True Story
Aslimah, Wanita Berjiwa Besar

11 Aug 2016


 
DIJEBAK UNTUK MENGEMIS
Kerinduan untuk bersekolah terus mendesak hati Aslimah cilik yang waktu itu telah berusia delapan tahun. Tidak disangka, tawaran untuk bersekolah kembali itu datang dari saudara ipar dari salah satu tetangganya. Menurut tetangganya itu, sang ipar bersedia mengantar Aslimah ke sekolah dengan mobilnya. Hati Aslimah girang bukan main mendengar berita ini.

Namun, Aslimah menjadi sangat bingung saat mengetahui bahwa bukannya ke sekolah, ia malah diantar ke pasar. Kakak ipar tetangganya menyuruhnya duduk di pintu pasar dengan kantong plastik di hadapannya. Sebagian orang yang berjalan melewatinya kemudian memberinya uang. Sehari, ia bisa mengumpulkan sampai Rp25.000. Rupanya, Aslimah dijebak dan dipekerjakan sebagai pengemis!

Kondisi ini berlangsung sebulan tanpa sepengetahuan keluarganya. Aslimah  masih terlalu kecil untuk protes atau melawan. Ia juga takut untuk melaporkan hal ini kepada keluarganya karena diancam. Padahal, hati kecilnya berontak. Ia tak mau mengemis. Ia malu bila ada teman yang melihatnya. Suatu hari Aslimah pernah mencoba mogok, tak mau turun dari mobil. Ia beralasan sedang sakit perut. Akibatnya, Aslimah malah dimarahi. Ia pun tak berani melakukannya lagi.

Untunglah, suatu hari ada seorang kerabat yang melihatnya menangis di depan pasar. Si kerabat lalu memberi tahu kakak Aslimah. Kepada kakaknya, Aslimah akhirnya berterus terang tentang kondisinya. “Tapi Kakak jangan kasih tahu Ibu. Ibu cuma tahu aku akan disekolahkan. Nanti kalau tahu, Ibu sedih,” pesan Aslimah. Berkat campur tangan kakaknya, ‘petualangan’ mengemis Aslimah pun berakhir.

Segala kesulitan hidup ini sempat membuat Aslimah kecil putus asa dan terpikir untuk mengakhiri hidupnya. Suatu hari, ia melihat seekor kambing makan rumput. Entah bagaimana, ia sekonyong-konyong berpikir, “Mungkin kalau makan rumput, aku bisa mati.” Aslimah pun mulai melahap rumput. Makin banyak,  makin kenyang, tetapi ia tak kunjung mati. Kini, bila mengenang kejadian itu, Aslimah tertawa terbahak-bahak. “Untunglah, saya dulu tidak pintar,” kenangnya, geli.

Kegagalannya untuk mengakhiri hidup ini menerbitkan kepasrahan dalam diri Aslimah. Lambat laun, ia percaya bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik pada hamba-Nya. Keinginan bunuh diri pun tak pernah lagi hinggap di benaknya. Ia juga berusaha untuk mandiri. Sewaktu orang tuanya pergi bertani, Aslimah memasak sendiri di rumah. Saat itu, keluarga Aslimah masih memasak dengan tungku dan kayu bakar. Ketika orang tuanya tahu, mereka melarang Aslimah memasak.

“Mereka takut saya tersiram air panas atau nyemplung ke tungku,” ungkapnya, mengenai alasan kekhawatiran orang tuanya saat itu. Tetapi, setelah beberapa kali mencoba, ia bisa mengembangkan caranya sendiri. Kata kuncinya adalah, sedikit demi sedikit dan perlahan. Saat mengambil air misalnya, ia tidak langsung mengambil satu ember, tapi dengan perlahan ia memindahkan air segayung demi segayung.

“Memang pekerjaan jadi lebih lama, tetapi, toh, akhirnya selesai juga. Jadi, sejak dulu saya sudah terpikir ingin membantu orang tua, walau kondisi saya begini,” tutur Aslimah.
           
Aslimah juga kembali ke sekolah dan berhasil menamatkan pendidikan dasarnya. Setelah lulus SD di Kudus, ia mendapat tawaran dari Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKUM) untuk masuk SMP berasrama di Yogyakarta. Setelah itu ia kembali ke Kudus untuk menamatkan pendidikan di SMA.
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?