BERDIRI DI ATAS ‘DUA KAKI’
Segala cara telah ia tempuh untuk memberikan akses mobilitas kepada dirinya sendiri. Salah satunya dengan kursi roda pemberian YAKUM, Yayasan Kristen tempatnya menyelesaikan pendidikan SMP di Yogyakarta. Namun, jalan ini pun menemui kebuntuan!
Pelajaran pahit ini didapatkannya saat berjam-jam menunggu bus untuk pulang ke Kudus, setelah tamat SMP. Tidak ada satu bus pun yang mau mengangkutnya. Ia berpikir, mungkin penumpang berkursi roda terlalu merepotkan bagi mereka. Sejak itu, ia lebih memilih bersandal ke mana-mana.
“Saya mengangkat tubuh selangkah demi selangkah dengan bertumpu pada tangan. Biarlah saya yang menyesuaikan diri dengan orang lain. Saya tak bisa memaksa orang lain menerima saya. Terlalu lama bila saya harus menunggu orang lain menyesuaikan diri dengan saya,” urai Aslimah, tegar.
Lucunya lagi, ke mana pun Aslimah pergi, ada saja orang yang memberinya sedekah. Aslimah selalu menolaknya secara halus. Ia tidak mau orang mengecap sosok seperti dirinya ini sebagai ‘peminta-minta’. Ia ingin disayangi, diberi kesempatan, dan bukan dikasihani.
Makin dewasa, Aslimah tak mudah sakit hati oleh ejekan. “Senyum saja. Apa susahnya?” ujarnya, ringan. Orang menghina dengan suara, sikap atau pandangan mata, tapi itu semua tak membuatnya merasa kurang. “Jadi, sebenarnya kita tak rugi apa-apa. Kalau dihina, tangan kita tidak copot, ‘kan? Anggap saja ejekan adalah bentuk ketidaktahuan,” kata Aslimah.
Semangat Aslimah untuk berguna bagi sesama diwujudkannya dengan berkunjung ke rumah sakit. Pasien-pasien di sana tidak mengenal dirinya. Tetapi, ia berharap bahwa ketika mereka melihat kondisinya, mereka akan bersyukur. Sebab, walaupun terbaring sakit, mereka memiliki anggota fisik yang lengkap.
“Saya juga selalu menyempatkan untuk ke ruang jenazah. Di sana saya yang bersyukur. Walau fisik saya seperti ini, saya masih diberi kenikmatan hidup,” ujarnya, penuh syukur.
Keterbatasan yang selalu dirasanya dahulu, kini mulai melebur. Menjadi berguna bagi orang lain, berhasil membangun kepercayaan dirinya. Tepat di saat itulah cinta mulai menyapanya lewat kehadiran Wahyu Nugroho, pasangan jiwanya. Hati mereka terpaut melalui perjumpaan sederhana di sebuah pasar malam di Kudus.
Saat itu, Wahyu tengah berjualan boneka dari akar wangi. Tertarik pada bentuknya yang lucu, Aslimah membeli satu boneka berbentuk kodok darinya. Keesokan harinya Aslimah datang lagi untuk memesan boneka khusus, berbentuk orang tanpa kaki sedang duduk di kursi roda. Tak lupa, ia meninggalkan nomor ponsel kepada pria itu, untuk mengabarinya saat pesanan itu jadi.
Komunikasi telepon ini rupanya tak berhenti sampai di situ, tapi berlanjut. Obrolan telepon dan SMS menjadi perantara hati bagi keduanya yang terpaksa terpisah jarak, jika Wahyu harus tinggal lama di luar kota untuk menjual hasil kerajinan boneka akar buatannya. Namun, seperti sudah diduga, orang tua Wahyu tak menyetujui hubungan mereka. Sambil menunggu restu orang tua, Aslimah dan Wahyu berusaha membuktikan bahwa mereka bisa mandiri dengan usaha bersama. Aslimah pun membantu Wahyu memproduksi dan berjualan boneka akar wangi. Kemandirian ini berhasil menggugah orang tua Wahyu untuk merestui cinta mereka berdua.
“Dulu saya ragu, apakah ada pria yang mau dengan saya. Namun, makin dewasa, saya tak mau pusing dengan apa pun yang tidak saya miliki. Kalau soal kaki saja tidak saya pikirkan, apalagi soal suami?” ujarnya, tertawa. Rupanya, Sang Pembuat Takdir punya rencana berbeda baginya. Ia mengirimkan Wahyu sebagai jodohnya dan pasangan ini menikah pada tahun 2010. “Alhamdulillah saya dapat Mas Wahyu yang fisiknya sempurna. Tapi, dia juga alhamdulillah mendapatkan saya. Semua ciptaan Tuhan itu sempurna,” ujar Aslimah, bahagia.
Dari pernikahannya, Aslimah mendapatkan dua gadis cilik: Aswa Naorin As Zahra (3) dan Yesha Sintya Ramadhan (4 bulan). Terbiasa mandiri, semua tugas ibu rumah tangga bisa dikerjakannya, walau perlahan-lahan. Satu hal yang tak bisa dikerjakannya yaitu menggendong anak sambil berjalan mondar-mandir. Sebagai gantinya, Aslimah membaringkan bayinya di kursi roda. Bila ingin menyusui, ia akan melakukannya sambil berbaring atau duduk.
“Dulu orang ragu, apakah saya bisa punya anak. Ternyata, kini saya punya dua anugerah yang luar biasa. Saya pernah tanya kepada Naorin, bagaimana jika kelak ada teman yang bertanya tentang kaki ibunya. Jawaban Naorin, ‘Insya Allah nanti ada jalannya.’ Sungguh saya tak mengira, anak tiga tahun bisa menjawab begitu,” tutur Aslimah, terharu.
Sekarang Aslimah makin menikmati perannya sebagai istri dan ibu. Usaha kerajinan akar wangi juga masih dijalaninya bersama suami. Belajar pada sang suami, Aslimah mahir menciptakan boneka-boneka baru dari akar wangi. Dibantu ibu Aslimah, kini mereka telah memiliki dua lapak sewaan di Objek Wisata Mbah Marijan, Yogyakarta.
Usaha mereka kerap mengalami pasang surut, tapi Aslimah tak mengeluh. “Luar biasa kenikmatan yang telah diberikan Tuhan. Saya ingin selalu bersyukur atas apa pun,” ujarnya, dengan penyerahan diri total kepada Sang Pencipta. (f)
Eyi Puspita



