen nyaman dibaca dan mudah dipahami. Selain itu, cerpen ini masih minim dalam hal alur cerita.
pistol4d
situs game online
Topic
#writersclub


